El Niño Terkuat dalam Sejarah Modern Mengintai Indonesia dan Asia Tenggara, Ini Dampaknya

Reporter : Abidah
Kamis, 24 September 2026 06:00
El Niño Terkuat dalam Sejarah Modern Mengintai Indonesia dan Asia Tenggara, Ini Dampaknya
Fenomena El Nino yang pada 2026 ini disebut yang terbesar dalam sejarah dan akan memiliki dampak yang luar biasa besar.

DREAM.CO.ID - Musim dingin di belahan bumi utara tahun ini berpotensi disertai fenomena iklim yang jarang terjadi: El Niño yang diperkirakan menjadi yang terkuat sejak pencatatan dimulai. Fenomena ini muncul di atas tren pemanasan global jangka panjang, sehingga menciptakan kombinasi yang oleh Peter Huybers, Ketua Departemen Ilmu Bumi dan Planet Harvard, disebut sebagai " tahun yang aneh" .

Dilansir dari Sala Institute Harvard, Badan Kelautan dan Atmosfer AS (NOAA) memperkirakan peluang 75 persen bahwa El Niño periode Oktober-Desember 2026 akan lebih panas dan lebih kuat dibanding kejadian mana pun sejak 1950.

El Niño terjadi saat angin pasat yang biasanya mendorong air hangat Pasifik dari timur ke barat, menuju Indonesia dan Australia, melemah. Air hangat lantas bergerak balik ke timur menuju Amerika Selatan, membawa hujan bersamanya, sementara kawasan barat Pasifik, termasuk Indonesia, justru kehilangan pasokan uap air yang biasanya memicu hujan lebat.

1 dari 3 halaman

Indonesia: Kebakaran Gambut dan Kabut Asap

Dampaknya sudah terasa nyata di Indonesia bulan-bulan terakhir. Kebakaran melanda Sumatra dan Kalimantan, merusak lahan gambut dan menyelimuti negara dengan asap tebal hingga penerbangan tertunda, taman ditutup, dan ribuan sekolah diliburkan akibat lonjakan kasus asma dan infeksi pernapasan. BMKG mencatat lebih dari 23.000 titik api terdeteksi satelit dalam delapan bulan terakhir, membuat 2026 melampaui tingkat kebakaran 2015.

Lahan gambut Indonesia rentan terbakar karena kondisinya sudah terganggu jauh sebelum musim kering tiba. Dilansir dari Carbon Brief, Dr. Nisa Novita dari lembaga lingkungan Yayasan Konservasi Alam Nusantara menjelaskan bahwa gambut yang terdegradasi dan dikeringkan lewat pembangunan kanal untuk pertanian membuat permukaan air tanah turun, sehingga gambut mengering dan mudah terbakar, terutama saat musim kemarau atau El Niño seperti sekarang. Berbeda dari kebakaran di ekosistem kering biasa, api gambut bisa membara di bawah tanah, membuat lapisan tanah itu sendiri menjadi bahan bakar yang terus tersedia.

Kabut asap ini tidak berhenti di perbatasan Indonesia. Krisis kabut asap lintas negara 2026 masih berlangsung sejak 1 Agustus, memengaruhi Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura, hingga Vietnam.

Fenomena El Niño super yang diperkirakan terjadi memperparah kekeringan dan penyebaran asap kebakaran, diperkuat oleh Dipol Samudra Hindia positif yang membuat vegetasi dan gambut makin rentan terbakar pada September-Oktober. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim bahkan meminta seluruh instansi terkait segera menjalankan operasi modifikasi cuaca skala besar untuk menghentikan kabut asap lintas batas tersebut.

2 dari 3 halaman

Bukan Cuma Asap, Tapi Juga Ancaman Pangan

Di luar kebakaran, El Niño menekan sektor pertanian di seluruh kawasan. Indonesia dan Malaysia menghadapi risiko tinggi terhadap pertanian serta kebakaran dan kabut asap, sementara berkurangnya curah hujan bisa membebani lahan pertanian, pasokan air, dan pembangkit listrik tenaga air di Filipina.

El Niño mengancam produksi komoditas regional utama seperti beras dan kelapa sawit, berpotensi mendongkrak harga pangan di tengah tekanan ekonomi yang sudah dihadapi konsumen. Pemerintah Indonesia merespons dengan mendistribusikan sekitar 100.000 pompa air, merehabilitasi 900.000 hektare jaringan irigasi, dan menyebarkan benih tahan kekeringan.

Wilayah Asia Tenggara lain menghadapi kerawanan serupa lewat jalur berbeda. Vietnam dan Thailand terpapar lewat sektor beras, kopi, dan ekonomi air Sungai Mekong, Filipina lewat tekanan kekeringan pada lahan pertanian dan waduk, sementara Malaysia dan Singapura menghadapi limpahan kabut asap jika kebakaran di Indonesia meluas.

Tahun 2015-2016 menjadi acuan modern: kejadian El Niño yang tercatat rekor saat itu membuat Thailand mengalami kekeringan terburuk dalam beberapa dekade, dengan ladang tebu ditinggalkan dan waduk menyusut drastis, sekaligus mendorong Delta Mekong ke krisis intrusi garam bersejarah pada awal 2016.

 

3 dari 3 halaman

Kenapa Sulit Diprediksi Penuh

Peneliti belum sepenuhnya paham apa yang memicu satu peristiwa El Niño tertentu. Ilmuwan justru lebih memahami perkembangan El Niño setelah fenomena itu berjalan dibanding penyebab awal munculnya. Setelah gumpalan air hangat mulai bergerak ke timur, prediksi menjadi jauh lebih akurat, umumnya enam hingga dua belas bulan ke depan. Yang belum terjawab adalah apakah perubahan iklim membuat El Niño sendiri menjadi lebih sering atau lebih kuat dari waktu ke waktu, karena rekaman data instrumental masih terlalu pendek untuk memastikannya.

Bagi Indonesia dan tetangganya, ketidakpastian itu tidak mengubah satu hal yang sudah pasti: musim kering tahun ini datang lebih keras dari biasanya, dan dampaknya sudah terasa jauh sebelum puncaknya tiba.

Beri Komentar