© 2026 Kaki Palsu (Pexels.com-MART PRODUCTION)
DREAM.CO.ID - Duduk di depan pintu, di atas kursi bundar, wajah Subhan terlihat riang. Dia terus bernyanyi, sesekali bibirnya mengembang, tersenyum lebar.
Di paha kiri, tersandar kaki palsu baru. Belum di-finishing. Bercorak warna-warni, mirip batik. Sementara, tangannya sibuk, memasang kaos kaki putih panjang ke kaki kanan, yang sudah diamputasi di atas pergelangan.
Dipasanglah kaki palsu itu, dimasukkan hingga bawah lutut. Tak ada pengikat, prostetik itu memang tanpa tali. Meski begitu bisa terpasang kuat karena bekerja dengan sistem vakum. Setelah merasa nyaman, Subhan pun berjalan. Tak ada kesulitan, terlihat seperti orang kebanyakan.
Subhan kehilangan sebagian kaki kanan pada 2018. Dia harus menjalani amputasi setelah mengalami cedera. “ Saya mengalami kecelakaan sebelum Gempa Lombok, sekitar 2018,” kata Subhan dalam video yang diunggah akun Instagram @yayasankakikita.
Siang itu, Subhan mendapat bantuan kaki palsu yang disalurkan oleh Yayasan Kaki Kita Senusantara (YKKS). Dan kaki palsu itu terbuat dari sampah plastik. Meski terbuat dari limbah, kaki palsu itu terlihat kokoh dan indah.

***
YKKS memang mengembangkan kaki palsu berbahan plastik. Mereka mengubah limbah menjadi barang bernilai guna. Sampah yang selama ini jadi pangkal persoalan lingkungan disulap menjadi barang bermanfaat sosial.
Selain di Bali, kaki-kaki palsu berjalan hingga ke sejumlah daerah, seperti Palu dan Lombok. Produk itu didonasikan dengan sokongan pihak lain. Dan pekan ini, mereka membawa kaki palsu itu ke hadapan Menteri Lingkungan Hidup.
“ Dengan dua contoh kaki palsu yang sudah dikerjakan ini, menunjukkan bahwa material sampah plastik bisa bermanfaat dan bernilai ekonomis sepanjang ekosistem diatur dan dikelola dengan baik,” kata Ketua Dewan Pembina YKKS, Putu Ivan Yunatana.
Kaki palsu buatan YKKS itu terbuat dari tutup botol berbahan minyak bumi (HDPE) dan campuran plastik kemasan multilayer (MLP) dengan HDPE. Selain memproduksi kaki palsu, mereka juga mengubah sampah menjadi refuse-derived fuel (RDF) atau bahan bakar dari limbah.
Plastik kemasan saat ini menjadi keluhan banyak pendaur ulang. Sebab, jenis MLP itu dianggap tidak mudah diolah oleh pelaku daur ulang. “ Namun kami bisa mengolah, salah satunya menjadi kaki palsu yang prioritasnya dibagikan kepada penyandang disabilitas yang tidak mampu,” tutur Putu Ivan Yunatana.
Dibutuhkan setidaknya lima kilogram sampah plastik untuk membuat satu kaki palsu. Setelah diproses, bahan itu menyusut menjadi dua sampai tiga kilogram saja. Penggunaan plastik daur ulang juga membuat corak unik pada kaki palsu.
“ Corak kreativitasnya dari pekerja. Corak terbentuk dari warna asli sampah. Misalnya putih dengan bercak hitam, menggunakan sampah putih dan hitam,” jelas Ketua YKKS, Made Aditiasthana.
***

Selain manfaat sosial, apa yang dikerjakan YKKS ini juga turut menjadi jawaban atas masalah lain yang tak kalah besar: lingkungan. Semua orang sudah mafhum, plastik menjadi sumber pencemar bagi bumi ini. Harga murah dan praktis membuatnya jadi primadona. Diproduksi massal.
Masalahnya, plastik-plastik itu sulit terurai. Kita sudah membaca cerita yang sudah-sudah, banyak kemasan ditemukan dalam bentuk sampah dengan tanggal produksi puluhan tahun silam. Dan semua masih utuh.
Karena itulah daur ulang seperti yang dilakukan YKKS ini menjadi penting. Setidaknya untuk mengurangi sampah plastik yang terus menggung dan menyebar hingga ke tengah samudera.
Mari kita lihat data di Kabupaten Buleleng, tempat YKKS bermukim. Dinas Lingkungan Hidup setempat mencatat sampah plastik mencapai 14,69 persen atau 69,79 ton pada 2022.
Di tingkat Provinsi Bali, volumenya jauh lebih besar. Data tahun lalu mencatat timbulan sampah di Pulau Dewata mencapai 3.436 ton per hari. Dari angka itu, 17 persen diantaranya berupa limbah plastik.
Sehingga, daur ulang yang dilakukan oleh YKKS itu menjadi salah satu aksi nyata untuk mengurangi limbah plastik. Selain aksi sosial, produksi kaki palsu dari sampah plastik itu juga menjadi cara mengurangi beban alam dari polusi.
***

Dan mari kembali pada Subhan yang sedang riang itu. Kaki palsu yang dibikin YKKS itu, meskipun belum tahap finishing, sudah bisa digunakan, mampu menopang tubuhnya. Dia mampu berjalan seperti orang kebanyakan dengan nyaman.
Subhan bukan satu-satunya penerima bantuan. Donasi serupa juga telah disampaikan ke banyak orang. I Made Murata juga menerima kaki palsu bikinan YKKS. Kaki kakek 84 tahun asal Gianyar itu diamputasi pada 2020 akibat diabetes. Sejak itu, dia menghabiskan hari-harinya di atas kursi roda.
Sampai datanglah kaki palsu YKKS. Disalurkan atas donasi sebuah perusahaan. Made Murata yang sebelumnya hanya duduk di atas kursi roda itu bisa berdiri. Dia bahkan bisa berjalan, meski masih tertatih menggunakan bantuan tongkat.
Kaki-kaki palsu dari limbah plastik itu telah membantu banyak orang. Setiap langkah kaki palsu itu menjadi harapan, bukan hanya buat orang yang menggunakannya, melainkan seluruh umat karena beban alam akibat polusi menjadi berkurang.
Sehingga, bukan hanya Subhan dan Made Murata yang bahagia, semua orang pun tersenyum karenanya. Satu kaki palsu itu punya dua harapan: satu untuk manusia, satu lagi bagi bumi.
Advertisement

Mengapa Rutinitas Harian Penting Saat Hidup Penuh Stres dan Ketidakpastian?

Mengapa Kita Ragu Menghubungi Teman Lama? Ini Alasan Psikologis dan Risikonya


Kebiasaan Sebelum Tidur Ini Bisa Bikin Anda Makin Sulit Terlelap


PAZZION Buka Toko Pertama di Pekanbaru, Perluas Kehadiran Merek Alas Kaki Singapura di Indonesia

SiteMinder Luncurkan Dynamic Commerce Engine untuk Bantu Hotel Optimalkan Distribusi dan Pendapatan