Belajar dari SBY, Begini Cara Ubah Janji Kampanye Menjadi Program Nyata Pemerintahan
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
© Pexels.com/Defrino Maasy
DREAM.CO.ID - Sebuah ponsel dengan merek dan spesifikasi yang sama umumnya memiliki harga resmi yang relatif serupa ketika dijual melalui jaringan ritel nasional. Sabun, sampo, deterjen, dan berbagai barang bermerek lainnya juga beredar di pasar yang sama, meskipun harga akhirnya dapat berbeda karena promosi, distribusi, dan kebijakan penjual. Namun, ketika membandingkan penghasilan pekerja di berbagai daerah, perbedaannya bisa jauh lebih besar daripada selisih harga barang yang mereka beli.
Pada 2026, Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta ditetapkan sebesar Rp5.729.876 per bulan, sedangkan UMP Jawa Barat sebesar Rp2.317.601. Perbedaannya mencapai Rp3.412.275, atau sekitar 2,47 kali lipat. Angka tersebut merujuk pada UMP, bukan seluruh standar upah minimum di setiap kabupaten dan kota. Sebab, daerah tertentu di Jawa Barat memiliki Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) yang berbeda dari UMP provinsinya. Data UMP 2026 tersebut tercantum dalam publikasi Badan Pusat Statistik.
Perbedaan itu memunculkan pertanyaan: jika masyarakat di berbagai daerah membeli banyak produk dari pasar nasional yang sama, mengapa standar upah minimum mereka bisa berbeda begitu jauh? Apakah Indonesia lebih baik memiliki satu upah minimum yang sama untuk seluruh pekerja, atau tetap menggunakan UMP dan UMK yang disesuaikan dengan kondisi daerah?
Jawabannya berkaitan dengan cara upah minimum ditetapkan, biaya hidup, produktivitas, struktur ekonomi, dan kemampuan perusahaan membayar pekerja. Harga barang bukan satu-satunya faktor yang menentukan besaran upah.
Kesan bahwa harga barang di seluruh Indonesia relatif seragam tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak berlaku untuk semua jenis barang.
Produk elektronik dengan harga resmi nasional atau barang konsumsi bermerek memiliki struktur harga yang relatif terintegrasi. Produsen, distributor, dan jaringan ritel dapat menggunakan harga acuan yang sama untuk berbagai wilayah. Meski demikian, ongkos pengiriman, ketersediaan produk, promosi, dan persaingan antartoko tetap bisa menimbulkan selisih harga.
Kondisi berbeda terlihat pada kebutuhan sehari-hari, terutama bahan pangan, perumahan, dan jasa. Harga beras, ikan, sayuran, sewa tempat tinggal, hingga transportasi dapat berbeda menurut lokasi, ketersediaan pasokan, dan biaya distribusi.
Badan Pusat Statistik, melalui publikasi Perdagangan Antar Wilayah Indonesia 2024 dan Harga Konsumen Nasional Beberapa Barang dan Jasa 2025, menggambarkan adanya perbedaan perdagangan dan harga komoditas antardaerah. Dengan demikian, pasar barang memang saling terhubung, tetapi biaya untuk memenuhi kebutuhan hidup tidak identik di semua wilayah.
Namun, persoalannya bukan sekadar apakah barang yang dijual di Jakarta lebih mahal daripada di daerah lain. Bahkan ketika harga produk tertentu hampir sama, kemampuan untuk membelinya dapat berbeda karena pendapatan pekerja tidak sama. Harga ponsel yang mencapai beberapa juta rupiah, misalnya, membutuhkan porsi penghasilan bulanan yang jauh lebih besar bagi pekerja dengan upah Rp2,3 juta dibandingkan mereka yang memperoleh Rp5,7 juta.
Istilah upah minimum regional atau UMR masih umum dipakai masyarakat. Dalam sistem resmi Indonesia, istilah yang digunakan adalah UMP untuk tingkat provinsi dan UMK untuk tingkat kabupaten/kota. UMK dapat ditetapkan gubernur untuk daerah yang memenuhi ketentuan dan nilainya harus lebih tinggi daripada UMP yang berlaku.
Perbedaan besaran upah berkaitan dengan kondisi ekonomi dan ketenagakerjaan. Daerah yang memiliki kegiatan industri, perdagangan, atau jasa dengan produktivitas dan permintaan tenaga kerja tinggi bisa mempunyai kemampuan ekonomi berbeda dari wilayah yang kesempatan kerjanya lebih terbatas.
Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2025 tentang Pengupahan mengatur formula penyesuaian upah minimum dengan mempertimbangkan inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta indeks tertentu yang disimbolkan dengan alfa. Rentang nilai alfa ditetapkan antara 0,50 dan 0,90. Penetapannya melibatkan pertimbangan dewan pengupahan mengenai kepentingan pekerja dan perusahaan, perbandingan upah minimum dengan kebutuhan hidup layak, serta kondisi ketenagakerjaan.
Artinya, upah minimum tidak dihitung dengan menyamakan harga setiap barang yang dibeli pekerja. Formula penyesuaiannya juga memperhitungkan perkembangan ekonomi dan kondisi pasar kerja.
Di sinilah muncul persoalan yang perlu diperhatikan. Jika selisih harga kebutuhan antardaerah tidak sebesar selisih upah minimumnya, pekerja di wilayah berupah rendah bisa menghadapi kesulitan daya beli. Sebaliknya, menetapkan upah seragam yang terlalu tinggi tanpa mempertimbangkan kemampuan usaha juga dapat menimbulkan tantangan bagi perusahaan di daerah dengan produktivitas dan kegiatan ekonomi yang lebih rendah.
Indonesia bukan satu-satunya negara yang harus memilih antara standar upah nasional dan penyesuaian berdasarkan wilayah. Sejumlah negara menggunakan satu upah minimum nasional, sementara negara lain menggabungkan standar nasional dengan ketentuan yang dapat berbeda menurut daerah atau sektor.
Inggris menggunakan upah minimum nasional dengan tarif yang dibedakan berdasarkan usia. Sejak April 2026, tarif National Living Wage untuk pekerja berusia 21 tahun ke atas adalah 12,71 pound sterling per jam. Pekerja berusia 18–20 tahun memiliki tarif minimum tersendiri sebesar 10,85 pound sterling per jam, sedangkan pekerja di bawah 18 tahun dan peserta magang tertentu memiliki tarif berbeda. Dengan model ini, standar minimum tidak ditentukan berdasarkan provinsi atau kota tempat seseorang bekerja, tetapi tetap memperhitungkan kategori pekerja.
Jerman juga menerapkan upah minimum berdasarkan undang-undang yang berlaku secara nasional. Sejak 1 Januari 2026, tarif minimum umum di negara tersebut adalah 13,90 euro bruto per jam.
Standar ini berlaku di seluruh negeri, dengan pengecualian tertentu yang diatur dalam ketentuan hukum. Model Jerman menunjukkan bahwa suatu negara dapat menetapkan satu batas minimum nasional meskipun kondisi ekonomi dan harga tempat tinggal di tiap wilayah tidak sepenuhnya sama.
Australia memiliki upah minimum nasional, tetapi banyak pekerja dilindungi standar sektoral yang lebih khusus. Per 1 Juli 2026, National Minimum Wage ditetapkan sebesar 26,44 dolar Australia per jam atau 1.004,90 dolar Australia per minggu untuk pekerja dewasa dalam sistem nasional yang tidak tercakup oleh award atau perjanjian kerja terdaftar.
Namun, sebagian besar pekerja Australia tercakup oleh award, yaitu ketentuan yang mengatur upah dan kondisi kerja untuk industri atau pekerjaan tertentu. Karena itu, tarif yang berlaku tidak selalu berhenti pada satu angka minimum nasional.
Amerika Serikat menerapkan kombinasi standar federal dan aturan negara bagian. Upah minimum federal untuk pekerja yang tercakup dalam ketentuan tersebut masih sebesar 7,25 dolar AS per jam. Namun, banyak negara bagian menetapkan upah minimum yang lebih tinggi. Per 1 Juli 2026, misalnya, upah minimum California tercatat 16,90 dolar AS per jam dan Washington DC 18,40 dolar AS per jam. Jika pekerja tercakup oleh aturan federal dan aturan negara bagian dengan tarif berbeda, tarif yang lebih tinggi harus dipenuhi.
Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menjelaskan bahwa upah minimum nasional didasarkan pada gagasan bahwa seluruh pekerja berhak mendapat perlindungan upah minimum yang sama. Namun, ILO juga mencatat bahwa harga barang dan jasa serta kondisi pasar kerja bisa berbeda cukup besar di antara wilayah dalam satu negara. Karena itu, sejumlah negara besar memilih menggabungkan standar nasional dengan kesempatan menetapkan upah minimum regional yang lebih tinggi.
Dari sisi pekerja, satu upah minimum yang sama di seluruh Indonesia memiliki keunggulan berupa standar perlindungan yang lebih mudah dipahami. Pekerja di daerah dengan upah minimum rendah tidak perlu bergantung sepenuhnya pada kondisi ekonomi setempat untuk menentukan batas upah yang mereka terima. Satu standar nasional juga dapat membuat kesenjangan nominal upah minimum antardaerah menjadi lebih kecil.
Namun, satu angka nasional membawa persoalan lain. Jika nilainya ditetapkan rendah agar dapat diterapkan perusahaan di daerah dengan produktivitas terbatas, standar tersebut mungkin tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pekerja di kota berbiaya hidup tinggi. Sebaliknya, jika nilainya ditetapkan tinggi agar mendekati kebutuhan hidup di kota besar, sebagian perusahaan di daerah yang kemampuan ekonominya lebih rendah mungkin menghadapi beban penyesuaian yang lebih berat.
Sistem UMP dan UMK memberi ruang untuk memperhitungkan perbedaan tersebut. Pemerintah daerah dapat menetapkan standar yang mencerminkan kondisi setempat, sementara UMK memungkinkan perbedaan kebutuhan dan kegiatan ekonomi di dalam satu provinsi ikut dipertimbangkan. Meski begitu, sistem ini juga memiliki tantangan: upah minimum di daerah berpendapatan rendah dapat tertinggal, sekalipun kebutuhan dasar pekerjanya tidak selalu jauh lebih murah.
Karena itulah, pilihan yang lebih relevan untuk Indonesia bukan semata-mata menghapus UMP dan UMK demi satu angka nasional, tetapi memperkuat sistem berjenjang dengan standar nasional yang transparan. Pemerintah dapat menjaga formula dan perlindungan dasar secara nasional, sedangkan penetapan UMP dan UMK tetap memperhitungkan harga kebutuhan pokok, biaya tempat tinggal, perkembangan ekonomi, produktivitas, dan kondisi pasar kerja daerah.
Advertisement
Bagaimana Industri Pangan Mengurangi Limbah? Ini Strategi yang Dilakukan

Mengapa Sampah dari Industri Makanan Berbahaya bagi Lingkungan?

Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran


WNI Diduga Tewas saat Jadi Tentara Rusia, Apakah Kewarganegaraan Indonesia Bisa Hilang?



Starvision Rilis Trailer dan Poster Dewi Siluman Ular, Angkat Kisah Pernikahan Manusia dengan Jin

Belajar dari SBY, Begini Cara Ubah Janji Kampanye Menjadi Program Nyata Pemerintahan

Harga Rumah Makin Tak Terjangkau, Mengapa Terus Melonjak Dibanding Pendapatan?

Hobi Membuat Kue Ternyata Punya 7 Manfaat bagi Kesehatan, Bukan Sekadar Mengisi Waktu Luang