© Pexels.com/Gustavo Fring
DREAM.CO.ID - Istilah ultra-processed food (UPF) atau makanan ultra-proses semakin sering muncul dalam pembicaraan tentang pola makan sehat. Banyak orang kemudian menganggap bahwa setiap makanan yang dikemas, memiliki umur simpan panjang, atau melewati proses industri otomatis termasuk UPF. Padahal, klasifikasi makanan tidak sesederhana itu.
Dalam sistem NOVA, pengelompokan makanan didasarkan terutama pada tingkat dan tujuan pengolahan, bukan sekadar apakah makanan tersebut dibuat di pabrik atau dijual dalam kemasan. Karena itu, beberapa makanan yang terlihat " olahan" sebenarnya dapat masuk kategori makanan olahan minimal atau makanan olahan biasa.
Berikut beberapa makanan yang sering disalahpahami sebagai UPF.
1. Sayuran Beku
Sayuran beku seperti brokoli, wortel, jagung, atau kacang polong sering dianggap kurang sehat karena sudah melalui proses industri. Padahal, jika produk tersebut hanya terdiri dari sayuran yang dibersihkan, dipotong, lalu dibekukan tanpa tambahan bahan lain, proses tersebut tidak membuatnya otomatis menjadi UPF.
Pembekuan justru merupakan salah satu cara untuk mempertahankan makanan agar lebih awet. Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan sekadar tulisan " frozen" pada kemasan, melainkan daftar bahan dan proses pengolahannya.
Sayuran beku yang hanya berisi sayuran berbeda dengan produk sayuran beku yang sudah dilengkapi saus, keju, atau berbagai bahan tambahan.
2. Buah dan Sayuran Kalengan
Makanan dalam kaleng juga sering langsung dicap sebagai ultra-proses. Padahal, buah atau sayuran kalengan dapat memiliki tingkat pemrosesan yang berbeda.
Misalnya, tomat kalengan yang hanya mengandung tomat dan mungkin sedikit garam tidak sama dengan produk makanan kalengan yang telah ditambahkan berbagai bahan untuk menghasilkan rasa, tekstur, atau karakteristik tertentu.
Karena itu, kemasan kaleng bukan penentu tunggal apakah suatu makanan termasuk UPF.
3. Roti Sederhana
Roti sering menjadi contoh yang membingungkan. Sebagian roti kemasan memang dapat masuk kategori UPF, tetapi tidak semua roti demikian.
Roti yang dibuat dari bahan dasar seperti tepung, air, ragi, dan garam melalui proses fermentasi dan pemanggangan tidak otomatis menjadi makanan ultra-proses hanya karena dijual dalam kemasan.
Sebaliknya, roti dengan formulasi yang jauh lebih kompleks dan mengandung berbagai bahan tambahan untuk memperpanjang umur simpan, memberikan tekstur tertentu, atau meningkatkan cita rasa dapat masuk kategori berbeda.
Artinya, kata " roti" saja belum cukup untuk menentukan klasifikasinya.
4. Keju
Keju merupakan produk yang mengalami proses pengolahan dari susu. Namun, " diproses" tidak sama dengan " ultra-diproses" .
Dalam klasifikasi NOVA, pengolahan makanan perlu dilihat secara keseluruhan. Keju tradisional yang dibuat melalui proses seperti fermentasi, penggumpalan, pemisahan whey, dan pematangan tidak otomatis tergolong UPF.
Namun, produk berbahan dasar keju yang diformulasikan dengan berbagai bahan tambahan untuk menghasilkan karakteristik tertentu dapat memiliki klasifikasi berbeda.
Jadi, jangan menyamakan semua makanan yang mengalami fermentasi atau pengolahan dengan makanan ultra-proses.
5. Selai Kacang
Selai kacang juga sering dicurigai sebagai UPF karena teksturnya sangat berbeda dari kacang utuh. Padahal, selai kacang yang hanya dibuat dari kacang tanah yang digiling dapat memiliki proses yang relatif sederhana.
Persoalannya muncul ketika produk mengandung tambahan seperti gula, minyak tertentu, garam dalam jumlah tinggi, atau berbagai bahan lain. Karena itu, membaca daftar bahan menjadi langkah yang jauh lebih berguna daripada sekadar melihat apakah produknya berbentuk pasta atau dikemas dalam stoples.
6. Yogurt
Yogurt merupakan makanan yang melalui proses fermentasi. Namun, proses fermentasi tidak membuatnya otomatis menjadi UPF.
Yogurt tawar yang dibuat dari susu dan kultur bakteri merupakan contoh produk yang prosesnya relatif sederhana. Sebaliknya, yogurt dengan banyak tambahan gula, perisa, pemanis, pewarna, atau bahan lain dapat memiliki klasifikasi yang berbeda.
Karena itu, ketika membeli yogurt, perhatikan daftar bahan dan kandungan gulanya, bukan hanya label " yogurt" .
7. Oatmeal atau Oat Instan
Oat sering dianggap UPF hanya karena bentuknya sudah jauh berbeda dari biji gandum utuh. Padahal, penggilingan dan pemrosesan dasar tidak sama dengan ultra-processing.
Oat yang hanya dipotong, digiling, atau dipipihkan dapat tetap berada dalam kategori pemrosesan yang lebih sederhana. Yang perlu diperhatikan adalah produk oat dengan tambahan gula, perisa, krimer, pemanis, dan bahan lain dalam formulasi yang kompleks.
Dengan kata lain, oat instan tidak otomatis sama dengan sereal sarapan ultra-proses.
Jangan Menilai Makanan Hanya dari Kemasan
Kesalahpahaman terbesar tentang UPF adalah menganggap semua makanan kemasan sebagai makanan ultra-proses. Padahal, sistem NOVA melihat bagaimana makanan diproses dan untuk tujuan apa, sehingga dua produk yang terlihat serupa dapat memiliki klasifikasi berbeda.
Karena itu, konsumen sebaiknya tidak hanya melihat bagian depan kemasan. Periksa daftar bahan, bentuk produk, serta apakah makanan tersebut telah diformulasikan dengan berbagai bahan tambahan yang umumnya digunakan dalam produksi makanan ultra-proses.
Yang tidak kalah penting, label UPF bukan berarti sebuah makanan otomatis " beracun" atau harus sama sekali dihindari. Pola makan secara keseluruhan tetap lebih penting daripada menilai satu jenis makanan secara terpisah.
Jadi, daripada bertanya " Apakah makanan ini kemasan?" , pertanyaan yang lebih tepat adalah: " Seberapa jauh makanan ini diproses dan bahan apa saja yang ditambahkan ke dalamnya?" Dengan memahami perbedaan tersebut, kita dapat membuat pilihan makanan berdasarkan informasi yang lebih akurat, bukan sekadar ketakutan terhadap kata " proses" .
Advertisement

Garis Wallace: Batas Tak Kasat Mata yang Membelah Flora dan Fauna Indonesia

9 Strategi Meningkatkan Produktivitas dan Berhenti Membuang Waktu Percuma

4 Tes Sederhana untuk Mengetahui Apakah Anda Menua dengan Baik

6 Metode Seduh Kopi yang Paling Bisa Memancing Masalah Kolesterol

Budaya Ngopi di Indonesia Serta Sejarah Masuk Minuman Hitam Nan Nikmat Ini

Mengapa Orang Bersepeda Lebih Banyak Menggunakan Pakaian yang Ketat?

Tak Peduli Laki-Laki atau Perempuan, Ini Alasan Mengapa Setiap Orang Harus Bisa Memasak