Dunia Endgame Gita Wirjawan

Reporter : Eko
Kamis, 1 Oktober 2026 19:27
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ini tulisan kedua serial Dunia Endgame Gita Wirjawan. Tentang dunia yang berlari eksponensial dan seberapa cepat kita menyesuaikan diri. Gagasan dalam dialog di Megawati Institute ini penting diikuti.

DREAM.CO.ID - Hajatan itu berlangsung di Jalan Proklamasi Jakarta. Beberapa waktu lalu. Digelar oleh Megawati Institute. Ini sebuah pusat kajian strategis yang didirikan oleh Presiden ke-5 Republik Indonesia: Megawati Soekarnoputri. Institut ini sering mengelar dialog. Juga kajian. Mengundang para ahli. Beragam topik dibahas. Dari masalah sejarah, politik, hingga ekonomi.

Beberapa waktu lalu, institut itu menggelar dialog kebangsaan. Hadir dalam acara itu sejumlah aktivis, dan para tokoh bangsa seperti Mutia Farida Hatta- mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan- yang juga putri sulung mantan Wakil Presiden Moehammad Hatta.

Dialog dipandu oleh Direktur Eksekutif Megawati Institute Hilmar Farid, seorang aktivis, sejarahwan, yang pernah menjadi Direktur Jenderal Kebudayaan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Gita Wirjawan didapuk sebagai pembicara utama.

Gita adalah Mantan Menteri Perdagangan pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Setelah menepi dari dunia politik dan bisnis, dia memilih membenam diri pada dunia pendidikan. Podcast Endgame yang dibesutnya ditonton jutaan orang. Dari berbagai negara. Wawancara para ilmuwan dari beragam latar.

Meraih master dari Harvard University, Gita kini kerap keliling Indonesia mengajar anak-anak muda. Di kampus. Di komunitas. Dia juga bolak-balik ke Amerika Serikat menjadi tenaga pengajar di Standford University.

Kami sarikan dialog ini dari penjelasan Gita Wirjawan, untuk Anda.

Gita Wirjawan (Instagram @gwirjawan)

Dunia berubah secara eksponensial

Belakangan ini dunia melompat secara eksponensial. Terjadi di beberapa bidang. Yang menentukan nasib kita. Memaksa kita berlari. Atau tertinggal jauh. Bahkan mungkin mati langkah.

Lompatan perubahan itu terlihat dalam politik, ekonomi, teknologi, dan iklim. Mari kita melihat bagaimana lompatan itu bagai dua sisi mata uang. Manusia bertemu kemajuan yang tak terduga. Sekaligus kemunduruan tak terkira.

Iklim

Pada Protokol Kyoto dunia berasumsi bahwa hingga tahun 2050, kenaikan temperatur bumi sekitar 1,5 derajat Celsius.

Tapi dari sejumlah sahabat saya, termasuk para ahli fisika yang mendalami masalah ini, tahun 2050 itu kenaikan sudah mencapai kurang lebih 3,5 derajat Celsius. Ini sesuatu yang benar-benar eksponensial. Mencemaskan bagi bumi kita.

Geopolitik

Lompatan perubahan itu juga kita bisa lihat dari sisi geopolitik. Semenjak perang terbuka antara Amerika-Israel melawan Iran meletus tanggal 28 Februari 2026, kita seperti dikejutkan oleh Iran yang tak kunjung runtuh. Tidak seperti perang-perang sebelumnya, yang dimotori Amerika Serikat. Lawan mudah keok.

Kebanyakan kita mengira, terutama rakyat Amerika, bahwa negeri Iran itu tidak akan bertahan lebih dari dua minggu. Amerika dan Israel dengan teknologi militer yang canggih akan mudah menekuk Iran.

Keraguan kemudian merayap perlahan. Saya sendiri saat itu berkeliling beberapa kampus di Amerika menyampaikan keraguan itu. Bahwa Iran mungkin sulit ditekuk dalam dua minggu. Dan hari ini kita terkejut. Iran masih bertahan.

Gita Wirjawan (Instagram @gwirjawan)

Belakangan, kalau kita simak isi perjanjian kedua belah pihak, justru memperlihatkan bahwa Iran adalah negara super power yang ke empat di dunia. Revisi perjanjian Juni lalu, justru memperkuat posisi Iran.

Jelas bahwa dalam revisi itu Iran seperti rebound dari bayangan kita yang remuk redam. Iran mendapatkan kembali dana yang sudah dibekukan. Bisa menganulir sanksi. Dan bisa mendapatkan reparasi ekonomi. Kalau lihat empat butir perjanjian itu, butir terakhir yang dalam bayangan kita terlihat seperti sampiran, dianggap sekunder adalah justru terkait nuklir yang bisa menjadi poin rebound.

Dari perang berpekan-pekan, serta empat poin perjanjian itu, seperti memperlihatkan bahwa hari ini stuktur kekuatan kekuatan dunia sungguh berubah. Bahwa setelah Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia, Iran adalah negara super power keempat.

Ini juga mengambarkan bahwa dunia makin multipolar. Keadaan di mana dunia tidak lagi terpusat pada satu kekuatan. Tapi menyebar ke sejumlah negara. Tidak ada lagi episentrum. Bahwa setiap negara punya kekuatan.

Ini lompatan besar dari keadaan dunia sebelumnya yang cenderung multilateral. Multilarisasi begitu mudah dilakukan semenjak tembok Berlin runtuh 1989. Dimana Amerika Serikat begitu mudah mendominasi dunia nyaris begitu utuh. Setidaknya hingga 2017, kita melihat bahwa Amerika Serikat begitu mudah menyuruh 193 negara menandatangani dokumen apapun terkait banyak hal.

Poin saya adalah bahwa dunia sudah bergeser dari multilateral ke unilateral, minilateral, plurilateral, bahkan mungkin bilateral.

Dalam dunia yang bergeser itu, apa yang sebaiknya kita lakukan?

Semakin dunia bergeser, semakin kita harus meningkatkan produktivitas. Mengapa? Karena multilateralisme datang bersama panji: the principle single undertaking. Intinya nothing is agreed until everybody is agrees. Artinya, siapa pun dari 193 negara tadi, kalau nggak suka maka dia punya hak veto. Dan itu lah yang terjadi di World Trade Organization (WTO). Tapi itu sepertinya tidak berlaku lagi.

Semakin kita bergantung pada satu orang, semakin diperlukan secepat apa kita beraksi. Seproduktif apa kita memproduksi. Dan ini beda sekali kalau 193 negara tadi bikin kesepakatan. Kita bisa berlindung di belakang selimut multilateral walau produktivitas kita rendah, oleh karena kita bisa memveto.

Ekonomi

Gita Wirjawan (Instagram @gwirjawan)

Lompatan besar juga terjadi dalam dunia ekonomi. Dalam banyak hal. Bukan hanya dalam soal ketimpangan distribusi pendapatan. Yang terefleksi dalam gini ratio. Tapi juga terkait dengan kekayaan. Di negara maju, berkembang, maupun negara miskin, disparitas makin mengangga. Artificial intelligence yang hari-hari ini ramai kita pakai, malah semakin mengelitisasi tatanan ekonomi dunia.

Daren Asemoglu dalam buku Power and Progress, mengarisbawahi bahwa dari tahun 1945 hingga 1973 rata-rata pertumbuhan di Amerika Serikat, sekitar 2,5 persen per tahun. Tapi semenjak 1973, kenaikannya hanya sekitar 0,5 persen dan itu berhubungan dengan internet.

Bahwa internet sukses mendemoktratisasikan informasi. Tapi gagal mendemoktratisasikan ide dan modal. Jadi lah disparitas kian menganga. Terjadi apa yang disebut sebagai sentripetalisme. Keadaan di mana kekuatan tersedot ke suatu tempat.

Pertumbuhan ekonomi ekonomi itu harusnya sentrifugal. Di mana daya atau gaya ekonomi punya efek penyebaran. Dari pusat pertumbuhan ke daerah. Dari pusat ke pinggiran. Dari kota utama sentrifugal ke kota sekunder.

Tapi yang terjadi adalah kebalikannya. Sentripetal. Pertumbuhan ekonomi di kota utama jauh lebih tinggi ketimbang kota sekunder maupun desa. Dan itulah yang terjadi di negara-negara maju, berkembang, maupun negara-negara miskin.

Teknologi

Lompatan besar yang paling kita rasakan terjadi dalam bidang teknologi. Cobalah kita memahami lompatan ini lewat More’s Law (Hukum Moore). Bahwa jumlah transistor pada microchip terpadu akan berlipat dua kali dalam setiap tahun. Sementara biaya produksi tetap sama. Lalu kita lihat jaman AI ini. Yang sudah bergeser dari generative menjadi agentic. Jumlah transitor bisa berkali-kali lipat.

Gita Wirjawan (Instagram @gwirjawan)

Hanya saja kita harus sadar bahwa AI punya kecenderungan halusinasi. Punya kekuatan menghipnotis. Dan dua kekuatan itu berhubungan dengan kemampuan Intelligence Quotient (IQ) dari yang menghiptonis.

Kalau yang mengiptonis IQ-nya 140 maka hasil halusinasinya akan jauh lebih berkualitas ketimbang yang IQ-nya jauh di bawah 140.

Kualitas halusinasi yang dibikin oleh AI juga berkaitan dengan kualitas kognitif penggunanya. Persoalannya IQ dan kognisi antara penghipnotis dan pemakai sangat lah jauh. Perbedaan yang jauh ini lah yang semakin mengelitisasi segala hal dunia. Padahal selama ini saja terasa sudah elitis.

Yang kedua adalah soal penggunaan energi. Dengan sifatnya yang semakin agentic, pemakaian energi untuk AI sungguh raksasa. Pada rentang 10 hingga 50 kali lipat dibandingkan search di Google. Dalam dunia perfilman, kalau kita memakai AI- misalnya pakai platform AI Sora, penggunaan energi 1000 kali lipat dibandingkan dengan search di Google.

Dalam kalkulasi saya, untuk negara mana pun, kalau mau menjadi pemangku narasi AI dan bukan sekadar penonton narasi AI, diperlukan elektrifikasi sekitar 10.000 kWh per kapita.

Lalu bagaimana dengan keadaan kita?

Indonesia hanya 1300 kWh per kapita. India 1200, Filipina hanya 1000, Vietnam 3000, Thailand 4000, dan Malaysia 5000. Di Asia Tenggara hanya dua negara yang elektrifikasinya di atas 10 ribu kWh per kapita. Yaitu Singapura dan Brunei.

Coba lihat Tiongkok dan Amerika. Mereka sudah 10 ribu kWh. Tiongkok sudah bangun 4000 gigawatt. Amerika sudah bangun 1400 gigawatt. Dan Indonesia hanya bangun hampir 100 gigawatt.

Gita Wirjawan (Instagram @gwirjawan)

Kalau Indonesia mau lompat dari 1300 kWh ke 10 ribu kWh, itu harus membangun daya tujuh kali lipat dari yang sudah ada. Bangun dari 100 gigawatt menjadi 700 gigawatt. Bangun 600 gigawatt lagi. Setara dengan 600 ribu megawatt. Dan, dalam 20 tahun terakhir Indonesia hanya mampu bangun 4000 hingga 5000 megawatt.

Mari kita berhitung. Berapa waktu yang diperlukan untuk sampai 600 ribu megawatt itu. Angka 600 ribu tadi dibagi lima ribu. Hasilnya kurang lebih 120. Kita perlu waktu 120 tahun untuk sampai pada elektrifikasi Singapur hari ini. Lama sekali.

Susah sekali membayangkan kita yang ada di ruangan ini akan sampai pada masa modernitas. Mau nggak mau kita harus mempercepat denominatornya. Minimum kita bangun 30 ribu megawatt. Supaya kita bisa sampai pada modernitas itu dalam waktu 20 tahun.

Untuk bangun secepat serta sebesar itu kita butuh fulus. Kita butuh teknologi. Demi mendapatkan fulus itu kita harus menegakkan apa pun yang harus tegak. Terutama penegakan hukum. Kita harus mentranslasi dari ketidakpastian investasi menjadi risiko.

Agar uang masuk untuk investasi. Ketidakpastian itu unknown-unknown-unknown. Uncertainty. Sedang risiko adalah known-unknown, known. Risiko itu bisa dihitung dengan teori probabilitas. Bisa diprediksi. Bisa dikuantifikasi. Bisa diperingkatkan.

Banyak dari kita belum cermat membedakan antara “ ketidakpastian” dengan “ risiko.” Dan banyak dari kita yang belum mentranslasi ketidakpastian itu menjadi risiko.

Kalau penegakan hukum, kita paham apa yang harus kita lakukan. Kalau translasi, mau nggak mau kita harus mengajari anak-anak muda dengan pendekatan interdisipliner. Mengajari science, technology, engineering and mathematics (STEM). Dan ini soal pendidikan.

Mari kita melihat peta di Asia Tenggara. Dari 10 ribu kampus, yang mana 5000 ada di Indonesia, hanya ada dua kampus yang masuk 20 besar dan dua-duanya ada di Singapura. NTU dan NUS. Peringkat ke-3 di Asia Tenggara adalah Malaya University yang di dunia masuk peringkat 56. Thailand, Filipina, tak satupun universitasnya masuk top 100 dunia. Indonesia tak satu pun kampusnya masuk top 200. Ini mencemaskan.

Dari 10 ribu kampus di Asia Tenggara, jika dikonversi ke STEM, yang paling tinggi di Malaysia. Sekitar 40 persen hingga 43,5 persen. Jadi, kalau ada 100 mahasiswa di kampus, sekitar 40- 43,5% mengambil STEM. Singapura 36% dan Indonesia 22%.

Gita Wirjawan di Town Hall Endgame (Instagram @gwirjawan)

Tiongkok punya 3000 kampus dengan 45 juta mahasiswa, Asia Tenggara punya 10 ribu kampus dengan 25 juta mahasiswa. Tapi Tiongkok bisa menempatkan dua universitas di peringkat 20 teratas dunia. Tiongkok bisa menaruh delapan universitas pada peringkat atas untuk research dan development.

Di level menengah kita memakai metrik Programme for International Student Assessment (PISA). Performa akademik siswa. Dari sebelas negara di Asia Tenggara, hanya dua negara yang melewati skor rata-rata PISA dunia. Yaitu Singapura dan Vietnam.

Jadi sungguh jelas apa masalah kita. Sungguh terang jalan yang harus ditempuh. Bahwa agar bisa membangun 30 ribu megawatt, agar bisa masuk dalam modernitas dalam 20 tahun, dan tidak menjadi korban dari elitisasi dunia, mau nggak mau supply site harus diperhatikan. Kita bisa mengacu pada playbook Deng Xiaoping tahun 1978. Dia sangat mengutamakan supply site. Dikerjakan semenjak 48 tahun lalu, hari ini Tiongkok panen hasilnya.

Gita memang kerap kali memakai contoh perjalanan sejumlah negara, tentang bagaimana melajukan ekonomi, bangkit dari kehancuran, atau menyalakan masa depan generasi muda, tentang bagaimana memuliakan guru dan itulah akar terdalam dari kemajuan sumber daya manusia sebuah bangsa.

Dalam berbagai kesempatan dia bercerita tentang Jepang. Berkisah tentang Kaisar legendaris Jepang Hirohito. Bahwa pada reruntuhan kota Hiroshima dan Nagasaki oleh karena dibom Amerika Serikat pada 1945, sang kaisar mengumpulkan para jenderal, lalu bertanya, " Berapa jumlah guru yang masih tersisa."

Pertanyaan itu bukan sekadar soal nyawa orang, tapi juga soal nyawa bangsa. Bahwa para guru adalah kunci kebangkitan dari kehancuran, bahkan oleh bom atom sekalipun. Dalam sebuah kesempatan Gita menyuguhkan angka yang terasa getir didengar. Bahwa lebih 80 persen orang tua di Indonesia tidak pernah duduk di bangku kuliah.

Guru, katanya, adalah pengatup dari defisit inspirasi di rumah. Tapi gaji yang kelewat kecil menyulitkan guru mengambil peran itu. Oleh karena itu lah sebabnya Gita mendorong kenaikan gaji guru, bahkan hingga Rp40 juta per bulan.

Cara pikirnya sederhana tapi beresonansi jauh ke dalam akal kita. Kalau gaji guru tinggi, maka akan banyak orang jenius jadi guru, anak-anak punya role model, dan mudah mendongkrak apa yang disebut Gita sebagai kognisi dalam dialog nasional di Megawati Institute itu.

Beri Komentar