© Pexels.com/Hasan Albari
DREAM.CO.ID - Bagi sebagian orang, kopi atau teh terasa paling nikmat ketika masih mengepul dan panas. Namun, kebiasaan langsung menyeruput minuman yang baru diseduh ternyata mungkin bukan sekadar soal lidah yang kepanasan. Sebuah penelitian besar menemukan adanya kaitan antara kebiasaan minum minuman sangat panas dengan meningkatnya risiko salah satu jenis kanker kerongkongan.
Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Cancer pada 8 September 2026 tersebut melibatkan hampir 1 juta orang dewasa di Inggris. Hasilnya menunjukkan, orang yang terbiasa minum kopi atau teh dalam kondisi sangat panas memiliki risiko lebih dari tiga kali lipat mengalami karsinoma sel skuamosa (squamous cell carcinoma/SCC) pada kerongkongan dibandingkan mereka yang meminumnya dalam kondisi hangat.
Peneliti menggabungkan data dari dua penelitian besar, yakni Million Women Study dan UK Biobank. Para peserta berusia 37 hingga 73 tahun dan ditanyai mengenai suhu minuman yang biasa mereka konsumsi, mulai dari “ hangat”, “ panas”, hingga “ sangat panas”. Mereka juga melaporkan jumlah minuman panas yang dikonsumsi setiap hari.
Peserta kemudian dipantau selama lebih dari satu dekade menggunakan catatan kesehatan yang terhubung dengan National Health Service (NHS). Dalam periode tersebut, tercatat 2.348 kasus baru kanker kerongkongan, terdiri dari 1.045 kasus SCC dan 1.303 kasus adenokarsinoma (AC).
Temuan paling mencolok terlihat pada kelompok yang menyukai minuman “ sangat panas”. Dibandingkan orang yang memilih minuman dalam kondisi “ hangat”, kelompok ini memiliki relative risk sebesar 3,17 untuk mengalami SCC. Artinya, secara statistik risikonya sekitar 217 persen lebih tinggi.
Sementara itu, mereka yang memilih minuman “ panas” tetapi tidak sampai “ sangat panas” juga memiliki risiko SCC yang lebih tinggi, hampir dua kali lipat dibandingkan kelompok yang minum dalam kondisi hangat.
Menariknya, hubungan tersebut tidak ditemukan pada adenokarsinoma atau AC, jenis kanker kerongkongan lain yang umum. Risiko AC relatif tidak berubah berdasarkan suhu minuman.
Jumlah minuman panas yang dikonsumsi setiap hari juga tampaknya berperan. Orang yang mengonsumsi enam cangkir atau lebih minuman panas per hari memiliki risiko SCC 71 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang minum kurang dari enam cangkir.
Namun, pola yang sama tidak terlihat secara jelas pada adenokarsinoma. Peningkatan risikonya hanya sekitar 19 persen dan hubungan tersebut dinilai kurang jelas.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa persoalannya kemungkinan bukan terletak pada kopi atau teh itu sendiri, melainkan suhu ketika minuman tersebut dikonsumsi.
Sridhar Papaiah Susheela, MD, ahli onkologi radiasi dari ClinicSpots yang tidak terlibat dalam penelitian, mengatakan panas berlebihan dapat memicu peradangan kronis pada kerongkongan.
" Tidak seperti mulut dan lidah yang sangat sensitif dengan panas dan akan langsung terasa terbakar, kerongkongan memiliki reseptor rasa sakit yang lebih sediki," katanya kepada Healthline. “ Orang sering menelan minuman panas tanpa menyadari kerusakan jaringan yang terjadi saat menelannya."
Menurutnya, kerusakan akibat panas yang berlangsung berulang kali dalam jangka panjang dapat menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan kanker.
Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (International Agency for Research on Cancer/IARC) juga telah mengklasifikasikan minuman dengan suhu di atas 65 derajat Celsius sebagai “ probably carcinogenic to humans” atau kemungkinan bersifat karsinogenik bagi manusia.
Karena itu, membiarkan kopi atau teh mendingin beberapa menit sebelum diminum dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi paparan panas pada kerongkongan. Susheela menyarankan menunggu sekitar tiga hingga lima menit sebelum menikmati minuman panas.
Meski hasil penelitian tersebut menarik perhatian, bukan berarti seseorang harus berhenti mengonsumsi kopi atau teh. Penekanannya adalah pada suhu minuman, bukan semata-mata jenis minumannya.
Sylvia Crowder, PhD, peneliti nutrisi dari Moffitt Cancer Center yang juga tidak terlibat dalam penelitian, mengatakan minuman panas kemungkinan bukan faktor risiko paling penting bagi kebanyakan orang.
Menurutnya, faktor yang sudah diketahui berkaitan dengan kanker kerongkongan tetap perlu menjadi perhatian, termasuk penggunaan tembakau, konsumsi alkohol berat, obesitas—khususnya pada adenokarsinoma kerongkongan—serta refluks kronis.
Penelitian ini juga memperkirakan sekitar 14 persen kasus SCC kerongkongan di Inggris berpotensi dapat dicegah apabila orang yang terbiasa minum minuman “ sangat panas” menurunkan suhunya menjadi “ panas”. Angkanya diperkirakan setara dengan sekitar 440 kasus lebih sedikit setiap tahun di Inggris.
Dengan demikian, kebiasaan sederhana seperti tidak terburu-buru menyeruput kopi atau teh yang baru mendidih mungkin memiliki arti lebih besar daripada sekadar menghindari lidah terbakar. Bagi penikmat minuman panas, memberi waktu beberapa menit agar suhu turun dapat menjadi langkah kecil untuk mengurangi paparan panas berulang pada kerongkongan, sembari tetap memperhatikan faktor risiko kanker yang sudah terbukti seperti merokok dan konsumsi alkohol berat.
Advertisement
Mikroplastik Masuk Tubuh Ibu Hamil dan Plasenta Janin di Makassar

5 Persen Bisa Mengubah Wajah Senayan, Siapa Bertahan?

Siti Hasmah Wafat di Usia 100 Tahun, 70 Tahun Temani Mahathir

Festival Musik Lebih Ramah Lingkungan, Intip Cara Seru Coachella dan Glastonbury

Safari Politik Jokowi: Dari Solo ke PSI


Dari Svarnadwipa, Andalas, Samudera, hingga Sumatera, Banyak Nama untuk Satu Pulau

12 Tanda Awal Gangguan Pendengaran yang Sering Diabaikan dan Kerap Tak Disadari

Dikenal Penggemar Ular, Ilmuwan Namai Spesies Baru dari Papua Nugini dengan Nama Slash Guns N’ Roses


Kanker Prostat Sering Tak Bergejala, Bagaimana Cara Mendeteksinya Sejak Dini?

Manusia Sudah Ada di Bumi Sejak Kapan? Jawabannya Bisa 315 Ribu hingga 7 Juta Tahun

Mikroplastik Masuk Tubuh Ibu Hamil dan Plasenta Janin di Makassar