Coachella/ Foto: Instagram @coachella
DREAM.CO.ID - Datang ke festival musik jadi favorit Gen Z dan milenial buat healing. Menikmati musik dari musisi favorit membuat kita juga ikutan bernyanyi atau ikut bergoyang, yang pastinya bikin selalu haus. Apalagi jika event musik berupa festival yang dihadiri beberapa musisi dengan banyak panggung dan pengunjung bisa seharian di venue seperti Pestapora, Synchronize Festival dan Joyland Festival.

Penjual minuman dingin dalam kemasan dijamin laris manis saat menjual di event-event musik besar tersebut. Termasuk juga penjual makanan yang biasanya menjualnya dalam wadah sekali pakai. Hal tersebut membuat di tiap event konser atau festival musik, biasanya memunculkan gunungan sampah dan jadi isu lingkungan jika waste management-nya tidak diatur dengan detail.
Ribuan orang datang ke venue dalam waktu yang sama, untuk kepraktisan kebutuhan makan dan minum cenderung digunakan wadah sekali pakai yang membuat permasalahan sampah perlu dipikirkan secara komprehensif. Sebenarnya jika menilik pada festival musik atau event besar seperti Coachella di Amerika Serikat, Glastonburry di Inggris atau Fuji Rock di Jepang, isu soal sampah selama acara ini masih jadi kritikan.
Dikutip dari The Post Athens, festival Coachella menghasilkan sekitar 1.600 ton sampah setiap tahun penyelenggaraannya, termasuk pada 2025. Lalu Glastonbury, dari laporan The Riff Report, sampah yang dihasilkan selama acara sekitar 2.000 ton.
Hal yang menarik adalah laporan jumlah sampah dari event dari Synchronize festival yang cenderung menurun tiap tahun. Dikutip dari dari Synchronizefestival.com ada 2022 sampah jumlah sampah dari event ini sebanyak 2.339 kg dengan total audiens 74.629 orang. Lalu pada 2023, jumlah sampah menurun hampir separuh menjadi 1.092, padahal audiensnya meningkat yaitu 78.197 orang.
Lalu pada 2024 dari hasil pendataan Greeners, jumlah sampah botol plastik hanya 568 kg padahal pengunjungnya lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya yaitu 90.000 orang. Rupanya festival ini mulai menerapkan konsep S.i.S.a (System Integration of Sustainability Act), green movemet di Synchronize Fest, yaitu para pengunjung yang bawa tumbler, boleh refill gratis pada water station yang disediakan.

Festival musik dan konser-konser di luar negeri sebenarnya telah lama menerapkan konsep ramah lingkungan dalam upaya menekan jumlah sampah setelah acara. Mulai dari pengunjung diminta membawa tumbler sendiri, disediakan Reverse Vending Machine (mesin otomatis untuk mengumpulkan dan mendaur ulang botol plastik atau kaleng), penerapan material ramah lingkungan dan masih banyak lagi.
Beberapa festival musik tahunan di beberapa negara mulai menerapkan aturan untuk meminimalisir sampah selama acara. Ada beberapa aturan yang diterapkan dan bukan hanya soal waste management, tapi mulai dari konsep acara dari hulu ke hilir. Terinspirasi dari beberapa festival musik, seperti Coachella dan Glastonbury, berikut beberapa hal yang bisa diterapkan agar festival dan konser musik di Indonesia lebih ramah lingkungan.
Penggunaan Energi Terbarukan

Festival Glastonbury sejak 2023, dikutip dari Glastonburryfestivals.co.uk, tidak lagi menggunakan bahan bakar fosil untuk penyediaan listrik di seluruh area. Seluruh generator beroperasi sepenuhnya menggunakan bahan bakar HVO (Hydrotreated Vegetable Oil) yang sumbernya dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini bisa membantu mengurangi emisi CO2 hingga 90%.
Sementara penyedia electricity Coachella pada 2025 yaitu CES Power memasang 9 Battery Energy Storage Systems (BESS) di berbagai area festival. Sistem tersebut mencakup baterai standalone yang di-charge dari grid, hybrid microgrids, serta solar-powered units.
Sistem CES Power, tersebut diklaim membantu mengurangi sekitar 18.459 kg CO₂ per minggu. Mereka juga meningkatkan penggunaan grid power sekitar 1.620 kW, yang menurut perusahaan menggantikan lebih dari 544.000 kWh diesel-generated power dan menghindari estimasi 691.286 kg CO₂
Refill Water Station
Konsep ini sudah banyak diterapkan di berbagai festival musik dan konser-konser besar di luar negeri, termasuk Glastonbury dan Coachella. Pengunjung yang datang diminta untuk membawa tumbler atau botol minum sendiri, karena bisa mengisi ulangnya di water station yang disediakan, karena bisa secara signifikan mengurangi sampah botol plastik sekali pakai. Beberapa festival musik di Indonesia juga mulai menerapkannya. Kuncinya adalah titik water station harus disesuaikan dengan jumlah pengunjung, ditempatkan di area yang mudah diakses dan dipastikan kondisi air selalu penuh.
Pilah Sampah
Menyediakan tempat sampah yang membuat pengunjung dengan mudah memilah sampah mereka. Hijau untuk sampah organik, kuning untuk sampah anorganik/daur ulang dan merah untuk sampah residu seperti popok, tisu bekas, puntung rokok, styrofoam tertentu, dan sampah yang tidak dapat didaur ulang atau dikomposkan.
Reverse Vending Machine
Penyelenggara juga bisa menempatkan banyak Reverse Vending Machine (RVM) berkolaborasi dengan berbagai brand untuk ditempatkan di banyak titik. Mesin ini memungkinkan pengunjung untuk menukar sampah plastik mereka dengan poin yang nantinya bisa ditukar jadi e-money atau voucher belanja. Jadi, mereka bisa mendapat reward langsung dengan memilah sampah.

Masih banyak konsep ramah lingkungan yang bisa diterapkan di festival musik untuk menekan jumlah sampah yang muncul selama dan setelah acara. Tentunya bukan hanya sekadar kecepatan tim pembersihan, tapi juga dari penyelengaraan dan membangun kesadaran pengunjung, apalagi jika acara dilakukan setiap tahun. Setuju?
Advertisement

Spesies Kucing Baru Ditemukan di Bolivia, Ukurannya Lebih Kecil dari Kucing Rumahan

Kurang Tidur Bikin Kepala Sakit? Ini yang Terjadi pada Tubuh dan Cara Mengatasinya

Sarapan Sebaiknya Protein atau Karbohidrat? Ahli Gizi Ungkap Pilihan yang Lebih Tepat

Mengapa Motif Batik Mega Mendung Mirip dengan Desain Awan China?


