© 2026 Guruh Soekarnoputra (Instagram)
DREAM.CO.ID - Guruh Soekarnoputra mengerjakan eksperimen besar di medio 1970an. Sebuah proyek musik yang tak lazim masa itu. Bersama kelompok Gipsy —Keenan Nasution, Chrisye, Roni Harahap, Oding Nasution, dan Abadi Soesman, Guruh mengawinkan musik rock dengan gamelan dan warna musik tradisional Jawa serta Bali.
Butuh waktu berbulan-bulan. Rekaman dilakukan bertahap, sejak 1975 hingga 1976. Proyek seni ini terus diputar di tengah keterbatasan biaya dan waktu studio. Album ini akhirnya rilis pada 1977. Dinamai “ Guruh Gipsy”.
Memang hanya satu album. Namun, karya tersebut menjadi salah satu tonggak penting musik Indonesia. Album ini tetap dikenang puluhan tahun kemudian. Mungkin, di sinilah Guruh Soekarnoputra paling mudah dipahami.
Guruh bukan sekadar putra Soekarno dan Fatmawati. Nama besar keluarga telah tersemat sejak dia lahir di Jakarta, 13 Januari 1953. Namun, Guruh membangun dunianya sendiri. Dia memilih bergelut dengan musik, tari, dan pertunjukan.

Perjalanan hidup Guruh adalah seni. Sejak usia lima tahun belajar tari Jawa, Sunda, dan Bali. Dia juga bermain piano. Saat remaja membentuk kelompok musik The Beat-G. Bagi Guruh, kesenian jadi bagian kebudayaan. Kesenian harus terus dipelajari dan dihidupkan.
Pada 1977, dia mendirikan Swara Maharddhika. Ini semacam laboratorium seninya. Ruang eksperimen. Tempat mengembangkan gagasan. Di sini, Guruh merangkai musik, tari, busana, dan tata panggung, menjadi pertunjukan utuh.
Banyak karya besar dihadirkan ke panggung. Salah satunya “ Untukmu Indonesiaku” yang dihadirkan Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra pada 1980.
Jejak Guruh juga terlihat di politik. Dia pernah menjadi anggota DPR dari PDI Perjuangan. Namun, seni tetap menjadi bahasa utamanya. Pada 2010, dia mengatakan bahwa seni dan politik adalah alat perjuangannya untuk membawa perubahan.
Seni, bagi Guruh, bukan sekadar tontonan.

Ada gagasan tentang Indonesia yang terus ia bawa, tradisi tidak harus dibekukan agar tetap hidup, sementara modernitas tidak harus berarti meninggalkan akar kebudayaan.
Itulah yang membuat Guruh Gipsy penting. Pertemuan rock dan musik tradisional bukan sekadar eksperimen musikal. Ia menjadi gambaran dari pencarian Guruh sepanjang hidup, yaitu menemukan bentuk baru bagi kebudayaan Indonesia tanpa memutus hubungan dengan masa lalunya.
Sepanjang hidup, Guruh mendapat berbagai penghargaan di dunia seni, termasuk Lifetime Achievement Anugerah Musik Indonesia dan penghargaan kebudayaan. Tapi warisan terpentingnya barangkali bukan deretan piala itu.
Pada Sabtu, 26 September 2026, perjalanan itu berhenti. Guruh Soekarnoputra meninggal dunia di Jakarta dalam usia 73 tahun.
Guruh telah pergi. Tapi pertanyaan yang dia ajukan lewat musik, tari, dan panggung masih tertinggal: bagaimana menjadi modern tanpa harus kehilangan Indonesia. Pencarian yang ia mulai puluhan tahun lalu belum selesai.
Advertisement

Terlalu Banyak Makanan Olahan Bisa Bikin Lemak Menumpuk di Otot dan Mengancam Lutut

Garbarata Generasi Baru dari Bukaka Bakal Berseliweran di Bandara Terbaik Dunia

Tren Aneh Pria Potong Bulu Mata demi Terlihat Lebih Maskulin, Ketahui Risikonya bagi Mata

Cuma Cium Aroma Cokelat Sebelum Olahraga Bisa Bikin Pria Mampu Tambah Repetisi

Ini Jenis Tes yang Mampu Turunkan Kadar Trigliserida, Bisa Bantu Cegah Masalah Kolesterol

Kenapa Ada Pria yang Terobsesi dengan Ketiak Perempuan? Ini Penjelasannya

Guruh Soekarnoputra Meninggal Dunia, Seniman dan Anak Bungsu Soekarno Tutup Usia