Mohammad Zaki Ubaidillah (Instagram @badminton.ina)
DREAM.CO.ID - Semua tegang. Indonesia tertinggal, terpaut empat angka. Selisih itu memisahkan Ubed dari kemenangan. Kedudukan 20-16. Di seberang net, berdiri Weng Hongyang, yang cuma butuh satu poin untuk menutup set pertama partai penentu itu.
Weng boleh unggul sementara. Ubed dalam posisi tidak menguntungkan, harus mengejar, membalik kedudukan. Dia harus mengubah empat game point lawan menjadi kesempatan. Detik itu, target belum berubah. Masih tetap, membawa pulang medali emas Asian Games Aichi-Nagoya 2026 ke Indonesia.
Di depan memang ada jago China. Tapi di tepi lapangan, rekan-rekan setim menunggu. Di tribun, harapan Indonesia menggantung pada satu pertandingan itu. Di tanah air, jutaan orang berdoa. Sebab, setelah empat partai dimainkan, hanya satu yang tersisa. Pertandingan Ubed itu.
Skor sementara 2-2. Ubed tak boleh kalah. Dia tumpuan terakhir. Dan pemuda bernama lengkap Mohammad Zaki Ubaidillah itu menjawab semua asa yang disandarkan itu. Ubed menang. Dia mampu merampas empat game point Weng. Memaksakan deuce. Set pertama dia tutup 23-21. Dia mampu comeback.

Set kedua lebih mudah. Ubed mengendalikan permainan. Pukulan terakhir Ubed tak mampu dikembalikan lawan bertangan kidal itu. Skor akhir 21-13. Smash menyilang Ubed menjadi penentu emas bagi Indonesia.
Indonesia menang 3-2 atas China. Emas beregu putra Asian Games kembali ke dekapan Merah Putih setelah 28 tahun. Ubed, yang menjalani debut di Asian Games, menjadi orang terakhir yang berdiri di lapangan.
“ Pada game pertama setelah lawan game point duluan, pikiran saya berusaha lebih tenang. Alhamdulillah bisa membalikkan keadaan,” ucap Ubed.
Medali itu diraih dengan kerja keras. Ichinomiya City Municipal Gymnasium itu menjadi saksi perjuangan tim bulutangkis beregu putra Indonesia. Sebelum pukulan terakhir Ubed itu, tim Indonesia terlebih dulu berada di tubir kekalahan. Harus mengejar kedudukan, dari 0-2 ke 3-2.
China membuka laga final dengan sempurna. Indonesia terseok. Jonatan Christie turun sebagai tunggal pertama. Dia takluk di tangan Shi Yu Qi. Skor 13-21, 18-21. Kedudukan 0-1 untuk tim putra China.

Partai kedua agak sengit. Pasangan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri bisa memaksa Liang Wei Keng/Wang Chang bermain tiga gim. Tapi kalah lagi. Skor 20-22, 21-19, 14-21. China memimpin 2-0. Satu kemenangan lagi, emas menggelinding ke China.
Namun Indonesia bangkit lewat Alwi Farhan. Dia menghadapi Li Shi Feng di tunggal putra. Pertandingan ini harus tiga set, panjang dan melelahkan. Gim pertama 23-21, Alwi menang. Set kedua kalah 15-21. Pada gim penentuan, Alwi menang dengan skor 21-16.
“ Saya harus tanggung jawab dan menunjukkan respons positif,” kata Alwi.
Skor berubah menjadi 1-2. Harapan yang sempat meredup kembali menyala. Giliran ganda Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin berjuang di partai keempat. Mereka menghadapi He Ji Ting/Liu Yi. Ganda Indonesia menang dua set langsung: 23-21, 21-10.

Dua partai. Dua kemenangan. Kedudukan imbang menjadi 2-2. Sebelum imbang, Indonesia memang terjepit. Namun para pemain yang diturunkan tetap tenang. “ Lebih ke nothing to lose,” ujar Leo.
Dan, datanglah partai Ubed melawan Weng. Itu partai kelima. Pertandingan penentu Indonesia melawan China. Hasil emas ini memang berkat kerja sama tim. Namun sabetan raket Ubed penentunya.
Namun, emas itu tidak lahir hanya dari final itu. Sebagai unggulan pertama, Indonesia mendapat bye pada babak 16 besar. Tapi bukan berarti jalan tim putra menjadi ringan. Di perempat final, sudah ditunggu Malaysia. Salah satu lawan tradisional terberat di Asia.
Hasilnya juga tidak mudah. Setelah kejar-mengejar kedudukan, Indonesia menang 3-2 dan bertemu Thailand di semifinal. Di babak itu, Indonesia menang 3-1. Pada babak yang sama, China menyingkirkan India. Kedudukan 3-1. Indonesia dan China bertemu di final.
Final ini bukan pertandingan biasa. Indonesia-China punya sejarah panjang di dunia badminton. Apalagi, dalam Asian Games ini, PBSI punya target satu emas. Nomor beregu putra menjadi andalan.
“ Kita target dari Kemenpora satu emas, satu emas beregu putra,” kata Ketua Umum PBSI, Fadil Imran. Target itu akhirnya terpenuhi, bahkan dengan cara dramatis.

Tambahan emas itu sekaligus menjadi emas pertama Indonesia di Asian Games 2026. Hingga akhir pertandingan 24 September 2026, Indonesia mengemas 1 emas, 4 perak, dan 15 perunggu.
Kemenangan ini terasa lebih besar daripada sekadar satu medali. Indonesia sudah puasa gelar di nomor beregu putra bulutangkis Asian Games. Sebelum pertandingan itu, Indonesia terakhir kali meraih emas pada Asian Games Bangkok. Itu 1998. Atau 28 tahun silam.
Indonesia membawa nama-nama beken kala itu. Ada Rexy Mainaky, Ricky Subagja, Hendrawan, Tony Gunawan, Taufik Hidayat, dan nama besar lainnya. Seperti di Asian Games Jepang ini, kala itu Indonesia bertemu China di final beregu putra.
Hasilnya telak. Indonesia menang 4-0. Taufik, yang kala itu baru berusia 17 tahun, bahkan menjadi bagian tim juara ini. Indonesia mempertahankan emas yang diraih pada 1994.
Namun setelah itu, cerita berubah. Emas sulit digapai. Beberapa kali Indonesia nyaris mendulang emas. Pada 2002, tim putra menjadi runner-up. Pada 2006 dan 2010, Indonesia hanya mendapatkan perunggu. Pada 2014 bahkan gagal mencapai semifinal.

Harapan besar muncul pada Asian Games Jakarta 2018. Maklum, Indonesia tuan rumah. Tapi, lawan yang dihadapi di final lagi-lagi China. Indonesia menyerah 3-1. China membawa pulang emas. Indonesia cuma kebagian perak.
Oleh karena itulah, pukulan Ubed bukan saja membawa Indonesia menang pada laga 24 September 2026. Yang berakhir bukan saja final lima pertandingan. Smash menyilang itu juga mengakhiri 28 tahun penantian. Dari Bangkok 1998 hingga Aichi-Nagoya 2026.
Indonesia memang lekat dengan nomor beregu putra. Sejak bulu tangkis menjadi cabang resmi Asian Games pada 1962, Indonesia sudah merasakan emas pada edisi pertama di Jakarta.
Kala itu, tim Indonesia diperkuat Tan Joe Hok, Ferry Sonneville, Liem Tjeng Kiang, Tutang Djamaluddin, dan Abdul Patah Unang. Indonesia meraih emas setelah menghantam Thailand.
Pada 1970 di Bangkok, Indonesia kembali juara. Empat tahun berselang, Indonesia kandas di final dari China. Indonesia kalah 2-3.
Indonesia membalas 1978. Di Bangkok, Ade Chandra, Christian Hadinata, Rudy Heryanto, Liem Swie King, dan kawan-kawan mengalahkan China 3-1.

Namun, China kemudian mengambil alih panggung pada dekade berikutnya. Korea Selatan juga muncul sebagai kekuatan besar.
Dekade 1990-an, Indonesia kembali berjaya. Emas diraih di Hiroshima 1994 dan Bangkok 1998. Setelah itu, China dan Korea Selatan lebih sering menguasai podium, bergantian.
Dengan emas Aichi-Nagoya, Indonesia kini mengoleksi enam emas beregu putra Asian Games. Sebelum 2026, catatan Indonesia adalah lima emas, empat perak, dan empat perunggu.
Jika seluruh medali beregu putra Indonesia dihitung hingga 2026, catatannya menjadi 14 medali: enam emas, empat perak, dan empat perunggu.
Berikut daftar juara beregu putra Asian Games:
1962 — Indonesia
1966 — Thailand
1970 — Indonesia
1974 — China
1978 — Indonesia
1982 — China
1986 — Korea Selatan
1990 — China
1994 — Indonesia
1998 — Indonesia
2002 — Korea Selatan
2006 — China
2010 — China
2014 — Korea Selatan
2018 — China
2022 — China
2026 — Indonesia
Advertisement

El Niño Terkuat dalam Sejarah Modern Mengintai Indonesia dan Asia Tenggara, Ini Dampaknya

Hong Kong Tampil Semarak Layaknya Negeri Dongeng saat Festival Pertengahan Musim Gugur

'Cucu Krakatau' Muncul di Selat Sunda, Benarkah Gunung Api Baru?


Banyak Pria Tak Sadar Bahwa Produk Olahan Susu Bisa Tingkatkan Risiko Kanker Prostat

Cuma Cium Aroma Cokelat Sebelum Olahraga Bisa Bikin Pria Mampu Tambah Repetisi

Tren Aneh Pria Potong Bulu Mata demi Terlihat Lebih Maskulin, Ketahui Risikonya bagi Mata