© 2026 Daratan Baru Di Dekat Gunung Anak Krakatau (Instagram)
DREAM.CO.ID - Fenomena kemunculan daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau setelah erupsi memantik spekulasi banyak orang. Tak sedikit orang bahkan menduga daratan itu sebagai gunung api baru dan menyebutnya sebagai “ cucu Krakatau”.
Di tengah spekulasi masyarakat tersebut, anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, memberikan analisisnya mengenai daratan baru tersebut. Menurut mantan Direktur Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) itu, daratan itu belum tentu merupakan gunung api.
“ Faktanya, daratan ini bukanlah gunung api independen, melainkan akumulasi material vulkanik seperti abu, batuan, dan lava hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengendap di laut,” tulis Daryono di Instagram, Rabu 23 September 2026.
Menurut dia, proses penumpukan material yang membentuk daratan baru itu berlangsung bertahap seiring meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau. Proses itu terus berlangsung hingga akhirnya endapan menyembul ke permukaan air.
“ Terbentuknya daratan baru di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor geologis dan oseanografis,” kata dia.

Menurut dia, dasar laut di area kaldera purba sisa letusan Gunung Krakatau pada 1883 tergolong dangkal. Oleh karena itulah material erupsi Gunung Anak Krakatau lebih cepat menumpuk tinggi dan menyembul ke permukaan air laut. Selain itu, lontaran piroklastik dan aliran lava selama erupsi dominan terlempar ke sektor tersebut.
“ Dinamika arus serta gelombang laut Selat Sunda juga berperan penting sebagai pemindah sedimentasi yang membawa material erosi ringan ke titik-titik perairan yang lebih tenang hingga mengendap secara permanen,” imbuh Daryono.
Edukator Mitigasi Bencana mengatakan, daratan itu bisa membesar, namun juga bisa lenyap kembali. Semua bergantung pada aktivitas vulkanik dan erosi alam.
Jika Gunung Anak Krakatau terus erupsi, tambah dia, maka pasokan material baru akan membuat daratan itu kian luas. Daratan itu akan semakin kokoh jika terlapisi lava cair yang membeku menjadi batuan keras.
Sebaliknya, kata dia, jika erupsi terhenti, hantaman gelombang dan abrasi laut dapat mengikis endapan pasir yang belum padat hingga tenggelam kembali. “ Longsoran bawah laut atau erupsi eksplosif besar juga bisa menghancurkan struktur muda ini dlm waktu singkat,” ujar Daryono.

Menurut dia, daratan dapat dikategorikan sebagai gunung api baru yang berdiri sendiri jika memenuhi tiga syarat utama secara geologis. Pertama, daratan tersebut harus memiliki saluran magma mandiri yang terhubung langsung ke dapur magma melalui rekahan baru, terpisah dari kawah induknya.
Kedua, lanjut dia, daratan itu wajib menghasilkan aktivitas erupsi magmatik sendiri dengan memuntahkan magma atau gas dari kawah, bukan sekadar menampung muntahan dari gunung tetangga.
Ketiga, harus terdapat struktur geologis serta deformasi sendiri, yaitu adanya aktivitas gempa vulkanik lokal atau pembengkakan tanah yg terpusat tepat di bawah daratan baru tersebut.
Oleh sebab itu, Daryono mengimbau masyarakat tidak terprovokasi isu spekulatif dalam menghadapi fenomena ini. Dia berharap masyarakat menyaring informasi dan berpegang pada sumber resmi, seperti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
“ Kemunculan daratan baru ini adalah proses sedimentasi vulkanik yang lumrah di kawasan gunung api aktif,” tutur Daryono.
Advertisement

Mengapa Ada Banyak Jenis Colokan Listrik di Dunia? Ini Alasan di Baliknya

Dari Air Hingga Udara, Ini Hal Kecil Yang Bikin Rumah Terasa Lebih Nyaman

7 Tanda Anda Punya Bos Toxic yang Bisa Mengganggu Karier dan Kesehatan Mental

KDM Soal Duet dengan Gibran: Besok Punya Pacar atau Tidak Saja Belum Kepikiran

Hong Kong Tampil Semarak Layaknya Negeri Dongeng saat Festival Pertengahan Musim Gugur

El Niño Terkuat dalam Sejarah Modern Mengintai Indonesia dan Asia Tenggara, Ini Dampaknya

Semesta 5cm Kembali Berlanjut: Prekuel 5cm: Revolusi Hati Siap Eksplorasi Keindahan Laut Indonesia