© 2026 Dedi Mulyadi Dan Prabowo (Instagram Gerindra Jabar)
DREAM.CO.ID - Dedi Mulyadi akhirnya buka suara terkait wacana duet dengan Gibran Rakabuming Raka dalam Pilpres 2029. Gubernur Jawa Barat yang beken dengan panggilan KDM itu mengaku belum memikirkan langkah politik ke depan.
“ Berpikir bagaimana menjadi gubernur yang sukses. Tidak mikir yang lain,” kata KDM di Bandung, Selasa 22 September 2026.
Mantan bupati Purwakarta itu mengaku belum ada pembicaraan apapun terkait duet dengan Gibran. Politisi Partai Gerindra itu menegaskan saat ini hanya fokus bekerja. “ Pokoknya tidak ada. Hari ini saya berfokus, bekerja saja memberikan yang terbaik,” tutur KDM.
Bagi KDM, terlalu dini memikirkan kontestasi politik 2029. Dia mengaku belum memikirkan Pilpres 2029. “ Kita belum mikir terlalu jauh, mikir besok punya pacar atau tidak saja belum kepikiran,” tegas dia, berseloroh.
Wacana duet KDM-Gibran semula hanya analisis soal kemungkinan konfigurasi politik. Namun skenario ini masuk babak baru pada 24 Agustus, saat Farhat Abbas, yang hadir dalam pertemuan para pendukung Jokowi, menyebut nama Gibran dan KDM dalam konteks pasangan politik. Baca juga: KDM-Gibran, Siapa Lebih Layak Jadi Capres 2029?

Jokowi juga hadir dalam forum yang diikuti oleh Farhat tersebut. Namun, ayah Gibran, bernama lengkap Joko Widodo, itu tidak memberikan respons pernyataan Farhat Abbas. Potongan video pertemuan itu viral di media sosial dan membuat wacana duet KDM-Gibran makin ramai dibicarakan.
Wacana duet ini kian menyala setelah sejumlah survei menunjukkan elektabilitas KDM mencorong. Dalam survei SMRC pada 5-19 Juli 2026, elektabilitas KDM dalam bursa capres bahkan melampaui Prabowo Subianto.
Dalam simulasi semi-terbuka, elektabilitas KDM 35 persen. Unggul jauh dari Prabowo yang hanya 14,5 persen. Elektabilitas Gibran dalam jajak pendapat itu cuma 7,7 persen. Dia berada di posisi keempat, di bawah Anies Baswedan 8,2 persen.
KDM tetap berkilau pada simulasi dua nama, head to head dengan Prabowo. Elektabilitasnya meroket ke angka 59 persen. Prabowo hanya 28,3 persen saja. Baca juga: Elektabilitas Prabowo di Pilpres 2029 dalam Berbagai Survei.
Survei SMRC ini melibatkan 749 responden: 605 dipilih acak dengan metode double sampling dan diwawancarai lewat telepon, 144 tidak punya ponsel dipilih acak dengan metode stratified multistage random sampling dan diwawancarai secara tatap muka. Margin of error survei SMRC sebesar 3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Dalam survei Tempo Data Science 31 Juli-11 Agustus 2026 yang menggunakan simulasi responden diberi daftar nama kandidat, elektabilitas KDM 42 persen, di atas Prabowo dengan 15 persen. Elektabilitas Gibran hanya 6 persen, di bawah Anies dengan 10 persen. Baca juga: Mengapa Elektabilitas KDM Bisa Kalahkan Prabowo?
Dalam simulasi terbuka –responden langsung menyebut nama tanpa disodori daftar kandidat, elektabilitas KDM 41 persen. Prabowo 15 persen. Tingkat keterpilihan Gibran justru anjlok ke angka 4 persen, di bawah Anies dengan 10 persen.
Survei Tempo Data Science dilakukan terhadap 1.260 responden di 38 provinsi, menggunakan metode multistage random sampling dengan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen dan margin of error kurang lebih 2,9 persen.
Namun dalam polling Media Survei Nasional (Median) 21 Juli-2 Agustus 2026, elektabilitas KDM kalah dari Prabowo. Survei ini dilakukan secara tatap muka dengan melibatkan 1.212 responden di 38 provinsi. Jajak pendapat ini memiliki margin of error sekitar 2,76 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Dalam pertanyaan terbuka, elektabilitas KDM 19,8 persen. Prabowo 32,2 persen. Angka Gibran tenggelam kian dalam di angka 2 persen saja, jauh di bawah Anies dengan 19,5 persen, bahkan dilampaui oleh pendatang baru Sherly Tjoanda, Gubernur Maluku Utara, dengan 3,5 persen.
KDM tetap nomor dua dalam simulasi semi terbuka dengan 20,6 persen. Di bawah Prabowo 32,4 persen. Gibran tak banyak beranjak, hanya 2,6 persen, jauh di bawah Anies dengan 20,5 persen, Ganjar Pranowo 5 persen, dan lagi-lagi di bawah Sherly Tjoanda dengan 4,1 persen. Baca juga: Sherly Tjoanda, Nama Baru di Bursa Pilpres 2029

Meski mlempem di bursa capres, elektabilitasnya di bursa cawapres lebih renyah. Dalam sejumlah survei, elektabilitas putra sulung Jokowi itu selalu berada di puncak daftar cawapres. Baca juga: Elektabilitas Gibran Disalip Muka Baru di Pilpres 2029
Survei Median pada Februari 2026 menunjukkan elektabilitas Gibran di bursa cawapres mencapai 17,9 persen. Disusul Purbaya Yudhi Sadewa 10,2 persen. Kemudian KDM dengan 8,4 persen, diikuti Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 8 persen, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok 6,8 persen, Mahfud MD 5,8 persen, dan Anies Baswedan 5,2 persen.
Survei tersebut dilakukan pada 10-14 Februari 2026 dengan melibatkan 1.200 responden dari seluruh provinsi di Indonesia. Survei Median itu antara lain memotret persepsi publik terkait keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace, sekaligus mengukur elektabilitas sejumlah tokoh jika Pilpres 2029 digelar saat survei dilakukan.
Gibran juga berada di posisi pertama sebagai kandidat cawapres dalam jajak pendapat Median yang dilakukan pada 21 Juli-2 Agustus 2026. Elektabilitas Gibran mencapai 20,1 persen. KDM berada di posisi tiga dengan 11,2 persen, di bawah AHY dengan 13,5 persen. Berikutnya Mahfud MD 7,9 persen dan Anies Baswedan 6,6 persen.
Survei Median tersebut dilakukan terhadap 1.212 responden melalui wawancara tatap muka dengan metode multistage random sampling. Pengambilan data dilakukan pada 21 Juli-2 Agustus 2026.
Posisi Gibran dalam bursa cawapres juga dipotret dalam survei Poltracking Indonesia yang dilaksanakan pada 2-8 Maret 2026. Dalam survei tersebut, Gibran berada di posisi teratas daftar cawapres dengan elektabilitas 26,8 persen. KDM menyusul dengan 8,9 persen dan Mahfud MD 4,3 persen. Berikutnya AHY 3,8 persen, Anies Baswedan 3,1 persen, Muhaimin Iskandar 2,1 persen, dan Purbaya Yudhi Sadewa 2 persen.
Survei Poltracking Indonesia melibatkan 1.220 responden di 38 provinsi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan metode multistage random sampling. Survei memiliki margin of error kurang lebih 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Advertisement

Mengapa Rutinitas Harian Penting Saat Hidup Penuh Stres dan Ketidakpastian?

Mengapa Kita Ragu Menghubungi Teman Lama? Ini Alasan Psikologis dan Risikonya


Kebiasaan Sebelum Tidur Ini Bisa Bikin Anda Makin Sulit Terlelap

7 Tanda Anda Punya Bos Toxic yang Bisa Mengganggu Karier dan Kesehatan Mental

Dari Air Hingga Udara, Ini Hal Kecil Yang Bikin Rumah Terasa Lebih Nyaman

Mengapa Ada Banyak Jenis Colokan Listrik di Dunia? Ini Alasan di Baliknya