Dari Plastik Tak Laku Jadi Gedung Sekolah di Garut

Reporter : Eko
Kamis, 1 Oktober 2026 11:00
Dari Plastik Tak Laku Jadi Gedung Sekolah di Garut
Tak punya nilainya di mata pemulung, sampah-sampah plastik di Garut justru disulap menjadi gedung sekolah.

DREAM.CO.ID - Usai sudah sistem shift itu. Murid SDN 3 Sukanegla tak lagi masuk bergantian. Semua masuk pagi. Tidak ada yang harus berangkat siang. Kini, sekolah mereka mampu menampung seluruh siswa sekaligus. Sebanyak 196 anak didik bisa belajar barengan.

Gedung baru. Inilah yang mengakhiri sistem giliran. Ada dua ruang kelas anyar. Sebelum dua ruang itu bangun, dua rombongan belajar tak kebagian tempat. Setiap rombongan maksimal 28 siswa. Mereka baru bisa masuk ketika rombongan belajar lain sudah pulang.

Dan mari kita lihat kelas baru yang menjadi solusi persoalan sekolah di Garut itu. Ruangan itu terlihat biasa. Mirip sekolah kebanyakan. Tapi jika ditilik lebih dalam, bahan bangunan itu beda. Tidak biasa.

Bukan dari beton. Tidak ada batu bata merah dari tanah yang dibakar. Jangan pula berharap menemukan hebel terpasang di temboknya. Sebab, dua ruang kelas itu terbuat dari sampah. Plastik daur ulang.

Seluruh sampah dari Garut, 85 persen low-value plastic. Plastik residu bernilai rendah. Bungkus mi instan. Plastik makanan ringan. Kemasan sachet. Di mata pemulung, material itu tidak berguna. Tak laku. Namun benda yang dianggap kehabisan guna itu rupanya masih punya nilai. Bisa didaur ulang. Diolah jadi komponen bangunan.

Kelas di SDN 3 Sukanegla Garut (Instagram @baktibarito)

Jika kita melihat batu bata sekolah di Kecamatan Garut Kota itu dengan teliti, barulah kita akan tahu dua ruang kelas baru itu terbuat dari plastik. Begitu juga dengan komponen lain. Panel lantai. Plafon. Atap. Pipa. Rangka pintu dan jendela. Semua dibuat dari plastik. Limbah yang diolah ulang.

Selain dua ruang kelas, SDN 3 Sukanegla juga punya dua toilet yang material bangunannya terbuat dari sampah plastik. Total luas unit yang dibangun dari sampah plastik itu 190 meter persegi. Butuh 18 ton sampah plastik.

Selain ramah lingkungan, bangunan itu juga kokoh. Kekuatan dan keamanan material sudah melalui uji laboratorium. Universitas Garut serta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) dilibatkan untuk pengujian. Keamanan dan kekuatan juga menjadi kunci mendapat izin pembangunan gedung plastik itu.

Desain komponen ini memang dibuat aman. Juga unik. Batu bata misalnya, dibuat mirip balok lego. Ada lubang pada bagian tengah, bisa dimasuki besi sebagai tulang penguat. Sisi bergerigi sehingga antarbalok bisa saling kunci. Interlocking.

Gedung SDN 3 Sukanegla (Instagram)

Prosesi peletakan bata plastik daur ulang pertama dilakukan Kamis, 11 Juni 2026. Penggunaan bangunan itu diresmikan pada Rabu 30 September 2026.

***
Kelas plastik itu bukan hasil kerja tunggal. Banyak pihak terlibat. Sekolah. Pemerintah. Masyarakat. Semua turun tangan. Program sosial perusahaan juga ada di sana. SDN 3 Sukanegla itu mendapat bantuan setelah ikut program pendampingan Sekolah Adiwiyata oleh Yayasan Bakti Barito.

Pengolahan sampah menjadi salah satu kegiatannya. Melalui program pendampingan itu, para siswa di SDN 3 Sukanegla juga bisa melihat langsung bagaimana sampah diolah. Didaur ulang. Diubah dari barang tak bernilai menjadi berguna kembali.

Sekolah plastik itu membuat Bupati Garut Syakur Amin kepincut. Dia mendukung penuh pemanfaatan teknologi pengolahan kembali limbah yang mampu mengubah sampah plastik menjadi material bangunan siap pakai.

Bupati Garut bahkan minta jajarannya belajar, mencontoh program di SDN 3 Sukanegla itu. Proyek itu menjadi contoh nyata bagi masyarakat dalam menyiasati masalah sampah.

Keinginan ini cukup beralasan. Sebab, seperti daerah lain, Garut juga menghasilkan banyak sampah plastik. Pada 2024, Pemkab Garut menyebut ada 100 ton sampah plastik dihasilkan saban hari.

Dinding dari daur ulang plastik (www.garutkab.go.id)

Garut juga sudah memanfaatkan sampah plastik untuk konstruksi lain. Dua tahun silam, Pemkab Garut juga meresmikan 50 kilometer jalan aspal plastik di Kecamatan Tarogong Kidul.

Dalam satu ton aspal jalan, dicampur dengan sekitar tiga kilogram sampah kantong kresek. Itu setara 4 sampai 6 persen dari aspal yang digunakan untuk jalan.

***
Garut bukan satu-satunya daerah yang berhadapan dengan persoalan itu. Sampah plastik ada di mana-mana. Yang berbeda adalah cara memperlakukannya.

Di SDN 3 Sukanegla, plastik yang semula berakhir sebagai limbah justru menjadi bagian dari bangunan. Sampah plastik dikumpulkan, diolah, lalu kembali digunakan. Inilah prinsip ekonomi sirkular. Tetap mempertahankan material dalam siklus penggunaan selama mungkin.

Ruang kelas itu menjadi gambaran kecil dari persoalan besar. Sampah plastik di Indonesia melimpah. Yang menjadi soal, bagaimana mereka dikumpulkan, diolah, dan kembali punya nilai.

Pengolahan sampah (Pexels.com/ CP Khanal)

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mencatat Indonesia menghasilkan sekitar 10,83 juta ton sampah plastik setiap tahun. Ada 227 perusahaan pendaur ulang. Kapasitas mereka 3,16 juta ton pertahun. Tapi kapasitas itu baru terpakai 48 persen. Belum maksimal. Mereka belum mampu menyerap potensi sampah plastik di negeri ini.

Mirisnya lagi, masih harus mencari bahan baku dari luar negeri. Pada 2024, sekitar 263 ribu ton bahan baku diimpor untuk kebutuhan material berkualitas tinggi. Sedangkan, 61 persen sampah plastik domestik belum terkelola optimal.

Jumlah yang dibuang jauh lebih besar dari plastik yang kembali. Gap ini sebagian dijembatani sektor informal. Dilakukan oleh para pemulung, pengepul, dan bank sampah. Sektor ini memasok sekitar 85 persen bahan baku industri daur ulang, menurut data KLH.

Nilai ekonomi sampah plastik tidak kecil. Data KLH menyebut sekitar Rp3 triliun pada tahap pengumpulan awal. Setelah dipilah, nilainya jadi Rp5,8 triliun. Setelah diolah oleh industri, angkanya melonjak menjadi Rp10,9 triliun.

Dua kelas dan toilet plastik di SDN 3 Sukanegla itu merupakan bentuk ujung rantai itu. Plastik tak laku dikumpulkan dan diolah jadi material bangunan. Bahan yang kembali digunakan.

Dua ruang kelas itu tidak hanya menyelesaikan persoalan ruang belajar. Dari ruang itu kita belajar, sampah yang dibuang masih bisa kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Beri Komentar