Jejak Mikroplastik di Outfit Gen Z

Reporter : Eko
Kamis, 17 September 2026 10:23
Jejak Mikroplastik di Outfit Gen Z
Pakaian sintetis melepaskan mikroplastik saat dicuci. Di balik tren fast fashion, ada jejak tak kasatmata yang ikut mengalir ke lingkungan.

DREAM.CO.ID - Outfit adalah selera. Begitulah bagi Gen Z. Busana bukan lagi sekadar kain yang dipakai. Baju sudah menjadi gaya berekspresi, membentuk identitas, sekaligus cara mengikuti tren media sosial.

Karena itu jangan heran kalau wardrobe selalu penuh. Mode berubah cepat. Saat outfit lama belum sempat usang, model baru sudah datang. Pakaian lama segera bergeser ke sudut lemari. Semua berubah dalam sekejap, sesuai tren.

Tapi jangan terkecoh dengan look yang silih berganti itu. Sebab, ada jejak tak kentara di balik tumpukan baju kekinian.

Mari buka almari. Cek bahan koleksi kita. Mungkin diantara busana kesayangan kita terbuat dari serat sintetis, seperti polyester, nilon, acrylic, maupun polypropylene. Semua polimer sintetis. United Nations Environment Programme (UNEP) menyebut sekitar 60 persen material pakaian terbuat dari plastik: polyester, acrylic, dan nilon.

Masalah dimulai saat pencucian. Bahan-bahan sintetis itu bisa melepaskan serat plastik berukuran mikro. Saat mesin cuci berputar, perjalanan panjang mereka dimulai. Mengalir dari sumur hingga laut, terbawa air limbah. Catatan UNEP memperkirakan tekstil menyumbang sekitar 9 persen mikroplastik di laut.

Fashion Gen Z (Pexels.com-Anggit Priyandani)

Ketika Outfit Masuk Mesin Cuci

Jumlah serat yang dilepas tekstil berbeda. Itu hasil riset pelepasan mikroserat dari 12 jenis tekstil polyester yang dilakukan Yapping Cai dan kolega dari dua lembaga penelitian Swiss -Swiss Federal Laboratories for Materials Science and Technology serta Swiss Federal Institute of Aquatic Science and Technology.

Penelitian itu diterbitkan 2020 di Environmental Science & Technology. Namun bahan yang sama belum tentu melepas serat dalam jumlah sama pula. Struktur kain dan karakteristik tekstil ikut menentukan.

Penelitian lain terbit pada 2024 dalam Environmental Pollution. Riset ini menguji lima jenis bahan sintetis: acrylic, polyamide, polyester, recycled polyester, dan polypropylene. Sampel acrylic tenun melepaskan hingga 2.405 mikroserat, paling banyak di antara bahan lain.

Riset itu juga menunjukkan recycled polyester melepaskan lebih banyak mikroserat dibandingkan polyester biasa, masing-masing 1.193 dan 908 mikroserat. Bukan berarti polyester daur ulang selalu lebih buruk, melainkan penggunaan bahan daur ulang tidak otomatis menghilangkan persoalan pelepasan mikroserat.

Cara pakaian dibuat juga berpengaruh. Penelitian tersebut menemukan kain tenun melepaskan lebih banyak mikroserat dibandingkan kain rajut. Kain yang lebih tebal dan berat cenderung melepaskan lebih banyak serat.

Indonesia juga punya penelitian. Pada 2022, Putri Nur Rizkia dari UPN Veteran meneliti mikroplastik tipe serat limbah laundry di Surabaya. Analisis FTIR menunjukkan serat polimer nilon, polyethylene terephthalate (PET), dan polypropylene.

Fashion Gen Z (Pexels.com-FO Aryahito)

Analisis FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy) digunakan untuk mengidentifikasi jenis material berdasarkan pola penyerapan sinar inframerah. Metode ini membantu memastikan apakah partikel merupakan plastik sekaligus menentukan jenis polimernya, seperti polyethylene (PE) atau polyester.

Penelitian limbah laundry juga dilakukan di Pontianak. Kali ini oleh Rizqa Khairunnisa, Kiki Prio Utomo, dan Aini Sulastri, dari Universitas Tanjungpura. Mereka mengambil sampel dari proses pencucian, pembilasan, dan pengeringan.

Hasilnya, seluruh sampel mengandung mikroplastik berbentuk fiber. Analisis FTIR mengidentifikasi acrylonitrile butadiene styrene (ABS) pada sampel pencucian pertama dan polyethylene pada sampel tahap berikutnya.

Tahap pencucian melepaskan mikroplastik paling banyak, rata-rata 2.239 partikel per liter. Namun bukan berarti setiap kali cuci, sebanyak itu mikroplastik terlepas. Deterjen, umur pakaian, sistem putaran, dan keberadaan air, juga memengaruhi pelepasan serat.

Yang tak kalah penting, penelitian itu menunjukkan bahwa air limbah pencucian pakaian di Indonesia dapat membawa mikroplastik berbentuk serat.

Riset tingkat global juga ada. Pada 2024, Journal of Hazardous Materials meneliti pelepasan mikroplastik aktivitas laundry rumah tangga. Mesin cuci diperkirakan menyumbang 93,7 persen emisi microplastic fibers (MPF) dari aktivitas laundry.

Studi itu juga memperkirakan sekitar 3,71 juta ton MPF dihasilkan aktivitas binatu Asia, lebih tinggi dari Amerika Utara dan Eropa. Namun data itu merupakan hasil pemodelan, bukan pengukuran langsung seluruh mesin cuci di dunia.

Perlu dicatat pula, tidak semua mikroserat adalah mikroplastik. Bisa jadi serat kapas. Meski begitu, studi-studi ini menguatkan bahwa aktivitas mencuci pakaian punya peran penting pelepasan serat mikroplastik dari tekstil.

25 Kata-Kata Semangat ala Gen Z untuk Motivasi Harian Kekinian

Fast Fashion dan Gen Z

Problem itu bertemu dengan cara berpakaian masa kini. Fast fashion bersiklus cepat. Tren bisa berubah tiap pekan. Busana diproduksi masal. Harga pun kian terjangkau. Media sosial menjadi mesin yang mempercepat pergantian tren.

Young Dy Lika, Nelson Fianto, dan Ina Agustini Murwani, dari Bina Nusantara University memotret konsumen Gen Z pada pola tersebut dalam penelitian berjudul Gen Z Fast-Fashion Preferences and Attitudinal Ambivalence in Indonesia. Studi yang dipublikasikan pada Desember 2025 itu memuat respons 307 Gen Z Indonesia berusia 15–29 tahun.

Gen Z responden penelitian ini merupakan konsumen yang membeli produk fast fashion tiga kali dalam enam bulan terakhir –saat riset itu dilakukan. Penelitian tersebut melihat preferensi terhadap fast fashion dan eco-fashion, termasuk faktor harga, media sosial, ulasan, serta pilihan produk.

Meski demikian, data ini tidak bisa diartikan bahwa Gen Z menjadi penyebab utama persoalan mikroplastik tekstil. Studi ini tidak mengukur pelepasan mikroplastik dari pakaian. Namun dari riset ini kita tahu sebagian Gen Z masuk ekosistem fast fashion yang produknya menggunakan serat sintetis.

Jadi, persoalan bukan berhenti pada berapa banyak pakaian dibeli. Tapi juga bahan yang digunakan, berapa lama dipakai, seberapa sering dicuci, cara mencuci, dan ke mana serat yang terlepas akhirnya pergi.

Bagi konsumen, serat itu tak kasat mata. Namun bagi lingkungan, jejaknya bisa jauh lebih panjang daripada umur sebuah tren.

Beri Komentar