© Pexels.com/Peter Kambey
DREAM.CO.ID - Media sosial awalnya hadir sebagai cara sederhana untuk berbagi foto, berkomunikasi, dan mengikuti kehidupan orang lain. Namun, kebiasaan membuka media sosial berkali-kali dalam sehari ternyata dapat memengaruhi suasana hati. Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara penggunaan media sosial dan meningkatnya gejala depresi, meski para peneliti masih terus mencari tahu bagaimana hubungan tersebut terjadi.
Salah satu penelitian yang dikutip dalam sumber menemukan bahwa pengguna media sosial mengalami peningkatan rata-rata 70 persen pada gejala depresi. Temuan tersebut bukan berarti semua orang harus berhenti menggunakan media sosial. Namun, memahami alasan di balik munculnya perasaan sedih setelah berlama-lama menggulir layar dapat membantu seseorang mengatur kebiasaan digitalnya.
1. Terlalu Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Salah satu penjelasan yang paling banyak mendapat perhatian adalah perbandingan sosial. Ketika membuka media sosial, seseorang biasanya tidak melihat kehidupan orang lain secara utuh, melainkan versi yang sudah dipilih, disaring, dan ditampilkan agar terlihat menarik.
Psikolog Oscar Ybarra menjelaskan bahwa aktivitas membuka media sosial dapat secara otomatis memicu perbandingan sosial, bahkan tanpa disadari pengguna. Foto liburan, pencapaian pekerjaan, hubungan romantis, penampilan, hingga gaya hidup yang terlihat sempurna dapat membuat seseorang bertanya apakah kehidupannya sudah sebaik orang lain.
Masalahnya, perbandingan tersebut sering dilakukan dengan membandingkan kehidupan sehari-hari yang penuh persoalan dengan kehidupan orang lain yang hanya ditampilkan melalui momen terbaiknya.
Media sosial juga membuat seseorang terus mengetahui kegiatan orang lain, termasuk ketika dirinya tidak ikut serta. Kondisi ini dapat memunculkan fear of missing out atau FOMO, yakni perasaan takut kehilangan pengalaman atau kesempatan yang sedang dinikmati orang lain.
Psikolog Amy Summerville menjelaskan bahwa FOMO dapat muncul ketika seseorang melihat aktivitas orang-orang yang memiliki hubungan sosial penting dengannya. Bahkan, perasaan tersebut bisa muncul meskipun seseorang sebenarnya sengaja tidak mengikuti kegiatan tersebut.
FOMO membuat pengguna merasa seperti berada di luar lingkaran sosial, sementara orang lain sedang menjalani kehidupan yang lebih menyenangkan.
Kebiasaan menggulir layar tanpa henti juga dapat memperburuk suasana hati. Doomscrolling membuat seseorang terus mencari dan menyerap informasi sebanyak mungkin, sehingga akhirnya merasa kewalahan dan kehilangan kendali.
Semakin lama seseorang menggulir layar, semakin banyak pula konten yang masuk. Jika sebagian besar konten tersebut memicu kecemasan, iri hati, atau perbandingan sosial, dampaknya terhadap suasana hati bisa semakin terasa.
Penggunaan media sosial dalam jumlah besar juga dapat mengurangi waktu untuk tidur. Sebuah survei pada 2015, misalnya, menemukan bahwa sebagian remaja menghabiskan sembilan jam atau lebih sehari menggunakan media sosial.
Kurangnya waktu tidur kemudian dapat membuat seseorang merasa lelah dan kekurangan energi pada siang hari. Kondisi tersebut dapat ikut memengaruhi suasana hati dan kesejahteraan secara keseluruhan.
Berbeda dengan bentuk perundungan konvensional, media sosial memungkinkan seseorang mengalami perundungan melalui ruang digital. Survei pada 2020 yang dikutip sumber menunjukkan sekitar separuh remaja pernah mengalami cyberbullying.
Dampaknya tidak boleh dianggap ringan. Sumber juga mencatat adanya peningkatan 20 persen sejak 2009 pada remaja yang mencoba mengakhiri hidup, meskipun belum ada bukti kuat yang secara langsung menghubungkan peningkatan tersebut dengan media sosial.
Para peneliti masih belum memiliki jawaban pasti mengenai dampak jangka panjang media sosial terhadap kesehatan mental. Karena itu, penggunaan media sosial tidak otomatis harus dihentikan. Namun, jika seseorang mulai merasa lebih sedih, kesepian, lelah, atau terus-menerus membandingkan diri setelah menghabiskan waktu di media sosial, mengambil jeda mungkin layak dipertimbangkan.
Mengurangi waktu penggunaan, membatasi akun yang diikuti, dan menghindari konten yang terus memicu perbandingan dapat menjadi langkah awal untuk membuat pengalaman bermedia sosial lebih sehat.
Advertisement
AI Kini Jadi Penasihat Kecantikan Baru, Ungkap Studi Maverick Indonesia

Thrifting Favorit Gen Z, Tonjolkan Personal Style dan Ekonomi Sirkular

Sraya Nusa Buka Babak Baru Diadona.id, Bangun Ruang Kolaborasi Untuk Perempuan Indonesia

Sehari dalam Kehidupan Purbaya

XLSMART Raih Apresiasi Perempuan Berpengaruh 2026 Kategori Future Forward Lewat Sisternet


Lebih Sehat Mana antara Susu Full Cream atau Susu Skim untuk Kesehatan Jantung?

AI Kini Jadi Penasihat Kecantikan Baru, Ungkap Studi Maverick Indonesia

Apa Sih Artinya Incel? Ketika Istilah Jomblo Berkembang Menjadi Subkultur di Internet

Memasuki Usia 50 Tahun, Ini Pemeriksaan dan Vaksin yang Sebaiknya Tidak Dilewatkan

10 Mitos Kesehatan yang Masih Banyak Dipercaya, Padahal Tidak Sepenuhnya Benar


Kisah Elisabeth dan 5 Anaknya Tinggal di Huntara Usai Gempa NTT, Menanti Rumah Baru