© Pexels.com/Tim Samuel
DREAM.CO.ID - Bayangkan seseorang baru saja berjanji mengurangi makanan manis. Sepulang kerja, ia melewati sebuah toko dan melihat kue cokelat yang sejak pagi sudah terbayang di kepalanya. Ia akhirnya membeli satu potong, menikmatinya sampai habis, lalu beberapa menit kemudian muncul perasaan, " Seharusnya saya tidak makan ini."
Situasi serupa bisa terjadi ketika seseorang menonton serial sampai larut malam padahal harus bangun pagi, membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, atau menghabiskan waktu berjam-jam bermain gim ketika pekerjaan masih menunggu.
Dalam percakapan sehari-hari, pengalaman semacam itu sering disebut guilty pleasure atau kesenangan yang disertai rasa bersalah. Istilah ini sebenarnya tidak selalu merujuk pada sesuatu yang buruk. Yang membuat sebuah aktivitas terasa sebagai guilty pleasure justru sering kali adalah adanya benturan antara kesenangan sesaat dengan aturan, tujuan, atau standar yang dimiliki seseorang.
Dalam kajian perilaku konsumen, para peneliti melihat bahwa konsumsi yang menyenangkan dapat berubah menjadi " indulgence" ketika bertentangan dengan tujuan jangka panjang seseorang. Makan cokelat, misalnya, pada dasarnya merupakan pengalaman yang menyenangkan. Namun, jika seseorang sedang berusaha membatasi konsumsi gula, makanan yang sama dapat memunculkan konflik antara keinginan menikmati makanan dan tujuan menjaga pola makan. Penelitian mengenai konsumsi makanan hedonis menunjukkan bahwa konflik tujuan tersebut menjadi salah satu faktor penting yang membedakan kesenangan biasa dengan indulgence.
Menariknya, rasa bersalah tidak selalu membuat pengalaman tersebut terasa lebih menyenangkan. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Appetite menemukan bahwa orang yang memiliki tingkat pembatasan makan tinggi dapat mengalami rasa bersalah bahkan ketika baru membayangkan mengonsumsi makanan yang dianggap sebagai " godaan" . Rasa bersalah tersebut kemudian dapat mengurangi kemampuan mereka menikmati makanan yang sebenarnya mereka sukai. Para peneliti bahkan menggunakan istilah " guilty displeasure" , yakni situasi ketika seseorang seharusnya menikmati sesuatu tetapi rasa bersalah justru mengurangi kenikmatannya.
Hal serupa dapat muncul dalam bentuk lain. Seseorang mungkin merasa bersalah setelah membeli pakaian baru karena sedang berusaha menabung. Orang lain merasa bersalah setelah bermain gim selama beberapa jam karena menganggap waktunya seharusnya digunakan untuk bekerja. Ada pula yang menikmati menonton acara televisi atau membaca novel populer yang sebenarnya tidak dianggap " produktif" , tetapi tetap memberikan hiburan setelah menjalani hari yang melelahkan.
Di sinilah konsep guilty pleasure menjadi menarik. Masalahnya bukan selalu pada aktivitas tersebut, melainkan pada konflik antara kesenangan dan tujuan pribadi. Sebuah aktivitas dapat menjadi guilty pleasure bagi satu orang, tetapi sama sekali tidak menimbulkan rasa bersalah bagi orang lain. Makan es krim setelah makan malam, misalnya, mungkin menjadi kesenangan biasa bagi seseorang, tetapi menjadi guilty pleasure bagi orang yang sedang menjalani aturan diet tertentu.
Penelitian juga menunjukkan bahwa rasa bersalah terhadap makanan tidak selalu menghasilkan perilaku yang lebih sehat. Dalam sebuah studi yang membandingkan respons terhadap kue cokelat, orang yang mengaitkan makanan tersebut dengan rasa bersalah justru menunjukkan persepsi kontrol yang lebih rendah terhadap pola makan dan hasil pengelolaan berat badan yang kurang baik dibandingkan mereka yang mengaitkannya dengan perayaan.
Karena itu, istilah guilty pleasure sebaiknya tidak selalu dipahami sebagai tanda bahwa seseorang melakukan sesuatu yang salah. Yang lebih penting adalah melihat seberapa sering, seberapa banyak, dan apakah aktivitas tersebut mengganggu tujuan yang lebih penting. Menonton satu episode serial sebelum tidur tentu berbeda dengan kebiasaan begadang setiap malam hingga mengganggu pekerjaan dan kesehatan.
Pada akhirnya, guilty pleasure memperlihatkan bahwa manusia tidak selalu mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan rasional jangka panjang. Kita juga mencari hiburan, kenyamanan, penghargaan, dan pelepasan dari tekanan sehari-hari. Penelitian terbaru tentang indulgence bahkan menunjukkan bahwa kesenangan dapat menjadi bagian dari pencapaian tujuan jangka panjang jika dilakukan secara adaptif, sementara konflik berlebihan antara kesenangan dan tujuan justru dapat membuat aktivitas tersebut terasa penuh tekanan.
Jadi, ketika seseorang mengatakan, " Ini guilty pleasure saya," yang dimaksud sebenarnya bukan sekadar kesenangan yang dianggap memalukan. Istilah itu menggambarkan tarik-menarik antara apa yang ingin kita nikmati sekarang dan apa yang kita anggap seharusnya kita lakukan. Dalam batas yang wajar, menikmati sesuatu yang sederhana mungkin bukan persoalan yang perlu disesali. Yang perlu diperhatikan adalah ketika " kesenangan kecil" berubah menjadi kebiasaan yang mulai mengambil alih tujuan hidup yang lebih besar.
Advertisement


ShopeeVIP+ Hadirkan Pengalaman ‘Sekali Langganan, Dapat Semua’, Semakin Lengkap dengan Akses Netflix


Dopamine Anchoring: Cara Menurut Ahli agar Otak Mau Mengerjakan Tugas Membosankan


Helikopter Dikerahkan Cari 5 Jurnalis yang Hilang Kontak di Selat Sunda

Kenapa Tidur Siang Justru Bikin Badan Lemas dan Mood Berantakan Saat Bangun?