Kasus Kanker Dunia Diprediksi Naik 67 Persen pada 2050, Hampir Separuh Kematian Bisa Dicegah

Reporter : Abidah
Sabtu, 12 September 2026 12:00
Kasus Kanker Dunia Diprediksi Naik 67 Persen pada 2050, Hampir Separuh Kematian Bisa Dicegah
Kasus kanker global diproyeksikan mencapai 34 juta pada 2050, naik 67 persen dari 2024. Peneliti menyebut hampir separuh kematian kanker dapat dicegah.

DREAM.CO.ID - Jumlah kasus kanker di dunia diperkirakan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang. Peneliti memperkirakan sekitar 34 juta kasus kanker baru dapat terjadi setiap tahun pada 2050. Angka tersebut meningkat sekitar 67 persen dibandingkan jumlah kasus pada 2024.

Proyeksi ini menjadi bagian dari Global Cancer Statistics 2026, analisis yang melibatkan peneliti dari American Cancer Society (ACS) dan International Agency for Research on Cancer (IARC), badan khusus kanker milik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Berdasarkan data GLOBOCAN 2024, hampir 21 juta orang di seluruh dunia didiagnosis mengalami kanker pada 2024. Pada tahun yang sama, sekitar 9,8 juta orang meninggal akibat penyakit tersebut.

Peneliti memperkirakan sekitar satu dari lima orang di dunia akan mengalami kanker sepanjang hidupnya. Sementara itu, risiko meninggal akibat kanker diperkirakan mencapai satu dari sembilan laki-laki dan satu dari 13 perempuan.

Populasi Menua Dorong Kenaikan Kasus Kanker

Kenaikan kasus kanker hingga sekitar 34 juta per tahun pada 2050 terutama dipengaruhi pertumbuhan dan penuaan populasi dunia. Semakin banyak orang hidup hingga usia lanjut, semakin besar pula jumlah orang yang berada dalam kelompok usia dengan risiko kanker lebih tinggi.

Artinya, peningkatan tersebut tidak seluruhnya menunjukkan bahwa setiap individu akan memiliki risiko kanker yang lebih tinggi. Perubahan demografi menjadi salah satu faktor utama yang membuat jumlah kasus secara keseluruhan meningkat.

Namun, beban kanker tidak dirasakan secara sama oleh semua negara dan wilayah. Analisis menunjukkan angka kejadian kanker dapat berbeda sekitar empat hingga lima kali lipat antarwilayah.

Australia dan Selandia Baru memiliki angka kejadian kanker tertinggi, sedangkan beberapa wilayah Afrika dan Asia Selatan-Tengah mencatat angka yang lebih rendah.

Rendahnya angka diagnosis di suatu wilayah juga perlu dilihat secara hati-hati. Keterbatasan fasilitas kesehatan, pemeriksaan kanker, tenaga medis, dan akses terhadap layanan pengobatan dapat membuat sebagian kasus tidak terdeteksi atau baru diketahui ketika penyakit sudah memasuki tahap lanjut.

1 dari 4 halaman

Kanker Paru-paru Masih Menjadi Penyebab Utama

Di antara berbagai jenis kanker, kanker paru-paru masih menjadi kanker dengan jumlah kasus baru dan kematian tertinggi di dunia.

Pada 2024, sekitar 2,6 juta kasus baru kanker paru-paru tercatat secara global. Angka tersebut setara dengan sekitar 13 persen dari seluruh kasus kanker. Penyakit ini juga menyebabkan sekitar 1,9 juta kematian atau 19 persen dari seluruh kematian akibat kanker.

Penggunaan tembakau tetap menjadi faktor risiko utama kanker paru-paru. Karena itu, pengendalian konsumsi tembakau menjadi salah satu strategi penting untuk menekan beban kanker pada masa mendatang.

Selain kanker paru-paru, kanker payudara juga menjadi salah satu kanker yang paling banyak ditemukan. Sekitar 2,4 juta kasus baru dan 694.000 kematian akibat kanker payudara tercatat pada 2024.

Kanker payudara bahkan menjadi kanker dengan angka kejadian dan kematian tertinggi pada perempuan secara global.

 

2 dari 4 halaman

Kesenjangan Pengobatan Masih Menjadi Masalah

Data kanker payudara juga menunjukkan adanya kesenjangan kesehatan yang cukup besar antarwilayah.

Perempuan di Afrika Barat memiliki kemungkinan meninggal akibat kanker payudara sekitar dua kali lebih tinggi dibandingkan perempuan di Australia dan Selandia Baru. Padahal, angka kejadian kanker payudara di Afrika Barat hanya sekitar setengah dari angka di Australia dan Selandia Baru.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa jumlah kasus bukan satu-satunya persoalan. Kemampuan mendeteksi kanker sejak dini dan memperoleh pengobatan yang tepat juga sangat menentukan kemungkinan seseorang bertahan hidup.

Kanker kolorektal menempati posisi berikutnya dengan lebih dari 2 juta kasus baru dan sekitar 918.000 kematian pada 2024. Sementara itu, kanker hati menyebabkan sekitar 843.000 kasus dan 732.000 kematian.

Pada laki-laki, kanker prostat menjadi salah satu beban kanker terbesar dengan sekitar 1,5 juta kasus baru dan 420.000 kematian.

 

3 dari 4 halaman

Kanker Serviks Sebenarnya Banyak yang Bisa Dicegah

Kanker serviks masih menjadi persoalan besar meskipun dunia telah memiliki vaksin human papillomavirus (HPV) dan metode skrining untuk mendeteksi perubahan sel sejak dini.

Pada 2024, kanker serviks menjadi penyebab utama kematian akibat kanker pada perempuan di 26 negara, terutama di kawasan Afrika sub-Sahara serta sejumlah negara di Amerika Selatan dan Amerika Tengah.

Sementara itu, kanker lambung menyebabkan sekitar 980.000 kasus dan 642.000 kematian. Kanker pankreas memiliki karakteristik berbeda. Jumlah kasusnya berada di peringkat ke-11, tetapi penyakit ini menyebabkan sekitar 491.000 kematian sehingga menempati posisi keenam sebagai penyebab kematian akibat kanker.

 

4 dari 4 halaman

Hampir Separuh Kematian Kanker Diperkirakan Bisa Dicegah

Di tengah proyeksi meningkatnya kasus kanker, peneliti juga menemukan alasan untuk tidak melihat masa depan secara pesimistis.

Hampir separuh kematian akibat kanker diperkirakan dapat dicegah dengan mengendalikan faktor risiko yang sebenarnya dapat dimodifikasi. Upaya tersebut mencakup berhenti menggunakan tembakau, menghindari alkohol, menjaga berat badan tetap sehat, meningkatkan aktivitas fisik, serta mencegah infeksi yang berkaitan dengan kanker.

Deteksi dini dan pengobatan yang tepat waktu juga memiliki peran penting, terutama di negara dengan akses layanan kesehatan yang masih terbatas.

Karena setiap wilayah memiliki pola kanker dan faktor risiko yang berbeda, strategi penanggulangannya tidak dapat disamakan. Namun, para peneliti menekankan bahwa pencegahan perlu menjadi prioritas dalam menghadapi pertumbuhan beban kanker global.

Jika proyeksi 34 juta kasus pada 2050 benar-benar terjadi, sistem kesehatan dunia akan menghadapi tekanan yang jauh lebih besar. Karena itu, mengurangi faktor risiko sejak sekarang, memperluas pemeriksaan, dan memastikan akses pengobatan yang lebih merata menjadi langkah penting agar peningkatan jumlah kasus tidak selalu berujung pada peningkatan kematian akibat kanker.

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More