Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi
MK Sudah Putus, Drama Ijazah Gibran Belum Tamat
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?
© Rei Artur pt en Rei Artur Blog derivative Work Abhijitsathe
DREAM.CO.ID - Jauh sebelum dikenal luas sebagai Sumatera, pulau besar di bagian barat Nusantara ini ternyata memiliki banyak nama. Ada Svarnadwipa yang berarti “ Pulau Emas”, Svarnabhumi atau “ Tanah Emas”, Andalas, Perca, hingga nama yang berkaitan dengan Samudera di Aceh. Perbedaan nama itu bukan sekadar persoalan bahasa, tetapi merekam hubungan Sumatera dengan perdagangan, kerajaan, kekayaan alam, dan para pelaut dari berbagai wilayah Asia.
Salah satu nama paling tua yang sering dikaitkan dengan Sumatera adalah Svarnadwipa. Istilah dari bahasa Sanskerta tersebut berarti “ Pulau Emas”. Sejumlah sumber kebudayaan Indonesia mencatat bahwa nama ini digunakan untuk menggambarkan Sumatera yang dikenal memiliki sumber emas. Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V menyebut Svarnabhumi dan Svarnadwipa sebagai sebutan yang berkaitan dengan kekayaan emas di wilayah Sumatera. Bahkan, emas dari kawasan sekitar Jambi dan daerah pedalaman Sumatera telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan sejak masa awal.
Jejak sebutan tersebut juga ditemukan dalam sumber sejarah Indonesia kuno. Prasasti Padang Roco tahun 1286, misalnya, mencantumkan istilah swarnnabhūmi dan bhūmi mālayu. Swarnnabhūmi berarti “ Tanah Emas”, sedangkan bhūmi mālayu merujuk pada “ Tanah Melayu”. Sementara itu, sumber kebudayaan Indonesia mencatat bahwa Sumatera juga dikenal sebagai Svarnabhumi dalam konteks peninggalan masa klasik.
Namun, Sumatera tidak hanya dikenal sebagai negeri emas. Dalam berbagai sumber sejarah, pulau ini juga memiliki sejumlah nama lain, termasuk Andalas dan Perca. Dokumen yang dihimpun Kementerian Pendidikan mencatat berbagai nama yang pernah digunakan untuk menyebut Sumatera, seperti Ophir, Ramni, Al-Rami, Java Minor, Samatra, Sumotra, Zamatra, Indalas, Andalas, dan Perca. Banyaknya variasi tersebut menunjukkan bahwa nama pulau ini berubah mengikuti bahasa dan tradisi para penulis atau pelaut yang mengenalnya.
Nama Andalas sendiri memiliki penjelasan yang menarik. Universitas Andalas mencatat bahwa nama tersebut dikaitkan dengan pohon andalas atau andaleh dalam bahasa Minangkabau, yang secara ilmiah dikenal sebagai Morus macroura. Pohon ini disebut sebagai tanaman endemik Sumatera dan kemudian menjadi flora maskot Sumatera Barat. Karena itu, Andalas tidak sekadar menjadi nama lama sebuah pulau, tetapi juga tetap hidup sebagai identitas budaya hingga sekarang.
Di sinilah sejarah penamaan pulau tersebut menjadi lebih menarik. Salah satu penjelasan yang paling banyak dikutip menghubungkannya dengan Samudera, kerajaan di pesisir timur Aceh yang kemudian dikenal sebagai bagian dari Samudera Pasai. Pada abad ke-14, pengembara Maroko Ibnu Battutah mengunjungi kawasan tersebut. Catatan mengenai pengucapan nama Samudera dalam berbagai sumber kemudian dikaitkan dengan bentuk seperti Samatrah atau Sumatra. Nama dengan bentuk yang serupa akhirnya muncul dalam berbagai catatan dan peta Eropa.
Akan tetapi, asal-usul nama Sumatra tidak sepenuhnya memiliki satu penjelasan yang disepakati. Ada pula kajian yang menghubungkannya dengan nama Sumatrabhumi. Sumber-sumber sejarah mencatat bahwa bentuk awal nama Sumatra sudah muncul dalam konteks hubungan antara penguasa Sumatera dan China sebelum nama tersebut kemudian digunakan secara lebih luas. Karena itu, hubungan antara Sumatra, Sumatrabhumi, dan Samudera menjadi bagian dari perdebatan mengenai asal-usul nama pulau tersebut.
Yang menarik, nama-nama itu tidak selalu digunakan untuk seluruh pulau dengan pengertian yang sama. Catatan Arab, India, China, dan Eropa memiliki cara berbeda dalam menyebut wilayah yang mereka kenal. Dalam sumber Islam, misalnya, Sumatera pernah disebut dengan nama seperti Râmî, Râmnî, Lamari, dan Andalas. Marco Polo juga menggunakan penyebutan yang berbeda ketika mencatat wilayah di bagian utara pulau tersebut.
Memasuki abad ke-16, bentuk Sumatra dan variasinya semakin sering muncul dalam peta dan catatan pelaut Eropa. Sejumlah peta menggunakan bentuk seperti Samatara, Samatra, Camatra, Camatora, hingga Somatra. Lambat laun, bentuk Sumatra menjadi semakin dominan dan kemudian berkembang menjadi Sumatera dalam penggunaan bahasa Indonesia.
Karena itu, perjalanan nama Sumatera sebenarnya merupakan perjalanan panjang sebuah pulau yang sejak berabad-abad lalu berada di tengah jaringan perdagangan Asia. Svarnadwipa menggambarkan kekayaan emasnya, Andalas mengingatkan pada identitas tumbuhan dan tradisi lokal, Samudera berkaitan dengan kerajaan penting di Aceh, sedangkan Sumatra merupakan nama yang akhirnya bertahan dan digunakan secara luas.
Satu pulau ternyata dapat memiliki banyak nama karena setiap zaman dan masyarakat melihatnya dari sudut yang berbeda. Nama-nama tersebut menjadi semacam arsip sejarah: menyimpan jejak kekayaan alam, kerajaan, perdagangan, bahasa, dan perjumpaan antara masyarakat Nusantara dengan dunia luar.
Advertisement
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama

IHSG Dibuka Menguat, Investor Pantau Laporan Cadev RI

MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah Setara SMA, Tapi Tak Bisa Batalkan Status Wapres


Kenapa Pekerjaan Baru di Usia 30-an Bisa Membuat Kita Merasa Bodoh Lagi?

Setir Mobil Tiba-Tiba Berat Diputar? Ini 4 Penyebab dan Cara Mengeceknya


Pepaya vs Mangga, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah dan Pencernaan?

Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series

Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya