© Plasticcollective.co/
DREAM.CO.ID - Oktober tahun lalu, pernyataan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sempat viral: warga Jakarta diminta " pakai masker atau jangan langsung keluar setelah hujan." Warganet merespons imbauan ini dengan beragam reaksi, mulai dari sindiran, kritik tajam soal minimnya solusi pada akar masalah, sampai diskusi serius tentang riset ilmiah seputar bahaya plastik bagi kesehatan tubuh.
Sebagian warganet menyindir dengan nada satire, seperti pertanyaan " Pakai masker dan tidak keluar rumah, solusinya punya mobil dan banyak uang ya, Pak?" Kritik lain menyoroti bahwa imbauan tersebut memang penting, tapi pemerintah dinilai belum menyentuh akar masalah: penggunaan plastik yang masif dalam industri makanan dan minuman.
Sebagian warganet lain justru membahas berbagai penelitian tentang bahaya mikroplastik bagi kesehatan manusia, mulai dari riset lembaga internasional hingga temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Saat pernyataan itu viral, sejumlah wilayah Indonesia termasuk Jakarta memang diguyur hujan lebat. Pada 17 Oktober 2025, peneliti BRIN Muhammad Reza Cordova merilis temuan bahwa air hujan di Jakarta mengandung mikroplastik. Penelitian yang berjalan sejak 2022 ini menemukan partikel-partikel mikroskopis dari limbah plastik yang melayang di udara akibat aktivitas manusia. Reza menjelaskan, " Yang beracun bukan air hujannya, tetapi partikel mikroplastik di dalamnya karena mengandung bahan kimia aditif atau menyerap polutan lain."
Hujan merupakan salah satu keseharian yang ditemui oleh masyarakat yang tinggal di negara tropis. Oleh karena itu, imbauan Menteri Kesehatan semakin relevan untuk diperhatikan di tengah musim hujan yang akan datang.
Secara sederhana, mikroplastik adalah limbah plastik yang mengalami proses penguraian. Sinar matahari dan paparan lingkungan membuat kantong plastik menjadi rapuh dan pecah menjadi potongan-potongan berukuran di bawah lima milimeter. Ukurannya yang kecil membuat mikroplastik bisa bertahan lama di tanah dan melayang bebas di udara.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah membahas asal-usul mikroplastik ini lewat laporan berjudul Microplastics in Drinking Water yang dirilis pada 28 Agustus 2019. Dalam laporan itu, WHO mendesak dunia melakukan riset yang lebih rinci dan mendalam soal dampak akumulasi nanoplastik, partikel yang ukurannya lebih kecil dari mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh manusia.
Bagaimana Mikroplastik Masuk ke Tubuh Kita?
Berbagai lembaga riset dunia sudah menguraikan secara rinci proses masuknya mikroplastik ke tubuh manusia. Wasser 3.0, lembaga nonprofit asal Jerman yang fokus pada inovasi teknologi lingkungan dan polusi mikroplastik, menjelaskan bahwa mikroplastik terakumulasi lewat rantai makanan, mulai dari makanan berkemasan plastik, minuman berkemasan plastik, hingga udara yang kita hirup sehari-hari. Sejumlah lembaga lain turut melaporkan jalur masuk mikroplastik dalam skala sangat kecil lewat produk perawatan tubuh yang mengandung microbeads.
Apa Dampaknya bagi Tubuh Manusia?
Berbagai lembaga penelitian kesehatan dunia sudah meneliti dampak mikroplastik terhadap tubuh manusia. Dampak ini bersifat akumulatif, bukan muncul dari satu kali paparan, melainkan menumpuk seiring waktu, dipengaruhi lingkungan tempat tinggal, gaya hidup, dan apa yang kita konsumsi sehari-hari.
Laporan Program Lingkungan PBB (UNEP) berjudul Pollution to Solution menjelaskan bahwa akumulasi mikroplastik dapat memicu gangguan hormon, penurunan kesuburan, dan berbagai risiko penyakit lain. Gangguan pencernaan, sistem imun, dan fungsi organ tubuh juga termasuk dampak yang perlu diwaspadai.
Dunia sudah lama memikirkan cara mengatasi pencemaran plastik ini. Pada Maret 2022, UNEP membentuk Intergovernmental Negotiating Committee on Plastic Pollution dengan target menekan sampah plastik dari kehidupan manusia.
Pada Mei 2026, Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia (KLH) memperkuat kerja sama strategis dengan pemerintah Jepang terkait ekonomi sirkular, pendekatan yang memperpanjang usia kemasan agar tidak berakhir menjadi sampah, sekaligus mengatasi persoalan limbah plastik dan elektronik (e-waste).
Sejumlah perusahaan makanan dan minuman di Indonesia juga sudah menempuh berbagai cara menekan sampah plastik, mulai dari inovasi desain kemasan yang lebih ramah lingkungan, menurunkan ketebalan kemasan, mendaur ulang, mengedukasi masyarakat memilah sampah, hingga membangun jaringan bank sampah.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Langkah paling realistis yang bisa kita lakukan adalah mendukung produk-produk dengan desain kemasan ramah lingkungan, memilah dan membuang sampah pada tempatnya, serta memperbaiki gaya hidup sehari-hari.
Advertisement