© 2026 Garam (Pexels.com-Ron Lach)
DREAM.CO.ID - Sebuah riset terhadap 45 merek garam yang beredar di Indonesia mendapatkan hasil yang mengejutkan. Semua sampel garam yang diuji di laboratorium terbukti mengandung mengandung mikroplastik.
Menurut studi yang dilakukan oleh Yulianto Suteja dan tim tersebut, tingkat kontaminasi pada setiap merek memang tidak sama. Tetapi, riset itu menemukan rata-rata setiap kilogram sampel garam yang diuji mengandung 222 partikel atau 0,222 partikel per gram. Jumlah itu setara 1 partikel dalam 1 sendok teh.
" Dengan asumsi konsumsi 5 gram garam per hari, masyarakat diperkirakan menelan sekitar 1,11 partikel per hari atau 405 partikel mikroplastik per tahun dari garam saja," tulis Yulianto, dikutip dari theconversation.com, Selasa 22 September 2026.
Sebanyak 45 merek garam yang diuji itu umum dikonsumsi masyarakat Indonesia, berdasarkan survei konsumen, dari masing-masing wilayah Indonesia Barat, Tengah, dan Timur.
Dalam pengujian di laboratorium, garam dilarutkan dalam air. Kemdudian, partikel dalam larutan itu dipisahkan dan diamati menggunakan mikroskop.
Partikel yang diduga mikroplastik selanjutnya diverifikasi melalui hot-needle test. Metode ini dilakukan dengan mendekatkan ujung jarum panas ke partikel.

Sementara, sebagian partikel kami analisis menggunakan micro-Fourier Transform Infrared Spectroscopy (μFTIR). Metode ini merupakan teknik analisis kimia yang menggabungkan spektroskopi inframerah (FTIR) dengan mikroskop cahaya. Tujuannya untuk menentukan jenis polimernya.
Penelitian itu menganalisa setiap merek sebanyak tiga kali. Hasilnya, rata-rata kandungan mikroplastik mencapai 222 partikel per kilogram garam.
" Garam yang berasal dari Indonesia Barat memiliki rata-rata tertinggi, yaitu 292 partikel/kg, diikuti Indonesia Tengah 212,9 partikel/kg, dan Indonesia Timur 160,9 partikel/kg," tulis Yulianto.
Garam yang berasal dari Indonesia Barat lebih banyak mengandung mikroplastik berkaitan dengan tingginya pencemaran. Sejumlah laporan sebelumnya menunjukkan kadar pencemaran di perairan Indonesia Barat.
Sembilan sungai yang bermuara ke Teluk Jakarta, tulis Yulianto, diperkirakan membawa lebih dari 66 juta partikel mikroplastik per hari pada musim kemarau. Penelitian lain menyebut kelimpahan mikroplastik di Teluk Jakarta bisa melampaui 70.000 partikel/m³.

Meski demikian, imbuh Yulianto, data tersebut bukan menunjukkan seluruh perairan Indonesia Barat lebih tercemar daripada wilayah lain. Temuan ini merupakan petunjuk bahwa kualitas perairan sumber bahan baku bisa memengaruhi mikroplastik dalam garam.
Dari 1.498 partikel yang ditemukan dalam garam, sebanyak 79,44 persen berbentuk serat dan 19,29 persen berupa fragmen. " Serat umumnya berasal dari tekstil sintetis atau pakaian yang digunakan sehari-hari, sedangkan fragmen terbentuk dari pecahan plastik berukuran lebih besar," tambah Yulianto.
Menurut penelitian itu, mayoritas partikel atau sekitar 59,41 persen berukuran kurang dari seribu mikrometer atau sangat kecil sehingga lebih mudah masuk ke rantai makanan dan berpotensi terakumulasi dalam tubuh organisme, termasuk manusia.
Dari semua mikroplastik yang berhasil diidentifikasi dengan μFTIR, 155 partikel bisa dipastikan jenis polimernya. Chlorobutyl 21,15 persen, polyester fiber 19,87 persen, dan polyisobutylene 19,35 persen, menjadi tiga partikel paling dominan.
" Polimer ini banyak digunakan dalam industri ban, tekstil, dan otomotif," tulis Yulianto. Polimer-polimer ini sudah pernah dilaporkan ditemukan dalam air laut Indonesia, yang menjadi bahan baku pembuatan garam.

Riset itu mengasumsikan konsumsi garam 5 gram per hari, masyarakat Indonesia diperkirakan menelan rata-rata 1,11 partikel mikroplastik per hari atau sekitar 405 partikel per tahun hanya dari garam.
Studi itu juga membuat asumsi berdasarkan umur. Anak-anak diperkirakan menelan rata-rata 548 partikel per tahun. Remaja 569 partikel per tahun, dan 560 pada orang dewasa. Di Indonesia Barat, estimasi untuk remaja bahkan mencapai sekitar 749 partikel per tahun.
" Angka tersebut merupakan estimasi paparan, bukan bukti bahwa konsumsi sebanyak itu menyebabkan penyakit," tegas Yulianto.
Cara mencegah garam sampai ke piring makan tidak cukup dengan membatasi konsumsi garam di tingkat konsumen. Perlu dilakukan tindakan sejak produksi garam dilakukan. Penelitian itu memberi beberapa solusi.
Pertama, penyaringan bertingkat. Teknik filtrasi sederhana dapat mengurangi mikroplastik pada proses produksi garam hingga lebih dari 85–90 persen.

Teknologi membran hollow fiber disebut mampu menyaring hampir seluruh mikroplastik dari air laut. Cara ini dilakukan dengan menyaring air laut menggunakan membran berpori sangat kecil yang mampu menahan partikel mikroplastik.
Kedua, pengawasan proses panen hingga pengemasan garam karena proses pascapanen juga bisa menambah kontaminasi.
Ketiga, pemantauan mikroplastik yang seragam. Belum ada batasan aman mikroplastik untuk dikonsumsi setiap hari dari WHO. Bukti ilmiah mengenai dampaknya terhadap kesehatan manusia masih terbatas dan terus berkembang. Oleh karena itu, perlu pemantauan yang seragam.
Indonesia perlu menyusun standar metode analisis, melakukan pemantauan rutin pada pangan, serta membangun basis data nasional sebagai dasar menetapkan standar dan regulasi di masa mendatang.
Advertisement

9 Kebiasaan dalam Hubungan yang Sering Dikira Toxic, Padahal Bisa Berdampak Positif

Cara Mengurangi Kebiasaan Ngiler Saat Tidur: 6 Langkah yang Bisa Dicoba

Menerka Alasan Nusron Wahid Mundur dari Pengurus Golkar di Tengah Kasus Suap HGB

Pemanasan Global Memutus Hubungan Iklim 400 Tahun antara Samudra Hindia dan Pasifik


Jaz Rowe Ubah Kisah Patah Hati Jadi Sindiran Jenaka dalam 'Belagu'

Aruma Hadirkan EP Terbaru 'Dan Ternyata Aku Cukup', Sebuah Perjalanan Personal untuk Merasa Cukup