Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI
Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli
Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest
3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram
Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian
Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Sahabat Dream pernah kesal tanpa sebab? Mudah sensitif dengan hal sepele? Kayaknya kamu lupa sarapan, nih.
Sebuah studi menyebutkan, kondisi perut mampu memengaruhi aspek psikologis otak. Hal ini disebabkan oleh senyawa neurotransmitters yang mengontrol emosi manusia.
" Teori ini disebut dengan Gut Brain Connection (GBC) dan berkembang sejak 10 tahun terakhir. Dulu orang bilang kalau stress bakal turun ke perut. Misalnya mual karena nervous. Namun ternyata yang terjadi adalah kebalikannya," ujar Taufiq Pasiak, Ahli Neuroanatomi dan Neurosains di konferensi pers Energen, Jakarta, kemarin.
Menurut Taufiq, sarapan tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik tubuh namun juga menjaga ketenangan dan kesabaran emosional.
Neurotransmitters dibentuk mikroba dalam usus yang kemudian berubah menjadi serotonin, atau yang dikenal sebagai hormon pembawa kebahagiaan.
" Kecemasan, depresi dan masalah psikologis lainnya dipengaruhi oleh bakteri di usus sehingga kini pasien gangguan jiwa banyak dicarikan obat untuk perut mereka," tuturnya.
Jangan pernah melewatkan sarapan, sebab perut telah kosong selama 6-8 jam saat tidur di malam hari. Perut yang kosong akan rentan dengan berbagai masalah.
Akibatnya, pembentukan serotonin tidak optimal dan membuat orang lebih mudah sensitif. Kinerja otak menjadi tidak optimal karena tak mampu menyerap zat-zat tertentu.
" Menunya harus gizi seimbang. Nasi bisa diganti ubi, jagung, mie atau roti. Tapi pastikan sumber protein hewani dan nabatinya harus bervariasi. Misalnya telur, ikan dan kacang," imbuhnya. (ism)
Advertisement

Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini

Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian

3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest

Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi

AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
