Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini
Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol
Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?
Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya
Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi
Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis
© Pexels.com/Cottonbro Studio
DREAM.CO.ID - “ Anak zaman sekarang” dianggap kurang sopan, tidak suka membaca, atau bahkan semakin tidak cerdas. Keluhan semacam ini terdengar seperti kritik khas orang tua terhadap generasi yang lebih muda. Namun, penelitian menemukan bahwa anggapan tersebut tidak selalu menggambarkan perubahan nyata pada anak-anak. Sebagian di antaranya mungkin muncul karena cara orang dewasa menilai dirinya sendiri dan mengingat masa lalu.
Penelitian yang diterbitkan dalam Science Advances pada 2019 menguji fenomena yang disebut peneliti sebagai kids these days effect, yakni kecenderungan orang dewasa menganggap generasi muda saat ini memiliki kualitas yang lebih buruk dibandingkan ketika mereka sendiri masih muda. Studi tersebut dilakukan melalui lima penelitian yang telah didaftarkan sebelumnya dengan total ribuan partisipan.
John Protzko dan Jonathan W. Schooler menguji fenomena tersebut pada tiga karakteristik: rasa hormat kepada orang yang lebih tua, kecerdasan, dan kesukaan membaca. Hasilnya menunjukkan bahwa orang dewasa memang cenderung melihat anak-anak masa kini mengalami kemunduran dalam sejumlah aspek.
Namun, ada temuan yang lebih menarik. Penilaian tersebut ternyata lebih kuat pada bidang yang memang menjadi keunggulan orang yang memberikan penilaian.
Dalam penelitian pertama, sebanyak 1.824 orang dewasa Amerika diminta menilai apakah anak-anak masa kini lebih atau kurang menghormati orang yang lebih tua dibandingkan ketika mereka masih kecil. Secara umum, peserta menilai rasa hormat anak-anak sekarang lebih rendah. Menariknya, orang yang memiliki penghormatan lebih tinggi terhadap otoritas juga lebih kuat meyakini bahwa anak-anak sekarang semakin tidak menghormati orang tua.
Pola serupa muncul ketika peneliti menguji kecerdasan. Orang yang memiliki kemampuan lebih tinggi dalam tes kosakata justru lebih mungkin percaya bahwa anak-anak sekarang semakin tidak cerdas. Padahal, penelitian tersebut mencatat bahwa kecerdasan anak-anak di Amerika Serikat justru menunjukkan peningkatan dalam beberapa dekade terakhir.
Hal yang sama ditemukan dalam urusan membaca. Dari 1.500 orang dewasa yang diteliti, mereka yang lebih banyak membaca lebih mungkin percaya bahwa anak-anak zaman sekarang sudah tidak menyukai membaca seperti generasi mereka dahulu. Hubungan tersebut tetap terlihat setelah faktor usia dan orientasi politik diperhitungkan.
Para peneliti kemudian mencoba mencari tahu mengapa pola tersebut muncul. Salah satu penjelasannya adalah kecenderungan manusia lebih mudah memperhatikan kekurangan orang lain pada bidang yang menjadi keunggulannya sendiri.
Ada mekanisme lain yang tidak kalah penting: ingatan manusia terhadap masa lalu ternyata dapat bias. Orang dewasa dapat mengingat dirinya ketika masih kecil berdasarkan kualitas dirinya saat ini. Jika seseorang sekarang sangat gemar membaca, misalnya, ia dapat membayangkan bahwa dirinya dan teman-temannya dahulu juga sangat gemar membaca.
Akibatnya, ketika melihat anak-anak masa kini, mereka membandingkan kondisi nyata yang ada di depan mata dengan ingatan masa lalu yang sudah dipengaruhi persepsi saat ini. Perbedaan itu kemudian tampak seperti kemunduran generasi.
Temuan tersebut diperkuat melalui penelitian kelima yang melibatkan 1.500 orang dewasa Amerika. Peserta secara acak diberi informasi palsu bahwa kemampuan membaca mereka berada di 15 persen teratas atau terbawah populasi. Manipulasi sederhana terhadap persepsi diri tersebut kemudian memengaruhi cara mereka mengingat kesukaan membaca ketika masih kecil dan secara tidak langsung mengubah kecenderungan menilai anak-anak masa kini.
Para peneliti tidak menyimpulkan bahwa setiap kritik terhadap generasi muda pasti keliru. Mereka mengakui bahwa kemunduran nyata dapat terjadi pada bidang tertentu. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian anggapan tentang “ anak zaman sekarang” kemungkinan merupakan ilusi yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Fenomena tersebut bahkan memiliki sejarah sangat panjang. Keluhan bahwa generasi muda semakin buruk telah terdokumentasi setidaknya sejak 624 SM. Menurut peneliti, jika keluhan yang sama terus muncul selama ribuan tahun, kecil kemungkinan seluruh generasi manusia benar-benar mengalami kemunduran tanpa henti.
Dengan demikian, sebelum mengatakan bahwa anak-anak sekarang lebih buruk daripada generasi sebelumnya, ada baiknya mempertanyakan satu hal: apakah mereka benar-benar berubah, atau justru ingatan dan penilaian kita terhadap masa lalu yang berubah?
Advertisement

Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis

Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi

Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya

Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?

Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini

