8 Tanda Tubuh Kebanyakan Kafein, dari Jantung Berdebar hingga Sulit Tidur
Jalan Kaki Bisa Bantu Turunkan Berat Badan, Ini 5 Cara Membuatnya Lebih Efektif
Apa yang Masih Bisa Dilakukan Manusia yang Tak Bisa Dilakukan AI?
Prabowo Ramai-Ramai Dicalonkan Lagi
Ini Satu Hal Sederhana yang Ternyata Bisa Membantu Perawatan Ibu Setelah Melahirkan
Ingin Memperlambat Penuaan? Studi Ungkap Hal yang Mungkin Membantu dan yang Ternyata Tak Banyak Berpengaruh
Langkah Tepat Lindungi Kulit dari Paparan Sinar UV
Sudah Tidur 8 Jam tapi Tetap Lelah? Bisa Jadi Anda Kekurangan 7 Jenis Istirahat Ini
© 2014 Http://www.merdeka.com
DREAM.CO.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat bergerak menguat di sesi pembukaan perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026. Namun penguatan itu masih berada di bawah level 6.000 dan berlangsung singkat di tengah aksi investor yang berhati-hati turun ke lantai bursa seiring sentimen negatif dari domestik dan luar negeri.
Pada sesi pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG dibuka naik sebesar 14,69 poin (0,25%) ke level 5.940, 68 dari posisi penutupan sebelumnya di level 5.925,98.
Penguatan ini didorong oleh volume transaksi perdagangan yang mencapai 2,13 miliar saham dari 33,35 juta kali transaksi dengan nilai mencapai Rp209,9 triliun.
Mengutip data perdagangan BEI, IHSG pagi ini dibuka di level 5.945,69 dan sempat terdorong ke zona merah di 5.923,23. Usai lima menit pembukaan, IHSG mulai menunjukkan perlawanan saat terus bergerak naik dan mencapai posisi puncaknya di 5.978,06 pada perdagangan pukul 09.25 WIB.

Data RTI mencatat 339 saham bergerak menguat sedangkan 196 lainnya mengalami koreksi dan 205 emiten bertahan stagnan.
Hampir seluruh sektor saham hingga pukul 09.35 WIB bergerak menguat dipimpin industri 1,02%, transportasi yang naik 0,83%, energy 0,73%, barang konsumsi non-cylical 0,71%, dan infrastruktur 0,48%. Hanya indeks sektor konsumsi cylical yang bergerak melemah sebesar 0,27%.
Riset dan Phintraco Sekuritas pagi ini mencatat IHSG ditutup melemah pada level 5,925.98 (-0.17%) di perdagangan Selasa (13/10/2026)
setelah sempat menyentuh level terendah intraday pada 5,833. Sentimen negatif masih
berasal dari memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, harga minyak yang
bertahan di level tinggi, ekspektasi akan data inflasi AS, potensi kelanjutan kenaikan
suku bunga the Fed, serta berbagai isu mengenai MSCI dan dampaknya terhadap saham
Indonesia.
![]()
" Secara teknikal, terjadi pelebaran histogram negatif MACD IHSG dan Stochastic RSI bergerak melemah di area pivot. Diperkirakan IHSG akan bergerak sideways pada kisaran 5,800-6,000, selama IHSG ditutup di bawah level 6,000," tulis riset tersebut.
Dari luar negeri, investor akan menantikan data inflasi CPI September yang diperkirakan berakselerasi menjadi 0.6% MoM dan 3.7% YoY dari 0.4% MoM dan 3.4% YoY pada Agustus 2026 (14/10).
Untuk inflasi inti bulan September diperkirakan sebesar 0.2% MoM dan 2.5% YoY dari 0.3% MoM dan 2.4% YoY di posisi Agustus 2026. Inflasi yang lebih tinggi diperkirakan akan meningkatkan peluang bagi the Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan 27-28 Oktober 2026 mendatang.
Sementara riset MNC Sekuritas menuliskan indeks bergerak berfluktuasi di tengah pasar Asia yang melaju variatif karena investor terus memantau ketidakpastian terkait MSCI dan tekanan pada nilai tukar rupiah yang tetap mendekati IDR18.000/USD menjelang pertemuan kebijakan Bank Indonesia.
" Kami memperkirakan JCI akan bergerak dalam kisaran harga 5.892-5.957," tulis riset tersebut.
Advertisement

Sering Merasa Orang Lain Tidak Menyukai Anda? Bisa Jadi Ini Hanya ‘Liking Gap’

Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?

Sudah Tidur 8 Jam tapi Tetap Lelah? Bisa Jadi Anda Kekurangan 7 Jenis Istirahat Ini


8 Tanda Tubuh Kebanyakan Kafein, dari Jantung Berdebar hingga Sulit Tidur

Jalan Kaki Bisa Bantu Turunkan Berat Badan, Ini 5 Cara Membuatnya Lebih Efektif

Apa yang Masih Bisa Dilakukan Manusia yang Tak Bisa Dilakukan AI?