Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Di Timur Tengah, perusahaan keluarga menyumbang sekitar 80 persen untuk Produk Domestik Bruto (PDB). Juga menciptakan 70 persen lapangan kerja di kawasan itu. Jumlah yang signifikan untuk evolusi konglomerat dari perusahaan ini.
Seperti dikutip Arabian Business, Senin, 11 Agustus 2014, kini, tata kelola yang baik menjadi agenda pemerintah, regulator, dan perusahaan swasta. Berbagai undang-undang disiapkan guna menciptakan tata kelola yang baik, termasuk persyaratan sebuah perusahaan masuk pasar bursa.
Tata kelola ini sangat dibutuhkan meski sebuah perusahaan belum berniat melepaskan sahamnya di bursa. Pasalnya dengan tata kelola yang baik maka perusahaan apapun termasuki perusahaan keluarga bisa menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan dari generasi ke generasi.
Namun, ada tantangan tersendiri dalam perusahaan keluarga, yaitu menyeimbangkan kepentingan keluarga dengan kepentingan bisnis.
Sebuah laporan penelitian terbaru oleh Pearl Initiative, tata kelola yang baik mampu mengurangi risiko dan memberikan manfaat dalam pengelolaan serta operasional perusahaan. Memulai tata kelola yang baik mampu menyelesaikan hambatan potensial dalam mencapai kesuksesan.
Ada beberapa prinsip utama dalam menerapkan tata kelola yang baik di perusahaan keluarga. Pertama, perlunya komitmen bersama untuk menerapkan tata kelola yang baik ini. Kedua, terdapat kebijakan spesifik untuk menyalurkan aspirasi anggota keluarga. Ketiga, kebijakan yang dibuat juga dibuat fleksibel mengikuti perkembangan masa depan.
Anggota keluarga harus mematuhi aturan-aturan yang telah disepakati. Komitmen ini bisa didapat jika semua anggota keluarga sudah mengerti visi keluarga dalam bisnis tersebut, rencana bisnis dan arah perusahaan, serta berbagai hal terkait perusahaan. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya