Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Foto: Pixabay.com
Dream - Tas branded, perhiasan atau jam tangan mewah tidak berlaku untuk dipameraan sebagai harta kekayaan di Korea Utara. Untuk saat ini, rakyat dari negara yang dipimpin Kim Jong-un itu lebih memandang sepotong roti sebagai simbol status sosial tinggi.
Menurut laporan Radio Free Asia (RFA), fenomena ini disebabkan kelangkaan tepung terigu sebagai bahan utama pembuatan roti.
Melansir laman Insider, Minggu, 3 Juli 2022, harga tepung terigu menjadi sangat mahal di negara yang kabarnya masih menjalankan ideologi komunis secara murni itu. Akibatnya, seseorang atau keluarga yang bisa makan roti dipandang sebagai orang kaya.
Harga tepung terigu di Korut saat ini dijal tiga kali lebih mahal daripada beras. Tak seperti di Indonesia, beras sebelumnya dianggap sebagai makanan mewah yang hanya bisa dinikmati kalangan masyarakat dengan status sosial tinggi di negara itu.
Sebagai makanan utama, sebagian besar warga Korea Utara mengonsumsi jagung dan biji-bijian kasar lainnya.
“ Roti dan pangsit mandu tiba-tiba menjadi makanan yang hanya bisa dinikmati oleh pejabat tinggi dan orang yang sangat kaya. Jadi makanan yang terbuat dari tepung kini menjadi simbol kekayaan," ungkap seorang sumber kepada RFA.
Sumber lainnya mengungkapkan bahwa tepung terigu kini menjadi bahan makanan mewah yang dipamerkan orang-orang kaya Korut. Mereka segaja menyuguhkan makanan ini kepada tamu yang datang ke rumah untuk menunjkan statusnya.
Harga tepung terigu di Korea Utara awalnya sekitar 4 ribu hingga 6 ribu won (sekitar Rp46 ribu - Rp69 ribu) per kilogram.
Setelah pandemi Covid-19 melanda, harganya melonjak naik di 30 ribu won atau sekitar Rp346 ribuan per kilogram.
Saat Covid-19 menyebar di berbagai negara khususnya Asia, Korut segera menutup perbatasan dan menghentikan impor di awal 2020. Hal itulah yang membuat kelangkaan tepung terigu hingga harganya sangat mahal untuk bisa dinikmati rakyat jelata.
Menurut data dari Central Intelligence Agency (CIA), Korea Utara menghadapi kekurangan pangan yang diperkirakan mencapai 860 ribu ton atau sekitar dua hingga tiga bulan konsumsi makanan.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman

8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya