Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Satu per satu warga Amerika Serikat mulai bereaksi dengan kebijakan keras presiden barunya, Donald Trump. Di kala pengusaha memilih mengikuti keinginan presiden, jaringan bisnis kopi ternama Starbuck juga berbeda sikap.
Trump yang memutuskan memberlakukan larangan imigran masuk ke AS, dijawab CEO Starbuck, Howard Schultz dengan cara mengejutkan.
Schultz memastikan akan tetap merekrut 10 ribu pengungsi di seluruh dunia. Termasuk calon pegawai dari kalangan pengungsi yang akan membantu militer AS.
" Saya menulis kepada Anda hari ini dengan keprihatian yang mendalam, hati berat, dan janji yang tegas," ujar Schultz dalam suratnya kepada para pegawai, dikutip Dream dari laman Fortune, Selasa, 31 Januari 2017.
Menurut Schultz, warga AS saat ini hidup di era penuh ketidakpastian. Masyarakat dunia juga mempertanyakan janji AS sebagai negara impian bagi warga dari bangsa lain.
Schultz, yang bulan lalu mengumumkan akan mengundurkan diri sebagai CEO tapi tetap sebagai ketua eksekutif, mengaku telah mengontak langsung karyawannya yang terkena larangan imigrasi.
Starbucks memang pernah berjanji akan melipatgandakan upayanya untuk mempekerjakan orang-orang yang melarikan diri dari perang, kekerasan, penganiayaan dan diskriminasi. Perusahaan bahkan memancang target mempekerjakan 10.000 pengungsi di seluruh dunia dalam lima tahun ke depan.
Di Amerika Serikat, upaya tersebut dimulai dengan merekrut pegawai untuk melayani tentara AS sebagai penerjemah dan staf pendukung di sejumlah negara.
Tak hanya tetap merekrut pegawai, Starbucks juga akan terus berinvestasi di Meksiko, di mana perusahaan sudah memiliki 600 toko dan 7.000 karyawan.
" Kita semua berkewajiban untuk memastikan pejabat terpilih kami mendengar dari kami secara individu dan kolektif. Starbucks adalah melakukan bagiannya," kata Schultz. (Sah)
Satu per satu warga Amerika Serikat mulai bereaksi dengan kebijakan keras presiden barunya, Donald Trump. Di kala pengusaha memilih mengikuti keinginan presiden, jaringan bisnis kopi ternama Starbuck juga berbeda sikap.
Trump yang memutuskan memberlakukan larangan imigran masuk ke AS, dijawab CEO Starbuck, Howard Schultz dengan cara mengejutkan.
Schultz memastikan akan tetap merekrut 10 ribu pengungsi di seluruh dunia. Termasuk calon pegawai dari kalangan pengungsi yang akan membantu militer AS.
" Saya menulis kepada Anda hari ini dengan keprihatian yang mendalam, hati berat, dan janji yang tegas," ujar Schultz dalam suratnya kepada para pegawai, dikutip Dream dari laman Fortune, Selasa, 31 Januari 2017.
Menurut Schultz, warga AS saat ini hidup di era penuh ketidakpastian. Masyarakat dunia juga mempertanyakan janji AS sebagai negara impian bagi warga dari bangsa lain.
Schultz, yang bulan lalu mengumumkan akan mengundurkan diri sebagai CEO tapi tetap sebagai ketua eksekutif, mengaku telah mengontak langsung karyawannya yang terkena larangan imigrasi.
Starbucks memang pernah berjanji akan melipatgandakan upayanya untuk mempekerjakan orang-orang yang melarikan diri dari perang, kekerasan, penganiayaan dan diskriminasi. Perusahaan bahkan memancang target mempekerjakan 10.000 pengungsi di seluruh dunia dalam lima tahun ke depan.
Di Amerika Serikat, upaya tersebut dimulai dengan merekrut pegawai untuk melayani tentara AS sebagai penerjemah dan staf pendukung di sejumlah negara.
Tak hanya tetap merekrut pegawai, Starbucks juga akan terus berinvestasi di Meksiko, di mana perusahaan sudah memiliki 600 toko dan 7.000 karyawan.
" Kita semua berkewajiban untuk memastikan pejabat terpilih kami mendengar dari kami secara individu dan kolektif. Starbucks adalah melakukan bagiannya," kata Schultz. (Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya