Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Jakarta (Foto: Unsplash)
Dream - Senior Economist, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Aviliani, menilai sejumlah negara berkembang kini membalikkan keadaan dengan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia dibandingkan negara maju. Indikasinya terlihat banyaknya investor asing yang menanamkan modal di negara berkembang, termasuk Indonesia.
" Misalnya yang punya bank di Indonesia siapa sih? Mulai dari Malaysia, Singapura. Artinya pusat investasi tuh ada di Indonesia," katanya dalam acara " Buiding Inclusive Economies" UOB x INDEF di Jakarta, dikutip Rabu, 16 Agustus 2023.
Menurut Aviliani, faktor demografi memberikan pengaruh besar dalam pertumbuhan ekonomi dunia. Saat ini 70 persen penduduk di negara maju masuk kategori aging alias lanjut usia. Mereka hanya tinggal menikmati hidup dan tingkat konsumsi menurun.
Kondisi sebaliknya tengah terjadi di negara berkembang di mana faktor demografinya didukung 70 persen masyarakat berusia produktif.
" Makanya mengapa kita bicara indonesia emas 2045. karena indonesia punya kesempatan sampai 2045 menikmati pertumbuhan ekonomi yang bagus," jelasnya.

Setelah 2045, Indonesia berkemungkinan berada di masa aging dengan populasi orang tuanya yang lebih banyak.
Selain faktor demografi, menjelang kuartal 4 di tahun 2023 ini negara maju juga mengalami inflasi yang sangat tinggi dengan persentase 7-10 persen. Kondisi ini menyebabkan suku bunga terus naik.
" Indonesia bisa menjaga inflasi 3,3 - 3,5 persen. Sehingga Bank Indonesia makanya tidak menaikkan suku bunga dengan cepat karena kita bisa menjaga inflasi," ujar Aviliani.
Kendati terkontrol baik, Aviliani mengingatkan, pemerintah tetap harus waspada karena ekonomi Indonesia juga tidak terlepas dari pengaruh global. Dia juga berharap suku bunga acuan takkan lagi dinaikkan.
" Harapannya bisa menjaga nilai tukar, kemudian bisa menjaga inflasi, karena kalau rupiah melemah terus bisa meningkatkan inflasi," terangnya.
Aviliani juga mengatakan hingga kuartal empat, ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh 5 persen. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak lain didorong peningkatan konsumsi yang meningkat siginifikan setelah Covid-19 dinyatakan berakhir. Ditambah pula dengan peningkatan investasi, serta eskpor.
" Justru yang jelek itu di pertumbuhan konsumsi pemerintah," katanya.

Aviliani mencatat, pertumbuhan konsumsi pemerintah pada triwulan ke-1 tahun 2023 masih negatif dan mulai naik di triwulan ke-2 tahun 2023.
" Jadi sebenarnya kita bisa hidup tanpa ada anggaran pemerintah, kalau ada anggaran pemerintah lebih ke yang menengah ke bawah karena kalau menengah ke bawah masih butuh (contoh) BLT," terangnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam