Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Asia menjadi benua yang paling banyak dihuni komunitas Muslim. Menurut data Asian Development Bank, pada 2020 nanti, 60 persen penduduk Muslim di dunia, tinggal di benua Asia.
Meski begitu, dari jumlah penduduk itu diperkirakan bank syariah di Asia akan tumbuh sebanyak 18,8 persen. Dari total dua miliar penduduk di Asia, yang tersebar di Asia Selatan, Asia Timur, dan wilayah Pasifik serta tiga negara yaitu, India, China, dan Indonesia diprediksi masih jauh dari akses ke bank.
Menurut CEO dan Direktur Manajer RHB Islamic Bank Ibrahim Hassan, untuk menggapai potensi besar itu diperlukan peran teknologi. Sektor ini dinilai dapat menumbuhkan peran bank syariah yang banyak tumbuh dalam bentuk kelompok-kelompok mikro finansial.
" Teknologi akan memainkan peran penting. Meski banyak yang berpikir mengenai pada proses akad mudarabah dan ijarah, namun dengan teknologi dua syarat dalam bisnis syariah itu bisa melebur," kata Ibrahim, sesi akhir Islamic Forum News Asia 2016, di Hotel Shangri-La Jakarta, Rabu, 6 April 2016.
Dia menambahkan peran teknologi tidak akan menghambat peran akad dalam ekonomi Islam. Bahkan dalam praktiknya di Bangladesh misalnya, teknologi dapat menengahi peran akad musyarakah.
Bahkan, Hassan mengatakan, penggunaan teknologi bisa memangkas biaya operasional bank untuk membuka cabang. " Hanya dengan teknologi, biaya yang lebih murah dapat dijangkau oleh lembaga mikro finansial syariah," kata dia.
Kondisi itu diamini, Direktur Manajer Bank Rakyat Malaysia Musthafa Haji Abdul Razak. Menurut dia, sejak 1993 Bank Rakyat telah memulai mengembangkan teknologi untuk perbankan syariah.
Dari pengalaman mereka, setidaknya ada tiga hal penting yang harus dikembangkan dalam aplikasi bisnis syariah. Ketiga hal itu yaitu internet banking, mobile banking dan penggunaan agen ditiap wilayah.
" Dengan begitu kami dapat menghemat biaya pengeluaran. Branchless banking dengan sistem teknologi dapat menjangkau wilayah terdalam dan terluar di Malaysia," ucap Razak.
Baik Razak dan Hassan tak terlampau memusingkan kendala sistem jaringan internet yang kunci pengembangan teknologi. Mereka sepakat, pengembangan jaringan internet hingga wilayah pelosok dapat dikembangkan.
Untuk kasus Indonesia, mereka mengatakan, perlu dukungan berbagai lapisan komunitas dan pemerintah untuk terus mengembangkan teknologi untuk pengembangan ekonomi itu. Menurut mereka, kondisi yang kini menjadi kunci masa depan ekonomi syariah tak lain adalah mengikuti proses syariah dalam digital banking.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya