Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Awak Garuda Indonesia Saat Memamerkan Seragam Tematik Puspa Nusantara
Dream - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) melaporkan kondisi keuangan perusahaan hingga paruh pertama 2020 mencatat rugi bersih hingga US$712,72 juta atau sekitar Rp10,48 triliun (kurs Rp14.704/US$). Kondisi ini berbanding terbalik dengan posisi semester I-2020 dimana perusahaan masih mencatat laba US$24,114 juta.
Penurunan kinerja maskapai pelat merah ini terutama disebabkan penurunan tajam pendapatan usaha perusahaan hingga lebih dari separuhnya atau sebesar 58,18 persen.
Dalam penyampaian laporan keuangan Garuda Indonesia semester I-2020 Tahun lalu perusahaan masih membukukan pendapatan usaha senilai US$2,19 miliar. Pada semester I-2010 ini, Garuda Indonesia hanya mencapatkan pemasukan US$917,28 juta.
Pendapatan Garuda ditunjang pertumbuhan pendapatan penerbangan tidak berjadwal sebesar 392,48%, dari periode sebelumnya sebesar US$ 4,37 juta menjadi US$ 21,54 juta.
Adapun pendapatan penerbangan berjadwal tercatat sebesar US$ 750,25 juta. Garuda juga membukukan pendapatan lainnya sebesar US$ 145,47 juta.
Liabilitas Garuda pada semester I-2020 juga bertambah menjadi US$ 10,37 miliar dari sebelumnya US$ 3,73 milliar pada akhir 2019.
Meski mengalami penurunan tajam dari sisi pendapatan usaha, Garuda berhasil menekan beban usaha menjadi US$1,64 miliar atau 21,99 persen dibandingkan tahun lalu senilai US$2,11 miliar.
Total rugi bersih yang dihimpun Garuda Indonesia bertambah menjadi US$723,26 juta jika ikut memasukkan laporkan laba/rugi yang dapat diatribusikan kepada kepentingan non-pengendali sebesar US$10,53 juta.

Dalam penjelasan Garuda kepada otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Kamis, 30 Juli 2020 lalu, manajemen Garuda mengaku jika operasional dan kinerja keuangan perseroan terganggu oleh pandemik Covid-19.
Kebijakan penghentian atau pembatasan operasional diakui telah berdampak pada penghentian operasional sebagian bisnis perusahaan.
" Sebagai dampak pandemi COVID-19 dan sejalan dengan penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sampai dengan bulan Juni 2020, Perseroan mengalami penurunan kapasitas produksi baik itu untuk rute domestik maupun internasional," kata manajemen Garuda Indonesia kepada otoritas BEI dalam laporannya.
Penurunan produksi ini berpengaruh terhadap penurunan pada trafik yang diangkut oleh Perseroan baik untuk penumpang maupun kargo diangkut.
Untuk rute Internasional di region MEA (Middle East) dan Tiongkok sampai dengan saat ini masih diberlakukan penghentian total sampai pemberitahuan lebih lanjut. Sedangkan untuk rute internasional lainnya, Perseroan melakukan penyesuaian frekuensi dengan memperhatikan demand dan perkembangan kondisi di negara ataupun daerah tersebut.
Untuk menjaga likuiditas perusahaan serta merespons dampak Covid-19, perusahaan telah melakukan upaya optimalisasi untuk menyelarakan pasokan dan permintaan pasar melalui sejumlah inisiatif.
Berbagai inisiatif yang dilakukan adalah melakukan negosiasi dengan lessor untuk penundaan pembayaran sewa pesawat (lease holiday), memperpanjang masa sewa pesawat untuk mengurangi biaya sewa per bulan, serta mengusahakan financing dari perbankan dalam dan luar ataupun pinjaman lainnya.
Garuda Indonesia juga melakukan upaya negosiasi kewajiban perseroan yang akan jatuh tempo dengan pihak ketiga, melakukan program efisiesi biaya dengan tetap memprioritas keselamatan dan keamanaan penerbangan dan pegawai serta layanan, dan diskusi intensif dengan Pemerintah selaku Pemegang Saham Perseroan guna memperoleh dukungan yang diperlukan Perseroan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya