Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pandemi Corona Melahirkan Banyak Miliarder, Termasuk Profesor Biologi Ini. (Foto: Shutterstock)
Dream - Selain membawa bencana dan kemalangan, wabah Covid-19 harus diakui telah melahirkan sejumlah miliarder baru. Selain pemilik aplikasi video conference Zoom, pebisnis yang kembali menjadi miliarder baru adalah pengusaha vaksin, Timotyh Springer.
Profesor biologi dari Harvard ini masuk daftar orang terkaya karena penelitian vaksin coronanya sedang diuji coba saat ini.
Dikutip dari Forbes, Jumat 22 Mei 2020, saham perusahaan vaksinnya, Moderna, naik 12 persen sekaligus menambah harta kekayaannya menjadi US$1 miliar (Rp14,8 triliun). Kepemilikan saham Springer di perusahaan ini diketahui mencapai 3,5 persen.
" Banyak ilmuwan yang menjalankan perusahaan tapi hanya sedikit yang berhasil. Saya sangat aktif dan ambisius, itulah kenapa saya bisa melampaui rata-rata," ujar Springer dalam wawancara bersama Forbes.
Beberapa waktu lalu, Moderna mengumumkan pengembangan vaksin Coronanya kepada pemerintah Amerika Serikat.
Moderna menjadi perusahaan pertama yang menerapkan uji coba vaksin ke manusia. Saham perusahaan sendiri naik 3 kali lipat sejak virus Corona diumumkan mewabah di seluruh dunia.
Berkat itu pula, CEO Moderna Stephane Bancel menjadi miliarder dengan kekayaan sebesar US$2,1 miliar.
Lebih dari itu, profesor Harvard ini pertama kali mendirikan perusahaan bioteknologi LeukoSite, yang kemudian dijual kepada Millennium Pharmaceutical senilai US$635 juta. Springer mendapatkan US$100 juta dari pembagian saham perusahaan.
Kemudian pada 2010, professor ini mendirikan Moderna pada tahun 2010 yang saat ini bernilai US$870 juta. Tidak cuma Moderna, perusahaan lain tempat dirinya menanamkan modal ialah Selecta Biosciences, Scholar Rock dan Morphic Therapeutic.
Springer juga melakukan kegiatan filantropi, misalnya pada 2017, dirinya mendonasikan US$10 juta untuk pengembangan institur sains Institute for Protein Innovation.
" Saya memang ilmuwan, tapi saya sangat menyukai aktivitas filantropi," ujar ilmuwan berusia 72 tahun itu.
Ke depannya, Springer sangat optimis dengan prospek investasi di sektor bioteknologi karena pertumbuhannya sangat cepat, apalagi ketika pandemi telah berakhir.
" Dulu, kami dimaki karena terlalu sering mengandalkan obat. Tapi sekarang, semua orang bergantung pada vaksin untuk bertahan hidup. Saya optimis sektor ini akan menjanjikan," kata Springer.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya