Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Samsung Galaxy Note 7.
Dream – Keputusan drastis diambil Samsung. Nasib Ponsel Cerdas keluaran terbarunya, Galaxy Note 7, harus berakhir lebih cepat. Raksasa perusahaan telekomunikasi Korea Selatan itu memutuskan menghentikan produk Note7.
Gawai ini memang menjadi perbincangan publik akhir-akhir ini. Setelah muncul kasus kebakaran akibat baterai gawai yang kepanasan, piranti teknologi ini menjadi buah bibir.
Sorotan publik ini dimulai dari kasus meledaknya baterai lithium ion ketika ponsel tersebut tengah di-charge di dalam mobil jeep mobil milik Nathan Dornacher—mobil tersebut dalam keadaan AC menyala.
Dilansir dari Gizmodo, Ledakan ini berujung pada hangusnya mobil Dornacher. Kejadian itu baru diketahuinya ketika pulang dari pasar dan berlangsung pada awal bulan lalu di Florida, Amerika Serikat
“ Saat balik ke mobil untuk mengambil ponsel, dari dalam mobil terlihat api dan beginilah hasilnya,” kata Dornacher di dalam akun Facebooknya.
Hampir berbarengan, ada juga kasus meledaknya Samsung Galaxy Note 7 di sebuah kamar hotel mewah di Australia. Kerusakan yang diakibatkan ledakan tersebut mencapai 1800 dolar Australia atau Rp17,7 juta.
Dua insiden ini memperparah riwayat Galaxy Note 7. Samsung menyebut ada 35 kasus serupa dan masalahnya terletak pada baterai lithium ion yang digunakan untuk gawai tersebut.
Insiden-insiden tersebut membuat sejumlah pihak mengambil langkah antisipatif. Dikutip dari Business Insider, Senin 12 September 2016, Federal Aviation Administration (FAA), menyarankan penumpang untuk tidak mengaktifkan gawai tersebut dan menyimpannya di bagasi penumpang. Imbauan ini pun diikuti oleh sejumlah maskapai, seperti Singapore Airlines, Qantas Airways, dan Delta Airlines.
“ Dilarang mengaktifkan dan mengisi daya baterai Galaxy Note 7 di semua penerbangan kami,” tulis Singapore Airlines.
Maskapai nasional pun tak ketinggalan mengikuti imbauan FAA. Garuda Airlines dan Lion Group melarang penumpang untuk mengaktifkan dan mengoperasikan gadget ini selama penerbangan.
Rentetan kejadian dan imbauan FAA membuat Samsung mengambil langkah serius.
© Dream
Kejadian-kejadian kebakaran Galaxy Note 7 ini turut membuat Samsung “ kebakaran jenggot”. Samsung pun memutuskan untuk menarik kembali Samsung Galaxy Note yang telah beredar di pasar. Setelah ada imbauan FAA dan maskapai kepada konsumen untuk tidak mengaktifkan Galaxy Note 7 ini, raksasa teknologi dari Korea Selatan ini menarik semua gawai tersebut dari pasar.
Samsung menarik 1 juta unit produk tersebut dari pasar Amerika Serikat. Produsen ini pun menyediakan ponsel pengganti Galaxy Note 7 yang bermasalah itu.
“ Kami menyarankan semua konsumen menonaktfikan Galaxy Note 7. Kami sangat menyarankan semua konsume untuk menukarkan produk ini karena keselamatan Anda adalah prioritas kami,” kata Samsung dikutip dari www.samsung.com.
© Dream
Samsung pun memutuskan untuk berhenti memproduksi dan menjual Galaxy Note 7 pada Selasa 11 Oktober 2016. Langkah tersebut dilakukan pasca terjadinya banyak kasus kebakaran baterai.
“ Untuk keamanan konsumen, kami menghentikan penjualan dan penggantian Galaxy Note 7 dan memutuskan menghentikan produksi,” ujar Samsung dalam keterangan tertulis, dilansir dari CNBC.
Keputusan Samsung ini pun membuat sahamnya turun lebih dari 8 persen. Tak hanya itu, nilai market capitalization perusahaan asal Negeri Gingseng ini merosot sebanyak US$18 miliar (Rp235,14 triliun).
© Dream
Dilansir CNBC, Kamis 13 Oktober 2016, insiden kebakaran baterai Galaxy Note 7 ini membuat kantong Samsung “ kebakaran”. Analis dari perusahaan keuangan, Nomura, memprediksi kerugian Samsung sebesar US$9,5 miliar (Rp121,1 miliar) dari 16 juta unit gawai yang dipasarkan ke luar negeri.
Karena rugi, Samsung merevisi target laba. Produsen ini memangkas 75 persen laba dari 7,8 triliun won (Rp90 triliun) menjadi 5,2 triliun won (Rp60 triliun) usai menghentikan produksi Samsung Galaxy Note 7 untuk selamanya setelah kasus kebakaran baterai ponsel. Pendapatannya pun direvisi turun dari 49 triliun won (Rp565,82 triliun) menjadi 47 triliun won (Rp542,73 triliun).(Sah)
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan