Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol
Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?
Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya
Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi
Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah
Ilustrasi Keuangan Syariah. (Foto: Shutterstock)
Dream – Munculnya startup syariah belakangan ini semakin meningkat. Perkembangan ini mendorong industri syariah untuk berinovasi sementara para ulama tetap berdebat tentang inovasi digital keuangan syariah.
Dilansir dari Gulf Times, Rabu 12 September 2018, inovasi digital di bidang keuangan seperti cryptocurrency atau pertukaran uang digital ini berkaitan dengan hukum syariah. Sekadar informasi, hukum syariah menekankan aktivitas ekonomi riil berdasarkan aset fisik dan tidak memungkin spekulasi moneter.
Ketua Dewan Syariah HSBC Amanah Malaysia, Ziyaad Mahomed, mengatakan ulama di seluruh dunia terbagi tentang crytocurrency. Ada yang melarang mentah-mentah tentang bidang ini.
Ziyaad mengatakan aset digital memiliki potensi yang besar. Cryptocurrency merupakan perwujudan industri keuangan global, dan keuangan syariah menjadi salah satu bagian dari keuangan global, dia menyarankan kesepakatan harus diambil.
“ Yang dibutuhkan adalah sesuatu yang disebut istilah, yang berarti persetujuan sosial atau kesepakatan bersama pada aset digital. Ini ditentukan dengan menggunakan konsep yang bernama ta’amul, yang berarti aktivitas pertukaran,” kata dia.
Inovasi Digital di Keuangan Syariah Terus Bermunculan
Sementara perdebatan tetap berlangsung, ada peluncuran layanan keuangan digital syariah yang berpotensi mengusik industri. Layanan ini berupa pertukaran digital baru di Malta, Eropa. Bisnis ini melayani perdagangan aset digital, saham syariah, dan komoditias.
Layanan bernama “ Huulk” ini meluncur pada Agustus 2018 dan didukung oleh firma cryptocurrency syariah yang berbasis di Dubai, OneGram. Sekadar informasi, OneGram menciptakan cryptocurrency yang didukung emas dengan hukum syariah. Bos OneGram, Ibrahim Mohammed, bursa Huulk membuat daftar 20 perusahaan fintech syariah dan beberapa di antaranya beroperasi di Malaysia dan Turki.
“ Apa yang kami lakukan adalah memodernisasi keuangan syariah dengan cryptocurrency dan blockchain di jantung bisnis kami,” kata Ibrahim.
Selain OneGram, ada juga fintech yang sudah mengantongi sertifikat syariah, yaitu Stellar Lumens. Fintech yang berbasis di California, Amerika Serikat. Perusahaan ini mendapatkan izin untuk melakukan transfer moneter dan mengubah aset riil menjadi mata uang digital oleh Shariah Review Bureau dari Bank Sentral Bahrain. Stellar Lumens sekarang berencana untuk menjalin kemitraan baru dengan bank-bank syariah dan lembaga keuangan di seluruh Timur Tengah dan Asia Tenggara.
Ada juga Wahed Invest yang menjadi pemain baru di industri keuangan syariah digital. Perusahaan ini mengoperasika robot penasihat pertama untuk investor Muslim yang berinvestasi sukuk, saha, syariah, dan emas.
“ Investor Muslim dan non-Muslim sekarang dapat sepenuhnya yakin bahwa mereka menciptakan portofolio secara etis dan sehat,” kata Ketua Wahed Invest di Inggris, Mohammed Ibrahim Morshed.
Advertisement

Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis

Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi

Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya

Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?



5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol