Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Jepang sedang mengalami krisis populasi akibat angka kelahiran yang rendah. Dampaknya, sebagian sekolah terpaksa tutup karena kekurangan siswa dan tidak ada lagi yang mendaftar.
SMP Yumoto di Fukushima bagian pegunungan Jepang Utara menjadi salah satu sekolah yang akan tutup. Pada Maret lalu, sekolah ini mengadakan upacara kelulusan untuk dua murid terakhirnya Eita Sato dan Aoi Hoshi. Setelah itu, sekolah berusia 76 tahun itu akan menutup pintunya untuk selamanya.
“ Kami mendengar desas-desus tentang penutupan sekolah di tahun kedua kami, tetapi saya tidak membayangkan itu akan benar-benar terjadi. Saya terkejut, ” kata Eita.
Kisah Eita dan Aoi menjadi potret miris resesi seks di Jepang terasa begitu nyata. Kelulusan mereka hanya dihadiri oleh mereka saja tanpa siswa lain.
Sekolah Yumoto mempunyai dua lantai yang terletak di pusat distrik dan memiliki sekitar 50 lulusan per tahun selama masa kejayaannya di tahun 1960-an dulu.
Foto-foto setiap kelulusan tergantung di dekat pintu masuk, dari hitam putih menjadi berwarna, dengan jumlah siswa yang tiba-tiba menurun dari sekitar tahun 2000. Hingga di tahun 2022 lalu, sekolah tidak mempunyai foto kelulusan.
Masumi, ibu Eita yang juga merupakan lulusan Yumoto, sangat menyayangkan penutup sekolah ini. Dia begitu khawatir daerah itu tidak lagi ditinggali orang-orang sebagai tempat pindah.
“ Saya khawatir orang tidak akan menganggap daerah ini sebagai tempat pindah untuk memulai sebuah keluarga jika tidak ada sekolah menengah pertama,” kata Masumi.
Kelahiran di Jepang sangat anjlok, tercatat di bawah 800.000 pada tahun 2022, angka ini menjadi rekor yang terendah.
Sekitar 450 sekolah pun ditutup setiap tahun, menurut data pemerintah. Antara tahun 2002 hingga 2020, hampir 9.000 sekolah telah tutup.
Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida telah menjanjikan langkah-langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk meningkatkan angka kelahiran, termasuk menggandakan anggaran untuk kebijakan terkait anak, dan mengatakan menjaga lingkungan pendidikan sangat penting.
Penutupan sekolah meningkat terutama di daerah pedesaan seperti Ten-ei, area ski pegunungan dan mata air panas di prefektur Fukushima. Hal ini memberikan pukulan lebih lanjut ke daerah yang sudah berjuang dengan depopulasi.
Para ahli memperingatkan bahwa penutupan sekolah di pedesaan akan memperlebar kesenjangan nasional dan membuat daerah terpencil berada di bawah tekanan yang lebih besar.
“ Penutupan sekolah berarti kotamadya pada akhirnya akan menjadi tidak berkelanjutan,” kata Touko Shirakawa, dosen sosiologi di Universitas Wanita Sagami.
Aoi, yang bercita-cita menjadi guru taman kanak-kanak di kampung halamannya, akan bersekolah di sekolah yang berbeda dari Eita mulai bulan April.
“ Saya tidak tahu apakah akan ada anak di desa saat saya menjadi guru,” kata Aoi.
" Tapi jika ada, aku ingin kembali," lanjutnya.
View this post on Instagram
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya