6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Sudah Kaya, Bahagia Lagi. (Foto: Shutterstock)
Dream – Ketika seseorang ditanya tentang tujuan hidup, salah satu jawaban terbanyak adalah bahagia. Ya, siapa, sih, yang tak mau hidupnya seperti itu. Apalagi jika bahagia plus kaya-raya.
Dikutip dari Vemale, Sabtu 5 Januari 2019, mayoritas orang di dunia ingin kaya, sejahtera, dan bebas dari jeratan hidup. Kalau mau seperti ini, kuncinya, ya, satu: jangan terlalu banyak gaya.
Motivator, Tung Desem Waringin, mengumpamakan gaya dan kebahagiaan dengan rumus Fisika.
“ Gaya berbanding lurus dengan tekanan. Kalau hidupmu kebanyakan tekanan, berarti kamu kebanyakan kaya,” kata dia.
Misalnya, kata Tung ada orang membeli motor seharga Rp18 juta, tapi harganya akan jatuh di kemudian hari. Harga ini akan merugikan orang tersebut secara finasial.
" (Argumennya) Tapi kan saya perlu, apa iya perlu? Mungkin perlu, tapi, kan, tidak harus baru," kata dia.
Tung mengatakan hal yang penting untuk dilakukan agar kaya dan bahagia adalah bersikap cerdas dalam mengelola uang. Orang kaya tak mau menghabiskan untuk sesuatu yang tak perlu.
“ Kalau kebanyakan gaya dulu, beli kacamata baru, beli handphone yang mahal, beli sepatu mahal, keluar negeri dulu, beli mobil dulu. Sebetulnya itu boleh tidak? Boleh. Tapi gayanya belakangan,” kata dia.
Tung mengatakan ada tiga jenis pengeluaran yang disebut Happy Money, yaitu uang yang bisa dipakai, ditabung, dan disedekahkan. Saat ini, kata dia, sebagian besar orang mementingkan pengeluaran yang pertama. Dia berkata investasi dan amal tidak terlalu dipentingkan. Padahal, kedua pengeluaran ini juga sangat berpengaruh terhadap kehidupan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
