Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Indonesia Bisa Berhemat 70 Miliar Liter BBM Setahun Jika Target 10% Market Share Kendaraan Listrik Tercapai (Foto Ilustrasi: Shutterstock)
Dream - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan program kendaraan listrik dapat mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) kendaraan konvensional hampir 70 miliar liter/tahun.
Dengan target mengurangi emisi dan impor BBM, pemerintah gencar mendorong peningkatan pangsa pasar kendaraan listrik di Tanah Air hingga 10 persen di 2024.
Salah satu upaya yang terus digodok adalah pemberian subsidi untuk motor listrik sebesar Rp 7 juta dan potongan pajak mobil listrik sebesar 10 persen.
" Kami terus mendorong kendaraan listrik (EV)," katanya dalam Mandiri Investment Forum (MIF) 2023, dikutip dari Liputan6.com, Rabu, 1 Februari 2023.
Luhut melaporkan jumlah mobil konvensional akhir tahun lalu mencapai 23 juta unit dengan penjualan sekitar 1 juta unit/tahun. Dengan keberadaan jutaan kendaraan tersebut, konsumsi BBM dilaporkan mencapai 34 miliar liter per tahun.
Sementara untuk motor konvensional dilaporkan mencapai 118 juta unit dengan penjualan sebesar 6,5 juta unit per tahun. Kendaraan roda dua ini menenggak BBM selama setahun hingga 35,9 miliar liter.
" Konsumsi BBM mencapai 70 miliar liter setahun. Bisa Anda bayangkan angka ini. Makanya kalau kita dorong 10 persen (kendaraan listrik), kita akan bisa mengurangi konsumsi BBM," katanya.
Sementara itu Luhut menyebut kebijakan insentif kendaraan listrik yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) akan segera diterbitkan pada minggu depan.
" Iya, Februari, minggu depan (PMK soal insentif kendaraan listrik terbit)," ujar Luhut.
Dream - Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk (Antam) Nicolas Carter optimistis Indonesia bisa memiliki ekosistem utama baterai kendaraan listrik (electric vehicle), bahkan menjadi satu-satunya negara di ASEAN.
Selain itu Indonesia juga memiliki peluang besar untuk menjadi produsen utama kendaraan listrik di dunia.
" Indonesia bisa menjadi salah satu negara di ASEAN yang memiliki EV baterai ekosistem, karena kita bukannya hanya hulu sampai hilir, tapi recycle baterai pun akan menjadi ikut di dalam memiliki saham di situ,” kata Nicolas dikutip dari Liputan6.com.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan juga mengungkap kepercayaan dirinya akan Indonesia yang dapat menjadi tiga produsen baterai kendaraan listrik terbesar di dunia pada 2027.
Menurut Nicolas, Indonesia sudah sepantasnya menjadi produsen EV baterai karena mempunyai 23 persen cadangan nikel dunia. Hal ini akan menjadi suatu warisan 'legacy' yang baik ke depannya.
" Selain kita bisa mensuplai untuk bahan baku, baterai berbasis nikel ini tentunya kita harus menjadi playernya. Kalau dilihat dari the wholesale EV baterai ini semuanya itu akan berubah karena Green energy sehingga EV baterai Cars ini akan menguasai dunia nantinya," ujarnya.
Meskipun demikian, dalam mengembangkan ekosistem EV, Nicolas menyebut masih terdapat tantangan, salah satunya terkait regulasi dari Pemerintah.
Regulasi mengenai kendaraan listrik seperti halnya industri baterai harus lebih diperkuat, agar produsen bisa bersaing secara global.
" Jadi, kami melihat di ekosistem ini yang menjadi tantangan tentunya pertama regulasi dari pemerintah karena ini adalah suatu challenge yang cukup panjang dan juga regulasi ini penting sekali agar supaya kita bisa bersaing nanti di end produknya," ungkapnya.
Bos Antam ini juga menilai standarisasi konsumen di sektor EV baterai ini belum terlihat dengan jelas.
Nicolas menerangkan EV baterai ini sifatnya customer niche, alias pemasar yang menyasar kelompok ini harus sangat fokus terhadap suatu jenis produk atau layanan tertentu.
" Karena baterai sales ini sangat-sangat customer Niche-nya tertentu. Jadi, belum bisa kita lihat standarisasinya ini akan menjadi tantangan," pungkasnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya