Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Daerah Perbatasan. (Sumber: Merdeka.com)
Dream - Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi memfokuskan anggaran untuk mengembangkan daerah perbatasan dan pulau terluar. Langkah ini bertujuan untuk mempersiapkan daerah perbatasan dan pulau terluar untuk pasar bebas ASEAN.
Tak hanya itu, upaya itu bertujuan untuk melindungi keduanya agar tidak dicaplok oleh pihak lain.
Direktur Jendera Pengembangan Daerah Tertentu (PDTU) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Suprayoga Hadi, mengatakan daerah perbatasan dan pulau terluar acapkali dianggap tidak punya potensi ekonomi. Padahal, dua wilayah ini yang paling rentang terpapar MEA.
" Nanti bisa dicaplok oleh yang lain," kata Yoga di Jakarta, dikutip dalam keterangannya, Rabu 18 Mei 2016.
Yoga mengatakan tahun 2015 kementeriannya mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp1,5 triliun. Dana sebesar Rp1,2 triliun dari alokasi anggaran, digunakan untuk wilayah perbatasan dan pulau terluar.
" Ini masih kami anggap sebagai prioritas dan akan terus dilanjutkan hingga target mengentaskan 80 daerah tertinggal di akhir tahun 2019 bisa tercapai," kata dia.
Yoga mengatakan aspek pembangunan di pulau terluar dan daerah perbatasan masih memprihatinkan. Dari sisi pendidikan, misalnya, seorang siswa Sekolah Dasar (SD) mencapai 6,8 kilometer (km). Padahal, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 15 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Nasional (SPM) standar jarak tempuh anak SD itu 3 km," kata dia.
Tidak hanya itu, persentase daerah beraspal di daerah tertinggal kepulauan sebesar 12,28 persen. Begitu juga dengan elektrifikasi dan ketersediaan sarana informasi, yang masih jauh dari rasio elektrifikasi nasional. Rasio elektrifikasi di daerah terpencil kepulauan hanya sebesar 70,21 persen, jauh dari rasio elektrifikasi nasional yang mencapai 96,08 persen.
" Ada 60,85 persen daerah terpencil yang tidak terjangkau sinyal seluler," kata dia.
Untuk mendorong pengentasan pulau terkecil dan terluar tersebut, kata Yoga, dibutuhkan peran serta seluruh elemen masyarakat termasuk akademisi, terutama dalam mengembangkan aspek sumber daya manusia di daerah perbatasan di mana Indonesia memiliki 41 kabupaten/kota yang berada di wilayah perbatasan, dan 28 kabupaten yang berada di pulau kecil terluar.
" Pengembangan ekonomi lokal akan optimal jika sumber daya manusianya bagus, kemudian bagaimana agar bisa menggunakan teknologi tepat guna dengan baik. Di sinilah peran akademisi untuk dapat berpartisipasi aktif," ujar dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya