Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Fuso
Dream - Pelaku industri otomotif khususnya produsen kendaraan niaga dihadapkan tantangan dengan naiknya harga BBM bersubsidi (Pertalite dan Solar). Mereka 'putar otak' pasang jurus agar tidak berdampak signifikan terhadap penjualan produk.
" Kenaikan harga BBM tentu menjadi kebijakan dari pemerintah yang ada di luar kapasitas kami sebagai produsen. Kami juga ikut mendukung kebijakan tersebut," ujar Duljatmono, Sales & Marketing Director, PT. Krama Yudha Tiga Berlian Motors pemegang merek Mitsubishi Fuso di Indonesia, belum lama ini.
Menurutnya secara umum kenaikan harga BBM akan berpengaruh pada biaya operasional konsumen. Akan tetapi, Fuso belum bisa menilai apakah kenaikan harga BBM ini memberikan dampak pada penjualan.
" Saat ini yang kita lihat potensi bisnisnya. Kalau potensi bisnisnya berkembang saya kira konsumen akan tetap akan fokus ke potensinya," imbuhnya.
Namun Fuso telah menyiapkan strategi agar bisnis tetap tumbuh dan berkembang dengan membantu memberikan produk serta layanan purnajual yang maksimal. Artinya, meski harga BBM naik, namun konsumen tetap bisa melakukan efisiensi.
" Contohnya, efisiensi dari konsumsi bahan bakar. Truk kami sudah beralih dari Euro2 ke Euro4, sehingga konsumsi bahan bakar lebih efisien, kalau biaya naik, tapi konsumsi bahan bakarnya berkurang jadi dampaknya biaya lebih minimal," ujar General Manager of Sales Unit PT KTB, Takumi Itaya.
Fuso sampai Agustus 2022 masih mencatatkan diri sebagai pemimpin pasar dengan market share di level 42 sampai 43 persen, atau total volume mencapai 23.900 unit. Tren positif ini diharapkan bisa terjaga sampai akhir tahun.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya