Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Survei: Biaya Kesehatan di Indonesia Diprediksi Naik 12 Persen Tahun Depan

Reporter : Syahid Latif
Selasa, 8 Desember 2020 18:14
Survei: Biaya Kesehatan di Indonesia Diprediksi Naik 12 Persen Tahun Depan
Salah satu penyebabnya adalah Covid-19.

Dream – Biaya kesehatan di Indonesia diperkirakan akan meningkat tahun depan. Peningkatan terjadi karena pandemi Covid-19 serta penurunan biaya tunjangan perawatan kesehatan yang disponsori oleh pemberi kerja dan penundaan perawatan kesehatan non-darurat.

Prediksi itu dibuat berdasar laporan “ 2021 Global Medical Trends Survey” yang dilakukan oleh konsultan Willis Towers Watson. Dalam laporannya, biaya tunjangan perawatan kesehatan untuk perusahaan asuransi medis swasta di Asia Pasifik akan mengalami penurunan signifikan di tahun 2020, yang diperkirakan akan pulih menjadi 8,5 persen pada tahun 2021, atau naik dari 6,2 persen tahun ini dan 7,5 persen di 2019.

Khusus di Indonesia, situasi pandemi mengakibatkan penurunan penggunaan layanan kesehatan swasta secara nasional, yang selanjutnya menurunkan tren biaya kesehatan, dari 10,2 persen pada 2019 menjadi 10 persen tahun ini. Bersamaan dengan dipersiapkannya uji coba vaksin klinis, survei tersebut menyatakan bahwa akan terjadi peningkatan tren kesehatan hingga 12 persen pada 2021.

“ Tak diragukan lagi, pandemi ini berdampak besar terhadap perlambatan tren biaya kesehatan yang semakin meningkat tahun ini,” kata Head of Health and Benegfits Willis Towers Watson, Dewita Anggraini, dikutip dari keterangan tertulis, Selasa 8 Desember 2020.

1 dari 2 halaman

Ini Dia Penyebabnya

Dewita mengatakan, pandemi membuat orang-orang semakin menunda untuk menjalani operasi yang tidak mendesak dan berbagai prosedur elektif lainnya. Penurunan tren kesehatan juga dipengaruhi oleh meningkatnya pemanfaatan BPJS Kesehatan, terutama untuk penyakit kronis dan kritis, serta perawatan-perawatan lain yang biayanya sangat tinggi.

Serupa dengan Indonesia, sebagian besar negara juga mengalami pertumbuhan biaya yang lebih rendah tahun ini. Namun, situasi ini diperkirakan hanya akan berlangsung sebentar, dan pertumbuhan biaya ini diperkirakan akan pulih secara signifikan pada 2021.

“ Melihat situasi pandemi di satu negara dan negara lainnya yang jauh berbeda, kami memperkirakan fluktuasi biaya medis secara signifikan akan terjadi pada tahun 2021,” kata dia.

Ketidakpastian lain yang terjadi sebagai akibat Covid-19 ialah kapan vaksin akan tersedia, siapa yang membayar atau menyediakannya, sejauh mana ketersediaannya, serta bagaimana pembagian biaya pengujian dan perawatan Covid-19 untuk tahun 2021.

“ Khususnya di antara pemerintah, perusahaan asuransi, dan pemberi kerja,” kata dia.

2 dari 2 halaman

Tiga Faktor yang Mempengaruhi Tren Kenaikan Pada 2021

Pengumpulan data '2021 Global Medical Trends Survey' dilakukan sepanjang Juli hingga September 2020. Survey dilakukan terhadap 287 perusahaan asuransi dari 76 negara, dengan 29 persen respondennya berasal dari negara-negara Asia Pasifik.

Laporan tersebut menemukan bahwa hampir setengah dari perusahaan asuransi (49%) yang disurvei di Asia Pasifik memperkirakan kenaikan biaya medis akan tetap konstan selama tiga tahun ke depan, sementara 40 persen memperkirakan biaya yang akan terus meningkat.

Kanker (79 persen) menempati urutan pertama di antara tiga kondisi teratas yang mempengaruhi biaya kesehatan di Asia Pasifik, diikuti oleh penyakit kardiovaskular (76 persen) dan gangguan muskuloskeletal dan jaringan ikat (42 persen)

Seperti tahun sebelumnya, penggunaan layanan yang berlebihan oleh praktisi medis, serta terlalu banyak rekomendasi perawatan kesehatan dikutip sebagai salah satu pendorong biaya paling signifikan, menurut survei yang dilakukan pada 75 persen responden. Di saat yang bersamaan, lebih dari setengah responden (55 persen) juga melihat bagaimana anggota yang diasuransikan menggunakan perawatan secara berlebihan, yang menyebabkan biaya kesehatan semakin naik.

Selain itu, temuan tersebut juga melihat tiga faktor teratas yang mempengaruhi biaya perawatan kesehatan dan berada di luar kendali pemberi kerja dan vendor. Motif mencari keuntungan dari penyedia layanan kesehatan muncul di tempat pertama, seperti disampaikan oleh 52% responden, diikuti oleh pengeluaran yang lebih tinggi untuk teknologi medis (49 persen) dan pengendalian serta pengobatan selama epidemi dan pandemi global (37 persen).

" Pandemi telah sangat meningkatkan kesadaran individu akan kesadaran dan kebersihan perawatan kesehatan pribadi,” kata Dewita.

Situasi ini juga semakin mempercepat adopsi dan penggunaan telehealth yang dapat membantu mengimbangi potensi biaya yang lebih tinggi dengan cara yang lebih efisien bagi mereka yang diasuransikan, untuk mengakses dan menggunakan perawatan kesehatan di masa mendatang.

“ Selain itu, BPJS Kesehatan juga memberikan pertanggungan untuk semua perawatan medis terkait Covid-19, yang membantu menstabilkan biaya, meskipun diharapkan permintaan perawatan kesehatan swasta terus berlanjut,” kata dia.

Beri Komentar