Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Seorang Pria Didenda Senilai Puluhan Juta Rupiah Karena Meninggalkan Ruangan Saat Karantina. (Foto: Ilustrasi/Shutterstock)
Dream – Selama masa pandemi, banyak negara menghadapi gelombang Covid-19. Gelombang ini terlihat seakan tak ada hentinya.
Meskipun demikian, Taiwan menjadi negara yang jumlah kasusnya di bawah 1.000, berdasarkan Worldometer. Dari awal pandemi hingga sekarang, kehidupan di sana terlihat normal.
Dikutip dari World of Buzz, Selasa 8 Desember 2020, puncak kasus di Taiwan terjadi pada 30 Maret dan 29 Oktober 2020. Kala itu, tercatat ada 27 kasus. Negara ini sukses mencatat tak ada transmisi virus lokal selama 200 hari.
Kok bisa ya?
Pemerintah Taiwan memberlakukan aturan yang ketat untuk menghadapi pandemi Covid-19, terutama mencegah penyebaran virus. Kasus yang ini bisa menjadi contohnya.
Seorang buruh migrant asal Filipina mendapatkan denda yang tidak kecil. Dia diberikan sanksi sebesar 100 ribu dolar Taiwan (Rp49,84 juta).
Penyebabnya, dia meninggalkan ruangannya hanya dalam delapan detik saat karantina. Aksi buruh migrant yang meninggalkan ruangannya ini ketahuan oleh pekerja hotel melalui CCTV.
Lalu, karyawan ini mengontak Dinas Kesehatan Kota Kaohsiung. Kemudian, buruh itu diberikan denda senilai puluhan juta rupiah.
Aturan karantina di Taiwan memang sangat ketat. Saking ketatnya, orang-orang tak boleh meninggalkan ruangannya, tak peduli seberapa lama. Perlu juga dicatat bahwa Taiwan tak pernah memberlakukan aturan lockdown yang ketat.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Dream - Mereka yang kontak dengan pasien Covid-19 dan menunggu hasil swab test, diwajibkan melakukan karantina mandiri selama 14 hari. Hal ini karena sebelumnya diketahui masa inkubasi virus tersebut adalah 14 hari.
Termasuk pada pasien Covid-19 tanpa gejala, yang sebelumnya diwajibkan melakukan karantina selama 14 hari, tak boleh melakukan kontak fisik dengan siapa pun demi mencegah penularan. Rupanya, ada panduan baru dari CDC (Centers for Disease Control and Prevention/ Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat).
![]()
Rekomendasi CDC yang baru adalah untuk karantina virus korona menjadi 7 hingga 10 hari, bukan 14 hari. Jika pasien positif Covid-19 tidak mengalami gejala, mereka hanya perlu karantina selama 10 hari; jika hasil tes negatif, periode tersebut dapat dikurangi menjadi hanya 7 hari.
" CDC berharap periode karantina yang lebih pendek akan meningkatkan kepatuhan publik terhadap langkah-langkah keamanan terkait Covid-19. Mudah-mudahan masyarakat bisa lebih taat pada karantina jika misalnya 7 sampai 10 hari," kata Henry Walke, MD, Direktur Divisi Kesiapsiagaan dan Infeksi CDC, dikutip dari WebMD.
Henry juga mengingatkan bahwa setiap orang harus tetap memperhatikan gejala Covid-19. Seperti demam, batuk atau hilangnya rasa atau bau (anosmia) selama 14 hari penuh setelah terpapar.

Hal yang juga sangat penting menurut Henry adalah testing. Mereka yang mengalami gejala Covid-19 diingatkan untuk melakukan tes. Dengan melakukan tes, kondisi bisa diketahui secara detail dan jika positif penanganan bisa dilakukan dengan cepat. Kesembuhan akan semakin cepat.
Sebelumnya, periode karantina mandiri selama 14 hari dipilih karena itu adalah waktu terlama yang dibutuhkan seseorang untuk menunjukkan gejala setelah mereka terinfeksi virus.
Justin Lessler, PhD, seorang ahli epidemiologi di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, mengatakan kepada Wall Street Journal bahwa sekitar setengah dari orang yang terinfeksi menunjukkan gejala 5 hingga 10 hari setelah terpapar. Persentase yang sangat kecil menunjukkan gejala pada 14 hari, katanya.
" Jika kita bisa membuat orang dikarantina - dan benar-benar karantina, seperti Anda tidak bisa pergi ke toko bahan makanan saat mengarantina - maka saya pikir ada argumen untuk waktu yang lebih singkat," katanya.
Daripada melakukan karantina, lebih baik selalu jalani protokol kesehatan 3M. Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya