Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Anak Merengek (Foto: Greater Joy)
Dream - Mendengar anak merengek untuk mendapat apa yang diinginkannya memang sangat mengganggu. Alih-alih membuatnya berhenti merengek dan memberi pengertian untuk bersabar dan bersikap baik, malah orangtua banyak yang menurutinya.
Lalu apa yang membuat anak sering sekali merengek? Jawabannya tentu saja karena orangtua selalu menurutinya.
Rengekan anak sebenarnya muncul karena ada kebutuhan emosi anak yang kurang atau tidak terpenuhi.
"Dalam mengatasi rengekan, orangtua lebih sering mengalihkan pada hal lain seperti memberikan mainan dan makanan kesukaan, bukan pada pemenuhan kebutuhan emosi anak," kata Amy McCready pakar pendidikan dan pendiri Positive Parenting Solutions.
Anak merengek seringkali bukan karena ingin mengganggu atau meminta suatu barang atau makanan, tetapi menginginkan perhatian orangtuanya. Faktanya, manusia terprogram dengan dua kebutuhan emosional dasar yaitu perhatian dan kekuasaan.
"Saat anak tak mendapat perhatian yang cukup mereka akan mencarinya. Bagi anak, mendapat perhatian dari hal negatif jauh lebih dibandingkan tak mendapat perhatian sama sekali," ujar McReady.
Saat anak merengek, anak sebenarnya berharap mendapat perhatian positif, seperti pelukan, kontak mata dan percakapan hangat. Namun ketika itu tak didapatkannya mereka akan berulang demi mendapat perhatian dari hal negatif. Dan itu dilakukannya bisa sambil mengamuk hingga dapat "menguasai" perhatian orangtuanya.
Jika anak sering merengek, coba lihat kembali sikap orangtua padanya. Cobalah untuk lebih sering kontak mata dan fokus saat berkomunikasi dengan anak, sehingga ia merasa mendapat perhatian penuh.
Usahakan saat menemaninya bermain, bukan hanya berada di sisinya sementara tangan memegang gadget. Tapi benar-benar terlibat dalam permainan, baik fisik maupun pikiran.
Ajarkan juga untuk mengatakan apa yang diinginkannya dengan jelas. Bukan dengan merengek atau sambil menangis.
Sediakan waktu 10 hingga 15 menit untuk menikmati waktu bermain bersama anak. Jangan segan untuk menghujaninya dengan pelukan serta katakan "kangen" atau "sayang" pada si kecil, mereka pasti akan merasakan kehangatan dan pehatian Anda.
(Ism, Sumber: Positive Parenting)
Advertisement
Bagaimana Industri Pangan Mengurangi Limbah? Ini Strategi yang Dilakukan

Mengapa Sampah dari Industri Makanan Berbahaya bagi Lingkungan?

Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran


6 Tips agar Perjalanan dengan Bayi Lebih Nyaman dan Minim Drama

Pembalut dan Buku Kena Pajak, Barang Apa Lagi yang Tanpa Sadar Dipajaki?

Kebiasaan Ngemil Setelah Makan Malam Dikaitkan dengan Risiko Penyakit Hati hingga 30 Persen

Gelembung AI di China Disebut Pecah, Apa Artinya dan Bagaimana Dampaknya bagi Kita?

Kadar Oksigen di Laut, Sungai, dan Danau Terus Menurun, Ilmuwan Peringatkan Ancaman bagi Kehidupan

Bagaimana Harga Emas Ditentukan? Apakah Harganya Sama di Seluruh Dunia?
