Pertama Kali, Rumah Ibadah `3 in 1`

Reporter : Sandy Mahaputra
Rabu, 25 Juni 2014 06:26
Pertama Kali, Rumah Ibadah `3 in 1`
Dalam bangunan akan dibagi empat ruangan. Satu ruangan yang terletak di tengah untuk tempat pertemuan semua warga (apapun agama mereka), termasuk atheis.

Dream - Desain rumah ibadah bersama bagi tiga agama (Islam, Kristen, dan Yahudi) yang diberi nama House of One telah rampung. Sang perancang, Wilfried Kuehn mengaku tak terlalu menemui kesulitan untuk menyelesaikannya.

Selama penelitian menentukan desain rumah ibadah '3 in 1', Kuehn dan timnya ternyata menemukan banyak kesamanan desain antara Gereja, Masjid dan Sinagog.  

" Yang menarik dalam penelitian kami soal tipe rumah ibadah Muslim, Kristen dan Yahudi ternyata mereka ini berbagi banyak kesamaan dalam hal tipologi arsitekturalnya. Tak terlalu jauh beda," kata arsitek asal Jerman itu dikutip dari laman BBC, Rabu 24 Juni 2014.

Berdasarkan penelitian timnya, kata Kuehn, sebuah masjid itu ternyata tak harus punya menara. Selain itu, bangunan gereja juga tak perlu menara. " Jadi desain tim kami ini kembali ke asal saat ketiga agama tersebut dekat dan berbagi banyak hal secara arsitektural," ujarnya.

Desain House of One secara garis besar berbentuk bangunan tinggi berbahan batu bata dengan sebuah menara persegi panjang di tengahnya. Dalam bangunan akan dibagi empat ruangan, yakni bangunan A yang terletak di tengah dipakai untuk tempat pertemuan semua warga (apapun agama mereka), termasuk atheis.

Sementara bangunan B untuk masjid yang dilengkapi fasilitas wudhu. Lalu, bangunan C untuk gereja akan dilengkapi dengan piano. Terakhir bangunan D untuk sinagog. Khusus untuk masjid dan sinagog, bangunan terdiri dari dua tingkat dan untuk gereja, hanya satu tingkat.

Dibutuhkan dana sekitar 43,5 juta euro setara Rp703 miliar untuk membangun rumah ibadah ini. Siapa saja bisa memberikan sumbangan. Nilai sumbangan terendah adalah seharga satu batu bata.

Bangunan ini bakal menjadi daya tarik tersendiri, karena terletak di sebelah Museum Island, Berlin, Jerman. Gagasan membangun House of One muncul saat arkeolog menggali tanah di bawah Museum Island, 2009 silam. Mereka menemukan sisa-sisa gereja awal Berlin, yaitu Petrikirche dan sekolah latih. Keduanya diperkirakan dibangun 1350.

Dari situ kemudian disepakati sesuatu yang visioner harus dibangun di situs pendiri Berlin, yang dikenal sebagai kota multi-kultur dan multi-iman. (Ism)

Beri Komentar