Malcolm X, Pendakwah Muslim Legendaris Amerika

Reporter : Eko Huda S
Kamis, 26 Juni 2014 09:29
Malcolm X, Pendakwah Muslim Legendaris Amerika
Pada era 1950-an itu, komentar-komentar tentang isu saat itu banyak dimuat media cetak, radio, dan televisi. Saking berpengaruhnya, pemimpin dunia sekaliber Fidel Castro ngebet ingin ketemu.

Dream - Malcolm X. Inilah pendakwah muslim legendaris di Amerika Serikat. Seorang tokoh Afrika-Amerika yang dikenal dengan nama El-Hajj Malik El-Shabazz, yang gigih berjuang untuk hak-hak kaum kulit hitam.

Malcolm dikenal luas setelah bergabung dengan Nation of Islam pada 1952. Dia dikenal dengan doktrin-doktrin keras. Pemisahan kulit hitam dengan putih. Maklum, kala itu politik di AS memang tengah hangat soal ras.

Pidato-pidatonya memiliki efek yang kuat pada pendengar, umumnya mereka yang tingal di kota-kota bagian utara dan barat Amerika. Mereka adalah golongan kulit hitam yang sudah lelah menunggu kebebasan, keadilan, kesetaraan, dan rasa hormat dari orang kulit putih.

Pada era 1950-an itu, komentar-komentar tentang isu saat itu banyak dimuat media cetak, radio, dan televisi. Malcolm X telah banyak dianggap sebagai pemimpin yang paling berpengaruh kedua di Nation of Islam setelah Elijah Muhammad.

Saking berpengaruhnya, pemimpin dunia sekaliber Fidel Castro ngebet ingin ketemu. Presiden Cuba itu bertandang ke New York untuk menghadiri Majelis Umum PBB pada 1960. Dia mengajak Malcolm untuk bertemu empat mata. Pada akhir pertemuan dua jam itu, Castro mengundang Malcolm X untuk mengunjungi Kuba.

Selama sesi Majelis Umum itu pula, Malcolm diundang oleh beberapa pemimpin negara Afrika. Gamal Abdel Nasser dari Mesir, Ahmed Sekou Toure dari Guinea, serta Kenneth Kaunda dari Kongres Nasional Afrika Zambia, menjadi pemimpin yang dia temui.

Malcolm X lahir pada 19 Mei 1925 di Omaha, Nebraska. Ayahnya, Earl Little, seorang pendeta babtis. Sang ibu, Louise Norton Little, seorang ibu rumah tangga setia yang sabar merawat anak-anaknya. Malcolm Little, itulah nama yang diberikan oleh kedua orangtuanya.

Malcolm ditinggal mati sang ayah saat usia enam tahun. Sejak itu, Malcolm kecil hidup dalam kemiskinan. Dia kemudian tinggal di Boston bersama saudara tirinya. Pada awal 1940-an itulah Malcolm hidup di kegelapan. Dia menjadi pengedar narkoba dan penuh kekerasan.

Pada pertengahan akhir 1940-an, dia ditahan. Di dalam penjara itulah Malcolm menemukan Islam. Setelah saudaranya, Reginald, menulis surat untuk dia pada 1948. Pada tahun itu pula, Elijah Muhammad yang memimpin Nation of Islam memintanya melupakan masa lalu dan masuk Islam. Di Nation of Islam pula dia bertemu pasangan hidupnya, Betty. Mereka menikah 1958.

Pada April 1964, Malcolm berangkat haji ke Tanah Suci. Saat berhaji itulah dia melihat persamaan berbagai ras. Semua warna kulit, dari rambut pirang hingga legam, serta mata cokelat sampai biru, semua sama di hadapan Tuhan. Inilah pengalaman yang membawa dia untuk melihat Islam sebagai sarana untuk mengatasi masalah rasial.

Lebih duabelas tahun bergabung, Malcolm memutuskan keluar dari Nation of Islam. Pengumuman itu dia buat 8 Maret 1964. Dia beralasan, kala itu Nation of Islam terlalu kaku. Namun kala itu merebak rumor Malcolm keluar setelah bersitegang dengan Elijah Muhammad.

Kisah Malcolm X berakhir tragis. Dia tewas dibunuh pada 21 Februari 1965. Kala itu, dia bersiap untuk berbicara pada sebuah acara Organisasi Persatuan Afro-Amerika di Audubon Ballroom, Manhattan. Namun terjadi keributan di antara 400 orang penonton. Saat itulah dia ditembak hingga tewas. (Ism, Dari berbagai sumber)

Beri Komentar