Psikiatri: Stigma Berdampak Buruk bagi Pasien Covid-19

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Selasa, 29 Desember 2020 08:45
Psikiatri: Stigma Berdampak Buruk bagi Pasien Covid-19
Stigma Covid-19 muncul lantaran adanya ketakutan akan tertular penyakit.

Dream - Pengajar KSM Psikiatri FKUI, Hervita Diatri, mengatakan, stigma negatif terhadap pasien Covid-19 hingga hari ini masih terjadi. Stigmatisasi akan berdampak buruk bagi pasien yang terpapar Covid-19.

“ Ketika kita memberikan label pada seseorang, terutama karena penyakitnya atau sesuatu yang berbeda di dalam dia sehingga akibatnya kita merasa berbeda dengan orang tersebut dan kemudian mengambil jarak dengan orang tersebut,” kata Hervita dalam talkshow Stop Stigma: Sebar Cinta Saat Pandemi disiarkan melalui YouTube BNPB, Senin 28 Desember 2020.

Stigma merupakan kondisi ketika melakukan labelisasi terhadap orang lain atau sekelompok orang hingga harus menjaga jarak dengan orang tersebut. Menurut Hervita, stigma Covid-19, muncul lantaran adanya ketakutan akan tertular penyakit.

“ Akibatnya memang bisa saja terinfeksi atau kita semua yang dinilai sangat mudah menjadi sumber penularan, kemudian membuat kita menjaga jarak agar kita terkena paparanya,” paparnya.

1 dari 5 halaman

Dampak Stigma

Stigma, tambah Hervita, secara tak langsung dapat berdampak buruk pada pasien Covid-19, yang seharusnya diberi dukungan dari orang-orang sekitar.

“ Memang repotnya stigma ini membuat seseorang dijauhi. Nggak sampai situ, bahkan sampai kemarahan. Sehingga mengapa label itu menjadi sangat mudah,” ungkapnya.

“ Kita tahu ya butuh banget imun. Kalau kondisi saya nggak merasa sejahtera, deketin orang langsung ditutup pintunya, bahkan yang tadinya dekat jadi nggak boleh ngomong. Padahal tidak seharusnya demikian. Karena itu kita merasa sedih, cemas akibatnya daya tahan tubunnya menurun,” tandasnya.

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

2 dari 5 halaman

Yuk Bersama-sama Lawan Stigma Negatif Covid-19

Dream - Stigma negatif terhadap pasien Covid-19 masih terus terjadi di masyarakat. Keluarga pasien yang tak terjangkit dijauhi, bahkan saat sang pasien sudah dinyatakan sembuh dari Covid-19.

Padahal, kita harus terus mendukung para perjuangan pasien Covid-19 untuk sembuh. Dukungan yang positif akan mempercepat proses penyembuhan, minimal membuat hati mereka tenang.

Hingga saat ini, belum ada obat untuk proses penyembuhan Covid-19. Penyembuhan pasien Covid-19 saat ini hanya mengandalkan imunitas tubuh. Imunitas tubuh yang kuat dapat mempercepat penyembuhan Covid-19 bahkan mencegahnya.

3 dari 5 halaman

Jangan stres, mari berjuang

Adi Kurniawan, tenaga medis yang bekerja di garda terdepan menangani pasien Covid-19 di Wisma Atlet, kini tengah berjuang melawan infeksi virus corona memberikan pesan untuk kita semua dan para pejuang Covid-19.

“ Teman-teman selalu semangat sehat selalu, kalian nggak sendirian kok kita sama-sama. Sehat selalu jaga imunnya teman-teman, jangan kepikiran terus omongan orang malah stress kalau dipikirin malah stres kalau dipikirin, fokus aja mau sembuh,” ujar Adi Kurniawan, Selasa, 21 Oktober 2020.

Stigma negatif dari lingkungan sekitar pasti akan terus berdatangan, tapi daripada kita merasa stres dan membuat imunitas tubuh lemah, lebih baik untuk tidak terlalu memikirkan omongan sekitar kita.

Adi banyak becerita tentang kesehariannya dia saat isolasi mandiri di Wisma Atlet karena terkena Covid-19 tanpa gejala.

4 dari 5 halaman

Stigma Negatif, Tantangan Berat bagi Penyintas Covid-19

Dream - Sembuh dari Covid-19 rupanya bukan penanda perjuangan selesai bagi para penyintas. Mereka masih harus berhadapan dengan tantangan baru yang juga berat, yaitu stigma negatif dari masyarakat.

Psikolog Anak dan Keluarga, Mira Amir, menjelaskan, stigma ini muncul akibat minimnya informasi yang diterima masyarakat terkait Covid-19. Bisa pula karena informasi yang sampai telah mengalami distorsi atau mengandung kekeliruan sehingga menghasilkan kesimpulan yang salah.

Tak hanya itu, informasi yang sampai masyarakat bisa jadi tidak utuh. Apalagi, tidak sedikit informasi yang didapat masyarakat bersumber dari 'katanya'.

Mira pun menyarankan masyarakat mencari informasi yang lebih terpercaya. Tentunya dari sumber yang valid seperti pernyataan pakar, dokter, maupun tenaga medis.

" Akan lebih mudah untuk menghilangkan stigma jika ada yang mempersuasi, mengomunikasikan seperti figur yang disegani atau yang mempunyai kompetensi mungkin dari segi pendidikan atau orang yang memang dinilai bijaksana," ujar Mira dalam diskusi online yang disiarkan channel YouTube BNPB.

5 dari 5 halaman

Fokus ke Pemulihan

Mira mengatakan menghapus stigma bukan persoalan mudah. Dia menilai stigma yang terlanjur berkembang tidak bisa dikendalikan karena di luar kontrol pasien sehingga disarankan untuk lebih bijak dalam menanggapinya.

Apalagi untuk pasien positif Covid-19. Mira menyarankan mereka fokus pada pemulihan.

" Begitu positif, lebih baik fokus kepada hal yang bisa kita kontrol atau ubah, bukan omongan orang lain atau stigma," kata dia.

Selain itu, pasien juga diharapkan bisa menerima kondisi yang dialami. Kemudian mengalihkan pikiran ke hal yang lebih positif dan mendukung kesembuhan.

 

Beri Komentar