Amna Al Haddad, Kekuatan Sang Lifter Berhijab

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 23 Maret 2017 21:41
Amna Al Haddad, Kekuatan Sang Lifter Berhijab
Mendobrak kelaziman wanita di dunia olahraga angkat besi. Menjadi lifter berhijab pertama UEA. Inilah kisah Amna Al Haddad.

Dream –Napas wanita itu terengah-engah. Sebatang tongkat besi sepanjang 2 meter terpanggul di bahunya. Di kedua ujungnya terpatri dua lempeng besi puluhan kilogram. Batang besi itu bergerak naik turun mengikuti napasnya.

Sejenak mata wanita itu tajam menatap ke depan. Sesekali berkedip. Mulutnya sedikit terbuka memperlihatkan gigi putih. Berharap menghirup udara lebih banyak. Meski masih terengah-engah menahan beban di bahunya. Sebuah tarikan napas panjang perlahan dihirupnya.

Ahhhh….wanita itu tiba-tiba berteriak sekerasnya. Dia berhasil. Berdiri tegak memanggul besi beban setelah turun hampir dalam posisi menjongkok.

Tapi dia belum berhenti. Kini tiba giliran kedua. Namun raut wajahnya mulai berubah. Tak sekuat percobaan pertama. Badannya dan tanggatnya gemetar. Tanda tak kuat lagi menahan beban. Gubrak! Tongkat dan lempeng besi itu jatuh. Dilepaskan si wanita yang tak kuasa lagi menahannya.

Wanita itu memang rutin angkat besi saban hari. Namun dia bukan atlet lifter wanita biasa. Penampilannya berbeda. Tak terlihat otot-otot melingkar di pergelangan tanganya. Bahkan sehelai rambut pun tampak. Semuanya serba tertutup.

Dunia mengenal wanita itu Amna Al Haddad. Lifter wanita itu berhijab. Amna tak pernah risih apalagi sampai malu. Baju itu selalu dikenakannya baik saat latihan atau bertanding di sejumlah kejuaraan angkat beban.

Dana Amna kini sedang menjadi sorotan. Dia dilirik produsen pakaian olahraga ternama, Nike. Menjadi brand ambassador sebuah pakaian olahraga muslimah. Kisah inspirasinya ditulis berbagai media lokal dan internasional.

Amna Al Haddad© 999fitness.ae


Amna lahir di Dubai, UEA, pada 21 Oktober 1989. Dia tak pernah terpikir menjadi seorang atlet. Darah olahraga tak pernah mengalir dalam tubuhnya. Apalagi untuk olahraga angkat besi. Tak ada contoh sosok yang bisa ditirunya.

Amna kecil hingga remaja tumbuh laiknya gadis kebanyakan. Gaya hidup tak sehat, menyantap tanpa berdosa makanan cepat saja. Menggerakan tubuh apalagi berolahraga tak pernah terlintas di benaknya.

Berat badan Amna pun melar. Badannya menggemuk. Kelebihan beberapa kilogram dari berat tubuh idealnya. Semua bermula saat depresi menyerangnya di sekitar tahun 2009. Makan jadi pelariannya. Hingga akhirnya Amna merasa muak.

“ Suatu hari saya bangun tidur, saya menyadari saya tidak bisa melanjutkan hidup seperti itu, jadi saya berusaha membuat tubuh saya menjalankan aktivitas yang lebih banyak dibutuhkan serta mulai berlari. Saat itulah semuanya dimulai,” ujar Amna kepada My UAE.

Dan Safa Park di Dubai menjadi saksi perubahan itu. Amna tak mau lagi kembali ke pola hidup lamanya. Kehidupannya berubah. Rutin pergi ke tempat fitness dan menjalankan latihan binaraga jadi hobi barunya.

Menggenggam gelar sarjana di bidang ilmu komunikasi, Amna sempat bekerja sebagai jurnalis pada media UEA berbahasa Inggris, The National. Profesi yang berusaha dijalani seimbang dengan kegemarannya pada olahraga binaraga.

Tetapi, panggilan menjadi atlet lebih kuat. Apalagi setelah muncul perasaan tak dihargai dan munculnya konflik kepentinganya. Amna memilih hengkang dari profesi itu.

Dan perjalanan Amna di dunia baru dimulai. Dia Bergabung bersama Crossfiit di tahun 2011. Ini adalah sebuah program fitness dengan beragam olahraga. Crossfit juga terkenal dengan program (workout of the day/ WODs), yang mengenalkan berbagai fungsi olah tubuh.

Disinilah tumbuh benih cinta Amna pada olahraga angka beban. “ Saya jatuh cinta pada angkat beban dan memutuskan fokus mendalami olahraga ini,” ucap Amna.

Sayangnya, fasilitas yang ada UEA tidak cukup mendukungnya menjadi atlet angkat beban profesional. Jangankan angkat beban, fasilitas untuk atlet wanita pun sangat terbatas. Alhasil, dia berlatih dengan fasilitas yang ada.

Hasrat Amna terjawab saat dia mengikuti kejuaraan angkat beban di Columbus, Ohio, Amerika Serikat. Untuk pertama kalinya, dia merasa berdiri sejajar dengan para atlet dengan tujuan yang sama. Hasratnya semakin terpuaskan saat sang pelatih mengirimnya ke fasilitas pelatihan di Akron.

Mimpinya menjadi atlet tangguh terfasilitasi dengan alat yang lengkap dan pelatih baru profesional. Amna pun menjalani program pelatihan cukup ketat. Selain pengalaman, kemampuan Amna meningkat pesat dalam waktu singkat.

Perjuangan itu membuahkan hasil. Amna meraih banyak medali di sejumlah kejuaraan. Dari emas, perak, dan perunggu sudah dikoleksi. Sayang, mimpi tampil di Olimpiade Rio De Jenairo harus pupus. Amna hanya bisa menjadi kandidat atlet wanita UEA. Amna tidak bisa berlaga di Olimpiade Rio de Jenairo, Brasil lantaran mengalami cedera otot.

 

Amna Al Haddad© www.999fitness.ae

Meski begitu, dia tidak terlalu bersedih. Nike mendekatinya. Menjadi brand ambassador untuk pakaian olahraga wanita. Bahkan, Amna merupakan satu-satunya brand ambassador Nike yang berhijab.

Kisah perjuangan Anna menginspirasi Nike untuk membuat produk pakaian ramah hijab. Niatan Nike muncul di tengah larangan penggunaan hijab pada sebagian besar cabang olahraga. Larangan ini muncul dengan pertimbangan cedera atlet tidak dapat diketahui jika mengenakan hijab.

Aman mendukung penuh rencana Nike. Bukan lantaran dia brand ambassador. Aman melihat manfaat lain dari inovasi Nike. Lewat produk hijab sport, Nike membuka pintu bagi para Muslimah untuk bebas berolahraga tanpa harus menanggalkan ajaran keyakinannya.

Dia sadar produk olahraga yang pro hijab tentulah akan menuai banyak reaksi. Tetapi, dia menegaskan kebijakan Nike meluncurkan hijab sport adalah tepat.

“ (Berhijab) adalah fenomena terkini, di mana para wanita merasa perlu memenuhi kebutuhannya -dalam menjalankan keyakinan- dan para atlet profesional telah banyak memperjuangkan hak agar bisa bersaing dengan mengenakan hijab pada bidang yang sama,” kata Amna di akun Facebooknya.

“ Kami membuatnya menjadi berita besar, kami tidak bisa diabaikan,” lanjut dia.

Ya, Amna kini telah memetik buah hasil perjuangan. Beban lempengan besi yang dipanggulnya kini seolah menjadi ringan. Kegigihannya menjadi inspirasi banyak wanita. Tak hanya di UEA, tapi juga muslimah seluruh duni. (berbagai sumber)

(Laporan: Ahmad Baiquni)

Beri Komentar