Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Ferdike Yunuri Nadya/ Dream
Dream - Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, Indonesia masuk urutan kedua penyumbang sampah plastik sejagat pada tahun 2019 dengan 3,21 Juta metrik ton per tahun. Hal ini dikarenakan penggunaan sampah plastik yang terlampau banyak setiap hari namun pengelolaannya begitu minim.

“ Apalagi orang-orang karena pandemi gak banyak keluar, jadi belanja online. Pengiriman kadang menggunakan banyak plastik jadi sampah plastik ini meningkat, hingga mencapai 96 persen dari keseluruhan sampah,” kata Harimula Muharram, GM Product & Sustainability Project Leader EIGER Adventure pada acara Eiger x Lazada, Rabu 11 Januari 2022.
Hal ini menjadikan persoalan sampah selayaknya menjadi prioritas untuk segera ditangani dengan mulai gaya hidup sustainable. Gaya hidup sustainable atau ramah lingkungan mulai dilakoni oleh banyak perusahaan. Mulai dari hal kecil seperti tidak menyediakan sedotan, hingga pembeli harus membawa tas sendiri untuk mengurangi penggunaan plastik.
Melihat hal ini banyak sektor yang sudah menerapkan produksi yang ramah lingkungan. Begitu pula dengan dunia fesyen.
Banyak brand mulai menaruh perhatian besar pada pengelolaan limbah kemasan produk. Salah satu brand yang menerapkan konsep ramah lingkungan ini adalah Eiger yang meluncurkan produk upcycling.

“ Biasanya produk grade B ini kita musnahkan, namun sekarang kami upcycling. Produk tas, sweater dan tas diupcycling untuk memperpanjang usia produknya dan membuat produknya beda-beda,” kata Harimula.
Seperti jaket yang dibuat dari selimut pada bagian depan. Selimut berbahan wol dipotong dan disatukan dengan berbagai sumber selimut sisa pakai. Di bagian belakang tampak kantong yang dibuat dari sisa sampah tas.

“ Upcyling ini membuat benda jadi naik nilainya, misalnya grade b jadi naik. Misal dari tas digunakan untuk pemotongan pola,” kata Siska Nirmala, Zero Waste Adventure & EIGER Brand Ambassador pada kesempatan yang sama.
Jika produknya sudah sustainble, pengirimannya pun juga harus ramah lingkungan. Sebaiknya tidak menggunakan plastik dan menggantinya dengan bahan kertas agar mudah didaurulang.

“ Lazada menggunakan kardus yang lebih ramah lingkungan dan sertifikasi MSI dimana diproduksi dari hutan yang sustainable dan penggunaan kertas serut daur ulang atau honey comb paper yang mengurangi 70 persen plastik,” kata Adiputra Wiharja, SVP Logistics, Lazada Indonesia.
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan