Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Foto: Shutterstock
Dream - Sebuah penelitian mengklaim bahwa beauty blender dan produk makeup lainnya bisa menjadi tempat berkembangbiaknya bakteri mematikan.
Menurut sebuah penelitian yang dilakukan di Universitas Aston, Amerika Serikat, bakteri mematikan telah ditemukan dalam produk makeup populer.
Studi ini menunjukkan bahwa sebagian besar produk makeup yang digunakan seperti beauty blender, maskara, dan lip gloss, ditemukan telah terkontaminasi superbug yang berpotensi mengancam jiwa.
" Produk makeup yang digunakan setiap hari oleh jutaan orang di Inggris terkontaminasi oleh su-perbug yang berpotensi mematikan, seperti E.coli dan Staphylococci," kata pemimpin penelitian Amreen Bashir dari Universitas Aston.
Bashir menambahkan, bakteri tersebut bisa hidup di produk makeup karena sebagian besar tidak pernah dibersihkan atau digunakan jauh melampaui tanggal kedaluwarsa.

Meskipun sebagian besar jenis E. coli tidak berbahaya, beberapa di antaranya dapat menyebabkan diare disertai darah, bahkan gagal ginjal dan kematian.
Studi yang telah dipublikasikan dalam Journal of Applied Microbiology menyebutkan bahwa bakteri yang dapat menyebabkan penyakit mulai dari infeksi kulit hingga keracunan darah jika digunakan di dekat mata, mulut atau luka terbuka itu ditemukan pada sembilan dari sepuluh pro-duk makeup yang diteliti.
Risiko ini diperbesar pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lebih rentan tertular infeksi dari bakteri.
Dalam melakukan studi, para peneliti mengamati beauty blender - spons makeup yang sangat populer digunakan untuk memadukan foundation dan membentuk wajah.

Beauty blender memiliki tingkat kandungan bakteri berbahaya yang paling tinggi.
Sebagian besar (93 persen) disebabkan karena tidak pernah dibersihkan. Sementara lebih dari dua pertiga (64 persen) karena jatuh di lantai saat digunakan.
Menariknya, alat ini sering kali dipromosikan oleh para selebriti. Menurut perkiraan, sebanyak 6,5 juta beauty blender telah terjual di seluruh dunia.
Para peneliti menemukan produk makeup ini sangat rentan terhadap kontaminasi karena sering dibiarkan dalam kondisi lembab setelah digunakan.

Inilah yang menyebabkan beauty blender menjadi tempat berkembang biak yang ideal untuk bakteri berbahaya.
" Faktor kebersihan yang buruk dalam penggunaan makeup, terutama beauty blender, sangat mengkhawatirkan. Kami menemukan bakteri seperti E.coli - yang terdapat pada feses - berkem-bang biak pada produk yang kami uji," kata Bashir.
Studi ini menyarankan produsen dan badan pengawas harus berbuat lebih banyak untuk melin-dungi konsumen.
Misalnya dengan membuat tanggal kedaluwarsa dan petunjuk cara membersihkan produk lebih terlihat pada kemasan.

Sumber: Times of India
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya