Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Minum Kopi. (Source: Shutterstock)
Dream - Kopi luwak selalu dikaitkan dengan buah yang sebelumnya diproses dalam tubuh luwak dan dikeluarkan dalam bentuk kotoran. Penjelasan tersebut membuat beberapa orang bertanya-tanya proses membuat kopi dari kotoran luwak yang berharga mahal itu bisa diolah menjadi kopi dan dikonsumsi.
Dengan proses yang makin canggih, kopi luwak yang dipasarkan dan dikonsumsi saat ini tidak seluruhnya berasal dari kotoran binatang.
Berdasarkan penuturan Concierge Alas Harum, Triasa, kopi luwak berasal dari biji kopi yang ditelan oleh luwak dan tidak dicerna sama sekali. Luwak akan mengeluarkan kotoran berupa biji kopi utuh. Namun, perbedaan biji kopi yang telah ditelan luwak adalah kandungan enzimnya.
" Di dalam perut luwak, biji kopi difermentasi. Jadi, luwak menghasilkan biji kopi yang telah difermentasi," ungkap Triasa dalam acara Media Trip & Experience Octo Mobile by CIMB Niaga di Alas Harum, Bali, Rabu lalu.
Proses fermentasi di dalam sistem pencernaan luwak itu membuat biji kopi yang dihasilkan mengandung enzim.
" Di dalam satu biji kopi, terdapat sela-sela garis dimana enzim dari luwak diserap ke dalamnya. Enzim luwak ini mengandung protein dan dapat menurunkan kadar kafein dari biji kopi arabika," tuturnya.

Foto: Cynthia Amanda Male
Itulah mengapa kopi luwak asli memiliki kadar kafein yang lebih rendah dibandingkan kopi biasa. " Kadar kafeinnya rendah, cuma 0,5 persen. Kalau normal, arabika itu (kadar kafeinnya) 5 persen. Kalau robusta, (kadar kafeinnya) itu 8-12 persen" .

Foto: Cynthia Amanda Male
Meski begitu, enzim yang dihasilkan luwak tidak selalu sama kadarnya. Semakin sehat dan aktif luwak, kandungan enzim pada biji kopi akan semakin tinggi. Sehingga, kadar kafein pada biji kopinya semakin rendah.
Namun jika biji kopi dihasilkan dari luwak yang dipelihara dengan cara dikurung atau tidak dibiarkan aktif, kadar enzimnya akan semakin rendah dan kafeinnya pun lebih tinggi. Itulah mengapa kopi luwak terbaik dihasilkan oleh luwak yang liar dan aktif.

Foto: Cynthia Amanda Male
Rendahnya kadar kafein juga membuat kopi luwak lebih aman dikonsumsi penderita penyakit lambung. Bahkan menurut Triasa, minum kopi luwak memiliki efek yang tidak jauh berbeda dengan mengonsumsi teh.
Meski begitu, kopi luwak tetap terasa pahit dan asam seperti kopi biasa. Hanya saja, rasa asamnya tidak sekuat jenis kopi lainnya. Kopi luwak sendiri memiliki after taste dan aroma yang kuat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya