Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Fitur pada Facebook `Suggest Friend` atau rekomendasi pertemanan diduga turut membantu menyebarkan pemahaman teroris. Dugaan itu muncul dari riset beberapa ilmuwan yang menganalisis aktivitas akun Facebook anggota pendukung ISIS di 96 negara.
Para peneliti yang tergabung dalam Counter Extremism Project mengatakan fitur, rekomendasi pertemanan membantu anggota ISIS berhubungan dengan orang baru.
Salah satu penulis laporan itu, Gregory Waters menjelaskan bagaimana dia dibombardir akun Facebook yang mendukung ISIS usai membuat kontak dengan satu akun Facebook teroris yang aktif.
Sementara itu, peneliti lainnya Robert Postings, mencoba teknik penelitian lain. Dengan mengklik beberapa halaman milik gerakan non-teroris yang menyebar berita Islam di Filipina, dia mendapat selusin rekomendasi pertemanan dengan teroris di negara itu.
" Facebook, dengan hasratnya menghubungkan banyak orang secara tak sengaja menciptakan sistem yang membantu menghubungkan masyarakat dengan ektremis dan teroris," kata Postings kepada The Guardian, Senin, 7 Mei 2018.
Salah satu contoh lain yang dibongkar para peneliti itu berhubungan dengan Indonesia. Seorang simpatisan ISIS asal Indonesia mengirim permintaan pertemanan pada satu teman non-Muslim di New York, Amerika Serikat (AS) pada Maret 2017.
Selama pertukaran awal, pengguna asal AS itu mengatakan dia tak beragama, namun tertarik dengan Islam. Tapi, selama lebih berbulan-bulan, pengguna asal Indonesia itu mengirim pesan radikal dan tautan yang mengarah pada propaganda dukungan ke ISIS.
" Selama enam bulan pengguna asal AS itu berubah dari orang tak beragama jadi Muslim radikal pendukung ISIS," kata Postings.
Facebook telah menonaktifkan lebih dari 500 akun yang terdekteksi mendukung gerakan teror. Tapi, dari hasil penelitian itu terbuktikan Facebook gagal menghalau penyebaran teroris.
Seorang juru bicara Facebook menyangkal keberadaan akun teroris di Facebook.
" Kita bekerja secara agresif untuk memastikan tidak ada teroris atau kelompoknya yang menggunakan halaman ini, dan kami telah menghapus beberapa konten yang mendukung terorisme."
Dalam keterangan yang sama, juru bicara Facebook mengatakan 99 persen sistem bekerja untuk menghilangkan konten yang terkait Alqaeda dan ISIS. " Tapi, tidak mudah melawan terorisme online," kata juru bicara Facebook itu.
" Kami telah dan akan melanjutkan investasi jutaan poundstreling untuk SDM dan teknologi yang mengidentifikasi dan menghapus konten terorisme."
(ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya