Google Chrome (Shutterstock.com)
Dream - Pengguna Chrome baik di Windows, Mac, maupun Linux, segeralah memperbarui browser kamu. Google telah membuat pembaruan dengan menutup zero-day vulnerability melalui patch terbarunya.
Kondisi rentan ini teridentifikasi berasal dari software pustaka font, FreeType, yang sudah dieksploitasi. Kerentanan tersebut ditemukan dan dilaporkan peneliti keamanan Google Project Zero, Sergei Glazunov dan segera diatasi dalam tujuh hari karena kesalahan berada dalam eksplotasi aktif.
Glazunov menyatakan bug yang terlacak sebagai CVE-2020-15999 masuk kategori cacat memori yang dikenal dengan istilah heap buffer overflow pada FreeType. Laporan ini disampaikan Glazunov pada Senin pekan ini dan Google telah meluncurkan versi pembaruan Chrome 86.0.4240.111 pada Selasa, 20 Oktober 2020 lalu.
CVE-2020-15999 masuk dalam kategori berisiko tinggi. Google pun segera mengambil tindakan untuk mengatasi kondisi tersebut.
Respons cepat tim Google mendapat apresiasi dari anggota keamanan Chrome, Andrew R Whalley. Dia menyampaikan apresiasi tersebut lewat akun Twitternya.
Pembaruan juga diluncurkan untuk FreeType, mengingat celah keamanan terdapat pada software tersebut. Sehingga, perbaikan juga diluncurkan lewat FreeType 2.10.4.
Karena risiko keamanan tinggi, para pengguna Chrome disarankan untuk segera memperbarui mesin perambannya.
(Sah, Sumber: Liputan6.com/Agustinus Mario Damar)
Dream - Sejak 2010, Google membayar orang yang menemukan celah keamanan di perambah Chrome. Tiap tahunnya, Google menambah hadiah bagi penemu celah keamanan tersebut.
Google awalnya menghadiahi US$5 ribu hingga US$15 ribu. Kini hadiah itu berlipat menjadi US$30 ribu, setara Rp420 juta.
Dilaporkan CNet, untuk sistem operasi Chrome, yang dipakai Chromebooks, Google meningkatkan hadiah bagi siapa saja yang vbisa menemukan celah keamanan. Hadiah yang diberikan Google tak main-main, sebesar US$150 ribu, atau setara Rp2,1 miliar.
" Hadiah juga akan diberikan bagi yang menemukan celah keamanan di firmware, celah itu akan membiarkan penyerang masuk OS Chrome saat kondisi lock screen," kata Google, Senin, 22 Juli 2019.
Perusahaan raksasa mesin pencairan internet itu akan membiarkan para pencari celah keamanan menemukan bug yang dilempar secara acak di produknya. " Bonus tambahan yang diberikan untuk bug yang ditemukan oleh pencari bug di Chrome Fuzzer Program akan digandakan menjadi US$1.000," ujar Google.
Pemburu celah sistem telah dijalankan sejumlah perusahaan teknologi besar untuk menjaga produknya aman dari penyerang.
Meski demikian, para pemburu celah ini bisa memberikan temuan mereka ke perusahaan lain atau sosok kriminal yang mempunyai kepentingan dengan harga lebih besar.
Dream - Penggunaan Google Maps di tengah masyarakat urban telah berkembang pesat. Aplikasi besutan Google ini telah membantu banyak orang menemukan rute dan lokasi yang ingin dituju.
Tetapi, kondisi unik baru saja menimpa ratusan pegngendara di Colorado, Amerika Serikat. Aplikasi andalan penunjuk jalan ini mengarahkan sebanyak 100 orang pengemudi ke kubangan lumpur.
Salah satu pengemudi yang terjebak yaitu, Connie Monsees. Dia menceritakan kisahnya di podcast ABC News Start Here.
Dilaporkan NPR, Monsees menceritakan awalnya dia terjebak kemacetan saat dalam perjalanan menjemput suami di Bandara Internasional Denver.
" Jadi saya mengeluarkan Google Maps untuk melihat apakah ada cara yang lebih baik untuk menuju bandara," kata Monsees.
Instingnya bekerja, dia mulai rute yang disarankan Google Maps. Tapi, rute itu justru mengarahkan ke jalan tanah.
" Saya mengikuti rute ini dan berpikiran saya adalah, 'Yah, ada begitu banyak orang yang pergi, itu pasti baik-baik saja,'" ujar dia.
Tapi, Monsees tak tahu, hujan berhari-hari telah menciptakan kubangan lumbur. Mobil demi mobil masuk dan macet.
Beruntung mobil milik Monsees bersistem roda 4WD. Sehingga, dia akhirnya bisa keluar dari kubangan lumpur.
Dia bahkan dapat membantu dua orang terlantar lainnya. Tetapi yang lain akhirnya terjebak dalam kotoran untuk waktu yang lebih lama.
" Saya tidak tahu masalah pada Google," ujar dia.
Google mengatakan, jalan itu tidak ditandai sebagai pribadi. " Kami mempertimbangkan banyak faktor ketika menentukan rute mengemudi, termasuk ukuran jalan dan rute. Kami selalu bekerja untuk memberikan arah terbaik, masalah dapat timbul karena keadaan yang tidak terduga, seperti ketika kondisi cuaca mempengaruhi kualitas jalan. "