Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
(c) Shutterstock
Masa pandemi seperti sekarang mengharuskan Sahabat Dream untuk melakukan segala aktivitas dari rumah. Nggak heran kalau berbagai kebijakan diambil seperti Work From Home (WFH) buat para pekerja, dan Study From Home (SFH) bagi para pelajar. Namun sadar atau nggak, WFH atau SFH bikin kamu jadi lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain gadget, entah itu untuk bermain games, scrolling timeline social media, atau melakukan agenda meeting online.
Nggak masalah sih asal kamu tetap aware ya sama kesehatan kamu. Contohnya adalah dengan mewaspadai bahaya sinar biru yang dipancarkan oleh gadget atau sering disebut Blue Light.

Blue light atau yang juga akrab disebut sinar biru adalah cahaya yang dipancarkan dari gadget seperti smartphone, tablet, laptop, PC, lampu LED, atau perangkat elektronik lainnya. Cahaya ini memiliki energi paling tinggi jika dibandingkan dengan jenis cahaya lainnya. Blue Light juga terdapat pada sinar matahari, tapi faktanya matahari yang dikenal memancarkan ultraviolet dan dapat memunculkan efek negatif, ternyata hanya terdiri dari 5% dari total spektrum sinar yang dipancarkan oleh matahari. Komposisi Blue Light di matahari rata-rata bervariasi, bergantung pada waktu, lokasi, dan musim. Akan tetapi, rata-rata propori sinar biru yang ada pada sinar matahari sekitar 25%.

Nggak cuma ada pada sinar matahari, Blue Light juga dipancarkan dari gadget yang sering kamu pakai di masa pandemi seperti sekarang, Sahabat Dream. Sekitar 60% orang menghabiskan 6 jam dalam sehari buat menggunakan gadget. Asal disadari, ini bisa bikin kulit kamu jadi lebih rentan terkena beragam dampak negatif. Blue Light bisa menyebabkan kulit memproduksi Reactive Oxidative Stress atau stres pada kulit yang dapat menyebabkan penggelapan kulit. Selain itu, proses regenerasi kulit juga bakal terganggu sehingga efek panjangnya dapat mengakibatkan penuaan dini.

Dengan energi yang tinggi dan jarak dekat dengan mata, Blue Light mampu menembus dan merusak lapisan kulit lebih dalam. Jika dibiarkan, exposure sinar biru dapat mengakibatkan kerusakan kulit jangka panjang seperti penuaan dini hingga kanker. Mengerikan banget, kan? Maka dari itu, kulit butuh perlindungan terhadap Blue Light, terlebih di masa Work From Home dan Study From Home yang membuatmu banyak menghabiskan waktu di depan layar gadget.
Kira-kira proteksi seperti apa ya yang dibutuhin kulit biar terlindung dari radiasi Blue Light? Nggak perlu khawatir karena Wardah Skin Innovation selalu menghadirkan inovasi terus-menerus untuk menyempurnakan perawatan kulit wanita Indonesia. Produk perlindungan Blue Light seperti apa yang dipersiapkan? Tungguin terus update-nya di sini, ya!
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya