7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - Tenun menjadi salah satu kain wastra primadona masyarakat Indonesia. Kain yang menggabungkan benang secara memanjang dan melintang ini biasanya terbuat dari serat kayu, kapas, dan sutra.
Proses pembuatan kain tenun tidaklah mudah, selain butuh kesabaran dalam menenun, pewarnaanya pun cukup selektif.

Pewarna alami atau pewarna sintetis yang ramah lingkungan kerap dipilih agar tetap sustainable.
Pembuatan yang membutuhkan kesabaran hingga minat generasi muda yang semakin rendah membuat tenun asli terkadang mengalami penurunan produksi.

Tak ingin kain tenun punah, Perkumpulan Cita Tenun Indonesia (CTI) yang diinisiasi Okke Hatta Rajasa melakukan pelatihan dan pengembangan perajin untuk meningkatkan produksi tenun.
Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima Dream, CTI pun memperoleh pengakuan internasional dari Fashion 4 Development (F4D) atas upayanya dalam melestarikan dan memperkaya tenun Indonesia.
Program kerja utama CTI adalah pemberdayaan perajin tenun tradisional di Indonesia melalui pembinaan komprehensif dan ekstensif selama satu tahun.
Program ini bertujuan untuk mengedukasi perajin tenun lokal untuk bekerja lebih efektif, efisien, dan ramah lingkungan, selain memperluas wawasan mereka tentang pasar mode kontemporer.

Kini, Cita Tenun Indonesia memiliki 28 sentra binaan di berbagai pulau di Indonesia. Selama program pembinaan, Cita Tenun Indonesia bermitra dengan perancang mode dan tekstil, antropolog dan sosiolog, ahli merek dan pewarnaan, serta pengontrol kualitas, seluruhnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ekosistem desa perajin tenun.
Di penghujung program, para desainer mode yang bermitra akan membuat sebuah koleksi dengan menggunakan kain tenun hasil pelatihan tersebut dan dipresentasikan pada sebuah peragaan busana di Jakarta.
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?